The Toba Lake: From Myth to Disclosure

IT has begun with a myth and later has been confirmed with a story of the biggest bang in the 10 million years of the earth’s history.

Once upon a time, in the Sumatera Island, after fishing for a whole day, a young fisherman named Toba finally caught a big goldfish. He was very happy. But, just after he saw the eyes of the goldfish, Toba suddenly felt sorry and let it go into the river. He went home empty-handed.

First published in Coconut Express, HELP, Honolulu, August 2007.

Surprisingly, at his home he found a woman cooking his dinner. The woman said she had transformed into a woman from the goldfish. As a reward for Toba’s benevolence, the woman offered herself and became a wife for Toba.

They married and got a son named Samosir. They were a happy family, until one day Samosir came late to bring Toba’s lunch. Tired and hungry at the same time, Toba angrily told Samosir that he was a son from a fish-mother.

Samosir ran to find his mother and told her what Toba said about his mother. Disappointed with Toba, the mother and the son left their house. Samosir climbed the highest tree on a small hill while his mother went to the river and again became a gold fish after cursing Toba.

Then there was a flood for days, eventually forming a lake and enfolding the village. And the small hill where Samosir saved himself then became an island named after his name.

It was a myth about the famous Toba Lake in North Sumatera Province, Indonesia.

Many scientists believe that around 73,000 years ago, the area of about 1,140 square kilometers was a very huge volcano. According to a report in 1949 made by Dutch geologist Van Bemmelen, Toba Lake, surrounded by a vast layer of ignimbrite rocks consisting essentially of pumice fragments, was formed by the consolidation of material deposit.

Later in Malaysia and India, other scientists found volcanic ash similar to that in surroundings Toba. Even oceanographers revealed the same ash on the floor of the eastern Indian Ocean and the Bay of Bengal. From this phenomenon, researchers concluded that the eruption of Toba volcano dating 73,000 years back was the biggest eruption in the last 10 million years.

Some years ago, two researchers from Michigan Technological University, Bill Rose and Craig Chesner, combined all information about Toba Lake and came to a conclusion that the eruption blew ash and ignimbrite rock about 2,800 square kilometers. About 800 square kilometers ignimbrite moved and demolished everything in its path. In the remaining 2,000 square kilometers ash fell and moved due to the west wind. Rose and Craig believed that the eruption lasted two weeks and killed everything in a very big number, including of humans and animals.

Now, the things people appreciate and admire about Lake Toba are its beauty, charm, fresh air, and blue water as one of the well-known tourism destinations in the country. You can reach the Samosir Island by riding a ferry for about 60 minutes where you can find other stories and myths on the island.

A lot of people know about the myth of Toba and his goldfish wife, and not a lot understand that it was a very huge volcano in the Ring of Fire of the world.

15 comments

  1. Danau Toba kita Tercinta.
    Salam kenal Mas Teguh.
    Danau Toba memang salah panorama dunia yang Indah.
    Sungguh sangat disayangkan jika kita belum pernah kesana.
    Selamat berkarya mas Teguh.

  2. “Danau Toba, Danau Toba, Kau tercipta hanya untuk Indonesia. Banggalah hatiku karena turut jadi pemilikmu” (Julius Sitanggang, Danau Toba II, Selekta Pop TVRI)

  3. @agus simatupang
    salam kenal kembali. sudah beberapa kali saya ke danau toba. terakhir tahun lalu. luar biasa indahnya. tak kalah dari hawaii.

    @rizal
    syair lengkapnya begini:
    di negeriku indonesia
    ada satu danau yang permai
    yang terluas di dunia
    kebanggan seluruh bangsa
    oh danau toba, oh danau toba
    danau indah yang permaj
    oh danau toba, oh danau toba
    tiada banding di dunia
    pulau subur
    danau indah
    kau tak akan kulupa
    dalam lagu
    dalam kalbu
    kau kan selau kurindu
    kurindu
    kurindu

    ..asorry bagian lainnya lupa…

    julius sitanggal kalau kebetulan membaca komentar ini, bolehlah lagu di atas dilengkapi.

  4. temenku yang orang Samosir percaya kalo peradaban Atlantis yang hilang itu dulunya ada di Toba. Hilangnya juga karena letusan besar itu. Juga cerita 3 orang majus yang dateng sewaktu Yesus lahir, salah satunya yg membawa kemenyan, adalah orang Batak karena cuma di Batak yg ada kemenyan saat itu.
    bisa di ulas lebih jauh gak mas? mitos dan wakta seputar Samosir dan Indonesia tercinta ini.

  5. @nindityo
    saya pernah nonton film dokumenter BBC, judulnya “the real eve”.

    film ini mencari tahu siapa wanita pertama yang mewariskan kromosomnya pada manusia yang hidup hari ini. penelusuran dan penelitian yang dilakukan oleh tim itu membawa mereka pada kesimpulan bahwa hawa yang dikenal sebagai istri adam (dalam kitab suci agama-agama samawi keduanya disebut sebagai manusia pertama), adalah satu dari sedikit wanita yang pernah hidup 80 ribu tahun lalu di great horn of africa, atau sekitar somalia dan ethiopia hari ini.

    adalah gen hawa yang masih bertahan sampai saat ini. sementara keturunan wanita-wanita lain yang hidup sezaman dengan hawa punah pada tahun-tahun berikutnya.

    dari the great horn inilah, keturunan hawa menyebar, ke timur dan barat, ke utara dan selatan. postur bumi di masa itu belum seperti sekarang. laut merah yang kita kenal, misalnya, diperkirakan belum ada, atau dengan kata lain africa dan arabia masih bersatu.

    keadaan postur bumi ini memudahkan manusia di zaman itu berkelana kemana-mana. di beberapa tempat, dimana laut menjadi penghalang, ribuan tahun kemudian, manusia sudah menemukan teknologi pelayaran sederhana, sehingga laut dapat ditaklukan (setelah tak terbilang jumlah manusia yang mati dalam upaya penaklukan itu).

    adalah proses adaptasi terhadap lingkungan yang lambat laun mengubah tampilan fisik di kalangan kelompok pengelana. kulit yang menjadi putih dan lebih putih, rambutnya yang blond atau keriting, atau lurus, hidung yang mancung, tubuh yang berambut halus, dan seterusnya, adalah resultan dari proses yang memakan waktu ribuan tahun ini.

    singkat cerita, menurut film dokumenter itu, sekelompok manusia tiba di tempat yang kini kita kenal dengan semenanjung malaya sekitar 70 ribu tahun lalu. jadi mereka membutuhkan 10 ribu tahun untuk sampai di tempat itu dari tempat hawa.

    postur semenanjung malaya ketika itu pun tak sama dengan yang sekarang kita kenal.

    nah, ini yang berkaitan dengan ledakan gunung toba.

    kelompok peneliti ini, yang melibatkan begitu banyak peneliti dari berbagai disiplin ilmu, menemukan fakta ledakan toba terjadi di masa itu. ledakan itu telah membunuh begitu banyak manusia di semenanjung malaya, dan menghambat migrasi keturunan hawa ke nusantara yang datang dari arah (apa yang kita kenal sekarang dengan) asia.

    keturuan hawa yang lain, yang datang dari arah paifik ada juga yang mencapai nusantara.

    buat saya, film dokumenter ini sungguh menantang.

  6. film dari BBC, Discovery atopun National Geograpic emang menantang banget untuk dipelajari. Secara bukan seperti film HY yang sedikit-sedikt kebesaran Tuhan.
    nanti aku cari dech mas.. makasih ya atas ceritanya..
    yang lain dong .. 😀

  7. danau toba ya?
    waktu kls 6 sd ayah ku pindah tugas ke sibolga.
    jadi mau gak mau harus lewat danau toba kan?
    gokill
    kerent banget aja gitu
    tadi nya aku cuma liat di TV.
    ternyata beda banget ma aslinya.
    SUMPAH KEREANT ABISS!!!
    nyesel banget kl blom pernah kesana

    tapii
    pas liburan kemaren aku kesana lagi.
    eh uda lumayan beda.
    danau tobanya jadi banyak sampah nya.
    mana tiba” ada gerombolan enceng gondok di situ.
    halah halah… jadi keliatan ngeganggu kann…
    ayo dom jangan buang sampah sembarangan!!!!!

  8. Kalok hipotesis BBC itu bisa diterima, lantas kenapa Java Man yang jauh lebih sepuh dari Siti Hawa itu ditemukan di Sragen, bukan di pucuk utara Afrika?

    Kedua, dari mana para saintis BBC itu memperoleh sampel gen Siti Hawa? Bagaimana memastikan bahwa itu memang bener gen milik tante Adam itu?

    Ketiga, ada beberapa versi tentang dongeng nelayan dan putri ikan itu. Tentang terjadinya Tao Toba, ada versi satu lagi. Versi ini kurang dikenal kerna lebih populer sebagai Kisah Kejadian Bumi ala Batak. Siboru Deak Parujar adalah Ibu Pertama Bangsa Batak. Dia pencipta bumi dan kain tenun. Kerna menolak perkawinan jodoh ortu, dia minggat dari rumah ortunya yg bukan sembarang ortu itu tapi tak lain dari Batara Guru sendiri, lalu memohon kpd Mulajadi Nabolon, Penguasa Tunggal Segala Yang Ada, untuk memberikannya segenggam tanah agar dia bisa mencipta daratan di Bumi Tengah. Permintaannya dikabulkan maka dia pun turun dari Bumi Atas dgn memakai benang tali hasil tenunnya sendiri. Tapi Bumi Tengah yg kosong dan berair itu ada penunggunya rupanya, udah ada premannya, yaitu Naga Padoha alias Pane Nabolon. Tiap kali Boru Deak Parujar akan membentuk daratan maka dirusak oleh Naga Padoha. Akhirnya marahlah dia dan mulai menghajar sang Naga. Bayangkan dihajar perempuan yg lagi marah, sakti lagi! Babak belurlah Naga Padoha dan akhirnya menyerah kalah! Dia lalu diikat Deak Parujar di dasar daratan yg baru diciptakannya itu. Setelah itu Deak Parujar kembali ke Bumi Atas ke rumah ortunya dan menerima perkawinannya. Keturunannya yang kelak dikenal sebagai Bangsa Batak itu lah yang jadi penghuni daratan di Bumi Tengah yg diciptakannya itu. Oiya, kalok kadang-kadang bumi bergetar, itu tandanya si Naga Padoha lagi bergerak dalam ikatannya tapi tak mampu lepaskan dirinya. Begitulah hebatnya Mamak Bangsa Batak itu!

    • tim peneliti dalam the real eve mengumpulkan jaringan kulit dari begitu banyak manusia lintas ras yang ada saat ini. yang mereka kumpulkan adalah epitel bagian dalam mulut. dan mereka menemukan kesamaan genetik di sample jaringan epitel itu, yang kemudian disimpulkan sebagai gen hawa.

      kenapa harus dianggap sebagai gen yang diwarisi hawa? kenapa bukan nama lain?

      dari judul film, saya menyimpulkan bahwa baik tim peneliti itu maupun BBC menerima cerita illahiah (doktrin) yang diturunkan agama-agama langit tentang hawa sebagai wanita yang melahirkan manusia yang kini berseberan di muka bumi.

      tim peneliti ini sedikit “nakal” karena berani mengakatakan bahwa hawa bukanlah wanita pertama yang diciptakan Tuhan. melainkan, satu dari segelintir wanita di masa-masa itu yang kromosomnya diwarisi manusia modern kini.

      • dulu waktu saya masih meranto di New Zealand saya jugak pernah nonton pilem doko BBC tentang “manusia pertama”, yang mereka sebut “Lucy” namanya dan konon hidup di sekitar bagian utara benua Afrika juga.

        obsesi para “saintis aka peneliti” ala BBC ini nampak sekali berkiblat ke Afrika dan wacana bahwa ada satu pusat darimana berserak semuanya ke seluruh dunia. saya tak percaya pada teori Origins macam ini. fakta bahwa Jawa Tengah/Jawa Timur punya yang disebut “Java Man” (ingat! udah dipanggil “Man” loh, gak Big Ape lagi!) yang umurnya satu juta tahun itu seolah tidak berarti apa-apa sama sekali pada kolonialisme teori “Africa as the Origin of Man” itu.

        memang diperlukan sebuah pilem doko tandingan untuk jadi alternatif publik. tapi siapa yang bisa melawan duit BBC?! hehehe…

  9. Kalok crater-nya aja udah segede Danau Toba, bisa dibayangkan gimana besarnya badan supervolcano Toba itu sebelum meletus!

    Apa gak mungkin bahwa Sumatra terpisah dari Asia Tenggara, terbentuknya Semenanjung Malaysia dan Selat Sumatra yg sempit itu justru kerna super-letusan ini!

    • saya sedikit lupa soal bagian pembentukan asia sumatera dan selat malaka. tetapi di dalam film itu disebutkan bahwa ledakan besar toba diduga menghalangi migrasi manusia dari utara (daratan asia) ke sumatera (kini).

      ketika itu kelompok pengembara ini, yang sebagian gennya sudah bermutasi sehingga penampilan fisiknya tak lagi seperti ibu hawa, sudah berada di tempat yang kini dikenal sebagai semenanjung malaya. adalah hujan batu dan panas ledakan toba membinasakan sebagian (besar?) dari mereka. membuat mereka membutuhkan waktu ekstra untuk mengkonsolidasi kekuatan (dan ilmu pengetahuan) untuk melanjutkan perjalanan ke selatan.

      any way bung, terima kasih sudah mampir.

  10. hehehe, ya mungkin mereka menjadikan afrika sebagai ibu peradaban dunia sebagai bentuk apologia mereka atas perbudakan yang mereka lakukan terhadap orang2 afrika.

    ah, jangan-jangan saya sedang sok tahu aja ya.. hehehe

    trims linknya.. menambah wawasan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s