Boediono Paling Berpeluang Gantikan SBY

Pemerintahan SBY-Boediono baru akan berusia satu tahun pada 20 Oktober mendatang. Tetapi patut diduga kekecewaan terhadap kinerja pemerintahan ini sudah sampai ke ubun-ubun sementara kalangan.

Kekecewaan tersebut dapat dilihat, antara lain, dari ramainya pembicaraan mengenai figur-figur yang pantas menjadi Presiden melalui jalur pemilihan presiden 2014 nanti. Sejumlah nama mulai disebutkan sebagai capres. Mulai dari ketua umum partai politik pendukung pemerintah seperti Aburizal Bakrie dari Partai Golkar dan Hatta Rajasa dari Partai Amanat Nasional (PAN), sampai mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan mantan calon wakil presiden Prabowo Subianto. Tokoh oposisi, seperti DR. Rizal Ramli, juga dinilai pantas.

Kekecewaan terhadap pemerintahan SBY itu juga dapat dilihat dari begitu ramainya tokoh-tokoh nasional menyampaikan kritik dan kecaman terbuka kepada Presiden SBY. Hari Jumat lalu (8/10), misalnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengundang, tidak tanggung-tanggung, 46 tokoh nasional ke kantornyad di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat. Hampir semua yang hadir dalam pertemuan itu menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan SBY.

Ada yang bahkan mengajak untuk merebut kekuasaan dari tangan SBY.

Sehari kemudian (Sabtu, 10/10), di PB Nahdlatul Ulama, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, kelompok aktivis berkumpul untuk memulai Gerakan 101010. Adhie Massardi, salah seorang penggagas Gerakan 101010 ini, dengan tegas mengataan, untuk menghindari kerusakan negara dan bangsa yang lebih fatal, pemerintahan SBY yang disebutkan sebagai pemerintahan citra, harus sudah berakhir sebelum 2014.

Mengganti Presiden? Mungkinkah? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita melihat pada aturan yang diterakan Konsitusi kita. Dalam Pasal 8 UUD disebutkan bahwa ada tiga hal yang berkaitan pergantian presiden dan/atau wakil presiden.

Ayat (1) Pasal 8 UUD mengatakan:

“Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya.”

Ayat (2) Pasal 8 mengatakan:

“Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya dalam waktu enam puluh hari, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden.”

Dan terakhir, ayat (3) mengatakan:

“Jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama. Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya, samapi berakhir masa jabatannya.”

Dua ayat pertama merupakan hasil amandemen ketiga pada November 2001 dan ayat terakhir merupakan buah dari amandemen keempat pada Agustus 2002. Hanya ayat (1) dan ayat (3) yang menyinggung tentang pergantian presiden. Ayat (1) mengatur tentang pergantian presiden bila hanya presiden yang berhalangan tetap. Sementara ayat (3) mengatur tentang pemilihan presiden dan wakil presiden baru di MPR bila presiden dan wakil presiden yang berkuasa berhalangan tetap.

Dari kedua skenario di atas yang paling mungkin terjadi, sejauh ini, adalah skenario ayat (1), yakni dalam hal presiden berhalangan tetap. Sementara skenario ayat (3) terlihat begitu rumit karena menjatuhkan presiden saja sudah merupakan hal yang sulit, apalagi menjatuhkan presiden dan wakil presiden bersamaan.

Hal lain yang membuat skenario ini merepotkan karena pemilihan presiden dan wakil presiden di lantai MPR membawa konsekuensi pada terjadinya konstelasi politik baru yang sangat fundamental.

Sulit membayangkan partai politik akan dengan rela mengikuti skenario yang bisa jadi menghilangkan porsi kekuasaan yang sedang mereka genggam.

Skenario ayat (3) ini pun semakin sulit diwujudkan mana kala kita menyadari bahwa sampai kini masih tidak terlihat pemusatan dukungan pada hanya salah satu atau sedikit figur alternatif saja. Sejauh ini masih terlalu banyak figur “capres” sehingga tidak mudah mencapai kesepakatan politik baru di kalangan elit.

Bila skenario ayat (1) yang paling mungkin terjadi, maka adalah Wakil Presiden Boediono yang paling mungkin menggantikan Presiden SBY ketika lapangan sudah begitu becek dan kelompok elit sepakat untuk mengambil keputusan mengenai pergantian elit tanpa harus menelan biaya politik dan sosial yang begitu besar.

Bagaimana menurut Anda?

8 thoughts on “Boediono Paling Berpeluang Gantikan SBY”

  1. satu pertanyaan yang muncul seandainya Boediono menjadi pengganti SBY. Pertanyaan tersebut adalah:
    1. Mampukah Boediono “berpikir Diluar Kotak” merubah kebiasaan-kebiasaan pemerintah selama ini
    2. Mampukah Boediono merubah paradigma Negara dari kekuasaan menjadi pelayan (uu pelayanan publik yang di sahkan DPR tahun 2009 harus benar-benar dilaksanakan eksekutif)
    3. Mampukah Boediono merubah otak neolibnya dan tidak coba-coba menswastakan barang-barang milik negara
    4. samakah nanti Boediono dengan Soekarno atau tidak jauh beda dengan Niccolò Machiavelli (II Principe)
    salam kenal bang!!!

    1. Aloha,
      Terima kasih sudah mampir dan berkenan memberi komentar.

      1. Boediono tidak akan berpikir di luar kotak.
      2. Negara dan rakyat Indonesia akan menjadi *pelayan* tuan besar tempat Boediono mengabdi selama ini.
      3. Karena poin satu dan dua di atas, jelas dia tidak akan mengubah otak neolibnya.
      4. Karena poin satu, dua, dan tiga di atas, jelas Boediono tidak sama seperti Bung Karno.

      Salam kenal kembali, Bung.
      Mahalo.

    1. Menurut saya, skenario 1 adalah skenario yang paling mungkin sejauh ini. Tetapi, saya tidak menyukai skenario ini karena: lepas dari mulut macan, masuk mulut buaya.

      Saya menghormati Pak Habibie, dan Boediono tak sama dengan Pak Habibie.

      Salam.

  2. lantas kira – kira siapa yang pantas yang akan menggantikan pemimpin kita sekarang ini bang ketika SBYE diramalkan akan turun, apakah cara ayatulloh Khomeni di Iran yang akan digelar bangsa ini atau cara reformasi ulang dan menjalankan kaidah-kaidah reformasi seperti yang dijalankan di Afrika Selatan.
    Bingung mencari pemimpin yang berkarakter dan mandiri tanpa sistem yang selama ini dijalankan tetap berfungsi.. menjadi mimpi selamanya mencari pemimpin yang amanah dan peduli rakyat kalau pola pikir para elit politik tetap kepada idealisme parttai. bahkan sepanjang paradigma negara tidak dirubah maka negeri ini tidak akan menjadi negara idiot. Terkecuali kta sedikit bersabar dan percaya terhadap ramalan kita Jayabaya (Joyoboyo)

  3. Bung Teguh, salam kenal Bung..
    Boediono sangat tidakpantas memimpin bangsa ini……ia ibarat kancil pilek yang lagi membebek pada Tuan besarnya….
    Negeri ini hanya bisa diperbaiki setelah elitnya mengerti betul makna revolusi……
    Nabi Muhammad melakukan revolusi
    Thomas Jefferson melakukan revolusi
    Iran revolusi
    Perancis revolusi
    China revolusi
    Jepang juga revolusi…
    Turki juga merevolusi dari Ottoman Empire ke Turki Modern Bung…

    Lalu Indonesia kita ini bagaimana…mau membebek terus pada Amerika dan antek2nya….atau terus menjadi bangsa budak di negeri sendiri…
    kita ini sudah tidakpunya apa-apa Bung…..

    1. saya setuju dengan anda.

      dalam beberapa diskusi dengan beberapa, katakanlah tokoh, saya mendapat kesan bahwa mereka menganggap sby sebagai persoalan, sementara boediono sebagai salah satu alternatif untuk memecahkan persoalan itu.

      pandangan yang memprihatinkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s