Kemarahan SBY Berpeluang Kandaskan Darmin Nasution

Ini memang bukan kali pertama Presiden SBY memperlihatkan kemarahan di depan publik pada acara-acara penting kenegaraan.

SBY pernah menggebrak meja ketika seorang bupati tertidur saat ia berpidato di acara Lemhanas yang diikuti pimpinan daerah dan DPRD di Istana Negara. Ia juga pernah marah kepada menteri-menteri yang masih tertawa menjelang sidang kabinet. Tawa mereka, menurut SBY tidak pantas karena di saat bersamaan negara tetangga sedang memprotes asap yang dihasilkan kebakaran hutan Indonesia.

Kemarahan SBY bukan fenomena beberapa tahun terakhir. Ingatkah Anda di awal periode pemerintahannya, SBY juga sudah mulai marah-marah. Ia pernah mengatakan dirinya tidak peduli bila popularitasnya anjlok. Pengamat politik dari Research Institute for Democracy and Peace (Ridep), almarhum Ibrahim G Zakir, ketika itu mengatakan, SBY gagal membaca kritik masyarakat yang sebetulnya ditujukan pada kinerja kabinet. Bukan pada pribadi anggota kabinet, apalagi pada pribadi Presiden SBY yang baru berkuasa beberapa bulan.

Setahun lalu, tepatnya di bulan Juli, Presiden SBY juga menampakkan kemarahan yang luar biasa. Di halaman Istana Negara ketika itu. Presiden SBY memberikan pernyataan beberapa jam setelah dua ledakan terjadi di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Pusat. Ia mengecam pihak, yang menurut laporan intelijen yang diterimanya, ingin menghabisinya nyawanya. Ia juga mengaitkan bom Mega Kuningan itu dengan protes sejumlah kalangan atas proses dan hasil Pilpres 2009 yang baru berlalu.

Simaklah penggalan kalimat SBY setahun lalu itu:

“Saya harus mengatakan untuk pertama kalinya kepada rakyat Indonesia bahwa dalam rangkaian pemilu legislatif dan pemilihan presiden serta wakil presiden tahun 2009 ini, memang ada sejumlah informasi intelijen yang dapat dikumpulkan oleh pihak berwenang. Sekali lagi ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun terus kita pantau dan ikuti. Intelijen yang saya maksud adalah adanya kegiatan kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya, foto SBY, dijadikan sasaran. Dijadikan lisan tembak. Ini saya tunjukkan.

Ada rekaman videonya, ini mereka yang berlatih menembak. Dua orang menembak pistol. Ini sasarannya. Dan ini foto saya dengan perkiraan tembakan di wilayah muka saya dan banyak lagi. Ini intelijen, ada rekaman videonya, ada gambarnya. Bukan fitnah, bukan isu. Saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu. Masih berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu.

Ada pula rencana untuk pendudukan paksa KPU, pada saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. Ada pernyataan, akan ada revolusi jika SBY menang. Ini intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lagi yang sekarang berada di pihak yang berwenang.”

Karena rekam jejak kemarahan itu, tidak banyak yang kaget ketika kemarin (Rabu, 21/7) di depan sekitar 300 pimpinan Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Bea dan Cukai Kementrian Keuangan, Presiden SBY memperlihatkan kekecewaaannya dengan terang benderang. Sebelum berpidato pun, SBY sudah memperlihatkan air muka yang masam.

“Saya dalam bahasa terang juga harus menyampaikan kekecewaan saya karena masih saja terjadi korupsi di lingkungan saudara yang dilakukan oknum petugas pajak. Masih ada petugas pajak yang kejahatannya itu luar biasa, tidak pernah terbayangkan,” ujar SBY.

Sebelumnya ia bercerita bahwa mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah mengharapkan dirinya bertemu dengan pimpinan Ditjen Pajak menyusul terbongkarnya sejumlah kasus korupsi di lingkungan Ditjen Pajak. Tetapi SBY menolak.

”Jawaban saya, waktu itu kurang tepat bertemu karena saya masih sangat kecewa. Lebih baik bertemu di satu saat ketika sudah bisa saya tata emosi saya dan sudah ada langkah yang baik dan nyata yang dilakukan Dirjen Pajak. Ini berlaku pula bagi Dirjen Bea dan Cukai,” demikian SBY.

Ini pun bukan kemarahan pertama SBY tentang pajak. Di awal bulan Juli ini, di puncak peringatan Hari Bhayangkara, ia juga sudah menyinggung soal korupsi di lingkungan Pajak. SBY meminta polisi menindak tegas para pengemplang pajak yang merupakan modal utama pembangunan.

Hal yang barangkali tidak disadari SBY adalah, pernyataan kerasnya tentang korupsi di lingkungan Pajak, baik yang disampaikan di Hari Bhayangkara maupun yang disampaikan kemarin di Istana, dapat berimbas pada uji kelayakan calon tunggal Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution.

Darmin Nasution yang kini adalah Pjs. Gubernur Bank Indonesia pernah menjabat sebagai Dirjen Pajak di tahun 2006-2007. Ia disangkakan publik memiliki kaitan dengan sejumlah kasus pengemplangan pajak. Dua yang ramai dibicaraan publik adalah kasus pajak Paulus Tumewu pemilik Ramayana dan kasus pajak Halliburton Indonesia, anak perusahaan Halliburton milik mantan wakil presiden AS Dick Cheney.

Bersamaan dengan kemarahan SBY kemarin, kasus pajak Paulus Tumewu juga dipertanyakan anggota Komisi XI di lantai fit and proper test. Darmin tentu saja mengelak. Dia mengatakan, kasus itu sepenuhnya berada di tangan Kejaksaan Agung yang dikirimi surat oleh Menteri Keuangan ketika itu, Sri Mulyani. Anggota Komisi XI yang lain, karena tidak puas dengan jurus ngeles Darmin, mengancam akan menghadirkan Jaksa Agung ketika itu Abdulrahman Saleh untuk mengkonfirmasi jawaban Darmin.

Entah apakah dua kejadian ini memang saling berhubungan, entah apakah memang SBY mengirimkan sinyal ke arena uji kelayakan tentang dukungannya yang berkurang untuk Darmin Nasution. Entah apakah kedua hal ini tidak berhubungan dan hanya terjadi kebetulan.

Tetapi yang jelas, publik bisa mengasosiasikan kemarahan SBY tentang korupsi di lingkungan Ditjen Pajak dan uji keyakan calon tunggal Gubernur BI. Dan, kalau anggota Komisi XI, termasuk dari Partai Demokrat, membaca kekecewaan SBY terhadap korupsi di Ditjen Pajak ini sebagai sinyal dukungan yang tak bulat lagi, langkah Darmin Nasution menuju kursi Gubernur BI bisa kandas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s