Rachmawati: Presiden SBY Kehilangan Orientasi

Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rachmawati Soekarnoputri, menyerukan reoreantasi nasional untuk kembali memperjelas arah perjalanan Indonesia.

Seruan itu disampaikan putri Bung Karno itu ketika berbicara di “halal bihalal plus” di kediaman ekonom senior Rizal Ramli, Senin malam (20/9).

Rachmawati yang didaulat berbicara setelah tuan rumah, Rizal Ramli, menyambut pertanyaan Rizal Ramli: apakah pemerintahan SBY perlu dipertahankan sampai 2014.

“Bila ditanyakan, apakah harus menerima keadaan, (saya ingin mengatakan) memang betul pemerintah sekarang, terutama Presiden SBY, kehilangan oerientasi. Tidak jelas kita mau kemana, tidak ada visi dan misi,” ujar Rachma.

Dia juga mengaitkan disorientasi SBY itu dengan amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali yang membuat Konstitusi Indonesia itu menjadi tidak jelas.

“Kita jadi neolib. Tidak ada perlindungan maksimal yang diberikan negara kepada rakyat. Kita harus reorientasi dan menyatakan kembali mau kemana kita. Kita boleh mengganti, tetap selama arah perubahan itu tidak jelas, besok kita akan menghadapi persoalan yang sama,” kata Rachma lagi menekankan pentingnya upaya membuat blue print yang lebih nasionalistik sesuai amanat founding fathers.

One thought on “Rachmawati: Presiden SBY Kehilangan Orientasi”

  1. sangat sepakat mengembalikan kedaulatan ekonomi harus tetap berada di tangan sendiri yang artinya harus menjadi “Tuan Rumah di Negeri Sendiri” dengan segala kebijakan dan keputusan untuk menentukan pengambilan keputusan, namun dalam menjalankan segala cita dan harapan untuk menjadi negara besar, bukan berarti menjauhi bantuan asing . . kita bisa menerima bantuan asing selama tidak mengikat dan mengebiri diri menjadi budak asing . . sebab tanpa bantuan asing khususnya dalam bantuan keuangan sangat sulit untuk dilakukan karena keuangan Bangsa setelah rusak selama 32 tahun dalam rezim terdahulu telah mengakibatkan ketrepurukan dalam soal keuangan . . yang mengakibatkan devisa negara yang masih ada, jumlahnya masih sangat kecil bagi ukuran INDONESIA

    kita juga harus mengakui sebagian besar elemen Bangsa, baik pejabat maupun rakyatnya masih belum siap untuk hidup prihatin . . kalau hanya ngomong saja sebagian besar siap untuk hidup prihatin, tapi kenyataannya yang benar-benar mau menjalani hidup yang prihatin jumlahnya hanya sedikit, itu sebagian besar memang keadaan tidak memungkinkan dan yang kedua, mereka-mereka yang konsis antara ucapan untuk hidup prihatin dan sikap keseharian yang juga sederhana, meskipun mereka tergolong orang mampu, namun jumlahnya sangat sedikit sekali apabila dibandingan dengan mereka yang pandai berucap namun tidak sesuai dengan tingkah laku keseharian.

    padahal sebagai Pemimpin seharusnya menjadi panutan dan teladan masyarakat adalah dibutuhkan figur-figur yang konsisten, figur-figur yang jujur, sehingga apabila suatu ketika menjadi pengambil keputusan rakyat sudah tidak lagi ragu terhadap komitmennya, sehingga cita-cita para pendiri Bangsa membangun Bangsa yang besar dan jelas orientasi Nasionalnya akan tercapai dan terlaksana apabila mempunyai Pemimpin yang konsisten terhadap apa yang telah diucapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s