Sedikit tentang Sejengkal Tanah Tuhan di Negeri Senja

Berada di pojok barat belahan utara Afrika, di masa lalu negeri yang kini dikenal sebagai Kerajaan Maroko pernah memiliki pengaruh yang begitu besar dalam perkembangan peradaban Islam dan dunia.

Di utara Maroko dipisahkan Lautan Mediterania dengan Eropa, di sebelah timur berbatasan dengan Aljazair yang sebagian besar kawasannya di masa lampau merupakan bagian dari Kerajaan Maroko dan di sisi tenggara dan selatan ia berbatasan dengan Mauritania. Di tengah negeri ini terbentang pegunungan Atlas dan Anti Atlas dengan puncak tertinggi ada di Gunung Toubkal (4176 meter). Pegunungan Atlas yang puncaknya ditutupi salju abadi berperan banyak memasok air bersih lagi segar untuk kota-kota yang berada di kawasan tengah Maroko.

Nama resmi Kerajaan Maroko dalam bahasa Arab adalah Al Mamlaka al Maġribiyya yang bila diterjemahkan secara sederhana ke dalam bahasa Indonesia berarti “Kerajaan Barat”. Sejumlah sejarawan sejarah abad pertengahan menyebut Maroko dengan istilah “Barat Terjauh” atau Al Maghrib al Aqsa untuk membedakannya dengan kawasan lain di utara Afrika, Aljazair yang disebut sebagai “Barat Tengah” atau Al Maghrib al Awsat dan Tunisia yang disebut sebagai “Barat Dekat” atau Al Maghrib al Adna.

Adalah lidah orang Eropa, Spanyol dan Portugis, yang dianggap “mempopulerkan” istilah Maroko. Orang Spanyol menyebutknya Marruecos, dan orang Portugis menyebutnya Marrocos. Tetapi kedua kata ini sebenarnya tidak asli berasal dari lidah mereka melainkan diambil langsung dari bahasa Latin abad pertengahan, Marroch, yang merujuk pada Marrakesh yang merupakan ibukota negeri ini di era Dinasti Almoravid dan Dinasti Almohad.

Kata Marrakesh, atau ejaan lain menyebutnya Marrakech, disebutkan berasal dari bahasa Amazigh atau Berber, Murakush, yang berati Tanah Tuhan. Sejak sejak berdiri di abad ke-12 hingga kini Marrakesh dikenal sebagai Kota Merah karena rumah dan gedung-gedung di kota itu hampir semuanya berwarna merah terakota. Berbagai peninggalan Dinasti Almoravid dan Dinasti Almohad masih dapat ditemukan di Marrakesh dalam keadaan terawat baik. Mulai dari Menara Masjid Koutoubia dan lapangan terbuka Djemaa el Fna yang menjadi arena festival setiap senja hingga hampir tengah malam, sampai Istana Bahia dan kompleks makam Sultan Ahmed al Mansour ad Dahbi yang meninggal dunia di awal abad ke-17. Tembok yang mengelilingi medina atau kota tua Marrakesh pun masih kokoh berdiri.

Orang-orang Parsi dan Urdu juga menyebut Maroko sebagai Marrakesh. Sementara orang-orang Turki menyebutnya Fes, merujuk pada Fes, ibukota Maroko di era Dinasti Idrisid dan Marinid, yang sejak didirikan di abad ke-8 hingga kini dikenal sebagai pusat perkembangan peradaban Islam di kawasan itu.

Sastrawan cum jurnalis Indonesia, Seno Gumira Ajidarma lain lagi. Terinspirasi oleh Sahara di selatan Maroko, ia menyebut negeri ini sebagai Negeri Senja dalam salah satu novelnya yang berjudul sama. Negeri Senja digambarkan Seno sebagai sebuah negeri dimana matahari tergantung di langit barat dalam posisi hampir tenggelam, namun tidak bisa tenggelam. Dengan setting khas padang pasir Gurun Sahara negeri yang tak pernah mengenal malam, pagi maupun siang ini dihidupi berbagai kisah pertikaian dan intrik politik juga dendam dan cinta membara.

Batu pertama podansi Maroko modern diletakkan pertama kali oleh pendiri Dinasti Idrisid, Raja Idris bin Abdallah yang pada tahun 789 memulai pembangunan kota Fes yang kemudian diselesaikan oleh penerusnya Idris II pada tahun 809. Idris bin Abdillah memutuskan hubungan dengan Bani Abbasiah di Baghdad dan Bani Ummayah yang ketika itu berkuasa di Andalusia, Spanyol sekarang. Sejumlah catatan menyebut ia masih memiliki hubungan dengan penguasa-penguasa Bani Ummayah yang didirikan oleh keturunan Muawiyyah bin Abu Sofyan di Damaskus, atau Syam, di Suriah.

Kendati diwarnai oleh intrik politik dan jatuh bangun berbagai dinasti sejak ia berdiri, namun Maroko tidak pernah jatuh ke tangan penguasa dari belahan lain. Bahkan Turki Ustmania yang suatu kali begitu berkuasa dalam sejarah dunia, menguasai seluruh kawasan Asia Tengah dan timur Tengah hingga Eropa, pun tak bisa menginjakkan kaki di Maroko.

Maroko baru takluk di tangan Perancis pada tahun 1912, ketika Sultan Abdehafid menandatangani Perjanjian Fes pada tanggal 3 Maret 1912.

Dalam Perjanjian Fes, Maroko dibagi dua: sebelah utara berada di bawah proteksi Perancis, dan sebelah selatan berikut beberapa kantong di utara dikuasai oleh Spanyol.

Perjanjian Fes merupakan buah dari semangat kolonialisme bangsa-bangsa Eropa di akhir abad ke-19. Dalam Konferensi Berlin yang berlangsung antara 15 November 1884 hingga 26 Februari 1885 dipimpin Kanselir Jerman Otto von Bismarck, pemimpin negara-negara Eropa sepakat untuk membagi-bagi tanah benua Afrika di antara mereka.

Pada tahun 1914 di puncak masa yang disebut sebagai Scramble for Africa nama lain untuk devide et impera atau pecah belah dan jajah itu, enam negara besar di Eropa menguasai 25 juta mil persegi tanah Afrika. Setengah dari luas itu dikuasai oleh Inggris. Adapun Spanyol hanya menguasai kawasan seluas 135 ribu mil persegi yang terbagi atas dua wilayah, Saguia el Hamra dan Rio de Oro, yang merupakan bagian dari Kerajaan Maroko di sebelah selatan sebelum gelombang kolonialisme Eropa menelan Afrika.

Setelah era dekolonialisasi menyusul berakhirnya Perang Dunia Kedua, babak Scramble for Africa meninggalkan luka dan di banyak negeri di Afrika menumpahkan darah, tidak terkecuali di Maroko, Tanah Tuhan.

Advertisements

2 thoughts on “Sedikit tentang Sejengkal Tanah Tuhan di Negeri Senja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s