Pandai Besi di Mata Ibu Obama

07 Desember 2008 | 10:02 wib
Pandai Besi di Mata Ibu Obama

Judul:
Pendekar-Pendekar Besi Nusantara, Kajian Antropologi tentang Pandai Besi Tradisional di Indonesia
Penulis:
Stanley Ann Dunham
Penerbit:
PT Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan:
Pertama, 2008
Tebal:
219 halaman

”WHEN I think about my mother, I think that there was a certain combination of being very grounded in who she was, what she believed in. But also a certain recklessness. I think she was searching for something. She wasn’t comfortable seeing her life confined to a certain box.”

Ini adalah pernyataan Barack Obama tentang ibunya kepada Amanda Ripley, wartawan Majalah Time di Honolulu. Bahwa ibunya, S Ann Dunham, adalah seorang perempuan yang teguh pendirian tapi juga ”agak ceroboh”. Ia selalu mencari sesuatu yang baru. Ia tidak pernah nyaman bila hidupnya hanya terkurung di tempat tertentu.

(Dua kali pernikahannya dengan dua laki-laki asing, bukan kulit putih pula — Obama Sr dan Lolo Soetoro– menunjukkan ia bukan perempuan ”konvensional”. Ia berani berbeda dari yang lain, berani menentang arus besar).

Namun seperti kesaksian Maya Soetoro-Ng, adik tiri Obama sesama ibu, sang ibu juga mudah menangis bila melihat penderitaan orang lain. Tetapi ibunya tak pernah takut. ”Ibu adalah seorang yang hebat. Ia biasa membonceng sepeda motor dan banyak melakukan pekerjaan di lapangan. Risetnya tajam dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia paham inti masalah dan juga tahu siapa yang paling bertanggungjawab,” kata Maya Soetoro.

Untuk lebih memahami isi buku ini, laporan utama Time edisi 21 April 2008 itu (juga laporan The New York Times yang dilampirkan di buku ini) terasa sangat pen ting. Kita jadi tahu, betapa Ann Dunham atau Ann Soetoro adalah seorang perempuan tidak biasa. Ia suka bekerja. Ia tekun dan ulet. Ia banyak kawannya, selalu berpikir positif. Ia warga asing, tetapi kecintaannya pada kebudayaan Indonesia begitu tinggi. Kita jadi malu terhadap ibu kandung Presiden Terpilih Amerika Serikat ini.

Mempromosikan
Betapa tidak? Pada saat umumnya warga masyarakat dan juga pejabat negeri ini tak peduli dengan nasib para pandai besi dan perajin lain, Ann Dunham tidak hanya memperhatikan, tetapi juga mempromosikannya. Pada saat para pejabat anut grubyuk dengan pandangan pengamat bahwa industri pedesaan di negeri ini akan segera punah, perempuan asing itu justru menulis dalam disertasinya tentang kemampuan industri pedesaan bertahan dan bahkan berkembang pesat. Judul di sertasi yang dipertahankan di Universitas Hawaii sudah berbicara sendiri: Peasant Blacksmitings in Indonesia: Surviving and Thriving Against All Odds. Penelitiannya terpusat di desa pandai besi Kajar di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pengalaman kerjanya belasan tahun bekerja sebagai staf USAID di Indonesia, juga konsultan di Bank BRI, membuatnya sangat memahami lapangan.

Kekaguman
Dalam buku yang merupakan bagian kecil dari disertasinya setebal 800 halaman ini, Ann Soetoro menunjukkan pemahamannya yang luar biasa tentang dunia pandai besi dan perajin logam lainnya di Indonesia. Ini hanya mungkin bagi seseorang yang terjun secara total menelitinya, selain memiki kekaguman dan apresiasi. Alice G Dewey, Ketua Komite PhD-nya di Universitas Hawaii, menyebutkan Ann punya jauh lebih banyak data daripada yang diperlukannya. Didesak untuk lebih fokus, Ann kemudian memilih penelitian pada kerajinan pandai besi.

Sejak awal, Ann memang telah menunjukkan sesuatu yang lain dalam buku ini. Ia misalnya menggunakan istilah ”petani pandai besi”. Ini dimaksudkan untuk menegaskan kaitan dirinya dengan subbidang antropologi ekonomi dan dengan literatur tentang petani dalam subbidang itu. Ia berpandangan, petani bukan hanya agrikulturalis namun juga terlibat dalam banyak jenis aktivitas ekonomi lainnya.

Kritis
Pandangannya tentang industri pedesaan di Indonesia juga tidak biasa. Ia bahkan mengritik JH Boeke, seorang ekonom Belanda yang menulis tesis di Universitas Leiden pada 1910 tentang Masalah Ekonomi Kolonial Tropis. Karakterisasi negatif Boeke tentang masyarakat pedesaan Indonesia, ironisnya, diikuti secara membebek oleh banyak akademisi dan pejabat di Indonesia. Tidak peduli pandangan itu terbukti keliru. Demikian juga pandangan Clifford Geertz, yang di mata Ann Dunham ”telah menjadi Boeke dari generasinya”. Menurut Ann Soetoro, Boeke nyaris bisa dianggap me nguatkan ”mitos pribumi malas”. Dan seperti Boeke, Geertz sangat pesimistis tentang masa depan Jawa. Jawa, bagi Geertz, adalah ”antologi peluang-peluang yang terlepaskan, konservatorium kemungkinan-kemungkinan yang tersia-sia”.

Setelah mengritik keras para ilmuwan yang meremehkan para petani pandai besi, Ann pun menguraikan secara rinci dunia industri pedesaan berikut situasinya. Ia mengawalinya dengan menjelaskan teknik-teknik dasar kerajinan logam, tata letak bengkel pandai besi, dimensi kultural pandai besi di Indonesia.

Dalam tinjauan tentang sosioekonomis industri kerajinan logam, Ann Dunham mengulas secara lengkap beragam aspek mulai lokasi dan penyebaran usaha, struktur tenaga kerja, kondisi kerja dan upah, serta penggunaan tenaga kerja perempuan dan anak-anak. Ia juga jelaskan pengusaha dan kewirausahaan, tentang pasokan, pemasaran dan pengangkutan, soal perubahan musim dan kesinambungan kerja, dan sebagainya, termasuk pro fitabilitas. Beragam istilah asli digunakan dan dijelaskan secara rinci, seperti perapen (tungku api), tukang ubub, panjak, tukang kikir, dan lain-lain. Beberapa masalah teknis juga dibahas seperti berkurangnya arang yang baik dan makin mahalnya kikir.

Buku ini adalah bentuk apresiasi dari penulisnya kepada para petani pandai besi di Indonesia. Namun mungkin karena dicomot dari disertasi setebal 800 halaman, bagian penutupnya kurang tajam. Seharusnya ada bagian yang menjelaskan secara jelas mengapa industri pedesaan seperti pandai besi ini mampu terus bertahan. Mengapa mereka mampu lolos dari ”vonis mati” yang dijatuhkan para datuk ekonomi dan sosiologi. Para insinyur pertanian dan ahli-ahli ekonomi negeri ini mestinya tertantang bila membaca buku ini. (Djoko Pitono/)

One thought on “Pandai Besi di Mata Ibu Obama

  1. Sejak awal, Ann memang telah menunjukkan sesuatu yang lain dalam buku ini. Ia misalnya menggunakan istilah ”petani pandai besi”. Ini dimaksudkan untuk menegaskan kaitan dirinya dengan subbidang antropologi ekonomi dan dengan literatur tentang petani dalam subbidang itu.

    Ia berpandangan, petani bukan hanya agrikulturalis namun juga terlibat dalam banyak jenis aktivitas ekonomi lainnya.

    http://staff.blog.ui.ac.id/taqyudin/index.php/category/pembangunan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s