Membayangkan Mulut SBY Bau Solar

MUNGKIN sebagian dari Anda ada yang masih ingat dengan ungkapan ini: mulut Mega bau solar.

Ungkapan itu adalah satu dari sekian banyak slogan yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan kekecewaan mereka terhadap keputusan pemerintahan Megawati Soekarnoputri menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik (TDL), dan tarif pembicaraan telepon secara bersamaan di awal 2003 silam.

Tulisan ini juga dimuat di www.myrmnews.com.

Masa-masa itu telah berlalu. Pemerintahan telah berganti. Tetapi apa daya, asumsi-asumsi yang digunakan untuk menaikkan harga BBM tetap sama: subsidi BBM —terlebih di saat harga minyak di pasar dunia melambung tinggi— dianggap sebagai beban keuangan negara, atau, subsidi dinilai akan membuat rakyat menjadi malas.

Asumsi yang sekilas tampak benar, namun bila diteliti lagi lebih banyak salahnya.

Harga minyak mentah di pasar dunia terus melambung tinggi, rocketing, kata orang sini. Beberapa hari lalu sempat menyentuh angka 117 dolar AS per barel. Sungguh suatu catatan baru dalam sejarah.

Adapun di Jakarta, pemerintah pusat sedang mempertimbangkan kemungkinan menaikkan harga BBM di pasar domestik. Bila sungguh tega, maka ini adalah kenaikan harga BBM untuk kali ketiga sejak SBY menjadi presiden RI.

Ini juga akan menjadi catatan sejarah.

Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Indra J Piliang, beberapa hari lalu mengatakan, bila SBY menaikkan harga BBM menjelang pemilu sama saja artinya dengan bunuh diri. Dapat dipastikan, SBY akan menghadapi kemarahan rakyat yang merasa beban kehidupan mereka semakin berat.

Apalagi, sambung Indra seperti dikutip Harian Rakyat Merdeka, SBY pernah berjanji tak akan menaikkan harga BBM setelah ia menaikkan harga BBM tahun 2005.

Adapun ekonom Kwik Kian Gie kembali menegaskan, sungguh aneh bila kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional dijadikan alasan untuk menaikkan harga BBM di pasar domestik. Kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia, sebut Kwik, justru mengatrol pendapatan negara.

Penerimaan negara dari sektor minyak, masih kata mantan kepala Bappenas ini, mencapai ratusan triliun rupiah.

Menurut perhitungan Kwik, seperti dikutip Harian Rakyat Merdeka, penerimaan hasil BBM masih lebih besar dari biaya impor minyak yang sangat dipengaruhi harga pasar.

Produksi minyak Indonesia diperkirakan 1 juta barrel per hari. Jika 70 persen produksi untuk konsumsi dalam negeri, maka total produksi minyak Indonesia setahun adalah 40, 624 juta kiloliter. Sementara konsumsi minyak nasional sekitar 60 juta kiloliter per tahun. Akibatnya, perlu impor 19,375 juta kiloliter. Dengan harga minyak dunia 100 dolar AS per barrel maka untuk impor pemerintah merogoh saku sebesar Rp 121,9 triliun.

Biaya impor ini sebetulnya dapat ditutupi dari hasil kelebihan biaya produksi minyak di dalam negeri. Biaya untuk mengeduk, mengilang dan menyalurkan minyak ke stasiun pengisian bahan bakar, masih kata Kwik, hanya 630 perak.

“Jika bensin dijual Rp 4.500, maka masih untung Rp 3.870.”

Kelebihan biaya produksi ini lalu dikalikan 40,624 juta kiloliter nilainya mencapai Rp 157,216 triliun.

“Walaupun harga minyak naik sampai 100 dolar per barrel, pemerintah masih untung sekitar Rp 35 triliun,” ujarnya membeberkan hasil perhitungannya.

“Minyak itu digali dari perut bumi Indonesia, masak pemerintah mau menghargainya berdasarkan harga internasional? Ini kan lucu,” demikian Kwik.

Rizal Ramli, punya jurus lain untuk menghentikan keinginan pemerintah menaikkan harga BBM.

Rizal yang kini memimpin Komite Bangkit Indonesia (KBI) mengatakan, untuk mengurangi biaya impor pemerintah harus menyikat mafia minyak, misalnya Mr. R, seorang warga Indonesia yang berdomisili di Singapura.

Rizal yang berbicara di ajang Konsolidasi Pemuda, Mahasiswa dan Aktivis Pergerakan KBI di Gedung PKBI, Jakarta, hari Kamis waktu Indonesia, mengatakan si Mr. R ini punya hubungan dekat dengan Istana.

Nah, siapakan dia?

Juga menurut Rizal yang pernah jadi Menko Ekuin, sang Mr. R memungut 2 dolar AS dari setiap barrel minyak yang diimpor Indonesia. Jika jumlah impor Indonesia mencapai 300 juta barrel per tahun, maka mafia minyak ini akan menangguk untung 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,73 triliun.

“Sikat dong mafia ini, jangan hanya nyanyi-nyanyi doang. Kalau ini dilakukan, kita menggunakan minyak mentah dalam negeri maka biaya produksi BBM akan rendah,” tegas Rizal, sang lokomotif perubahan ini seperti dikutip Harian Rakyat Merdeka.

Nah, para pakar sudah berbicara blak-blakan dengan maksud agar pemerintah membuka mata dan hati sehingga tidak lagi menaikkan harga BBM.

Kalaulah pemerintah tetap tega, hal apa yang dapat kita lakukan sebagai rakyat biasa?

Membayangkan mulut SBY bau solar, lalu berteriak-teriak di jalan? Mengulangi gerakan 2003 yang berujung pada kekalahan Megawati dalam Pilpres 2004?

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

7 thoughts on “Membayangkan Mulut SBY Bau Solar”

  1. Bang, jangan lupa: Mulut SBY Bau Lumpur LAPINDO!

    Btw, Mulut Mega Bau Solar kan yang dulu jadi masalah itu, kan…..

  2. begitu hebatnya mafia itu sehingga pemerintah harus menyiksa rakyat kecil dan membuka peluang penyimpangan baru oleh jaringan oknum tertentu ??????.benarkah teknologi kita tidak mampu mengolah \memproses minyak sendiri ?????????????? kacian banget para tekhnokrat kita,belajar terus tapi tidak pintar-pintar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s