Mega: Pemerintahan SBY Seperti Penari Poco-poco

Presiden Megawati Soekarnoputri dan Menkopolkam SBY

Kebijakan pemerintahan SBY dalam memerangi kemiskinan disamakan dengan gerakan dalam tarian poco-poco dari Manado. Maju selangkah, mundur dua langkah. Kadang malah hanya jalan di tempat. Begitulah salah satu poin pidato politik Ketua Umum Megawati Soakarnoputri dalam rangkaian peringatan ulang tahun ke-XXXV Partai Demokrasi Indonesia- Perjuangan (PDIP) yang dipusatkan di GOR Sriwijaya Palembang, Sumsel, Kamis (31/1) .

“PDI-P menilai pemerintahan hasil Pemilu 2004 tidak konsisten menjalankan implementasi kebijakan menuntaskan kemiskinan. Kebijakan itu tidak berjalan dengan baik dan bukan prioritas. Maju mundur seperti penari poco-poco. Artinya pemerintah tidak berpihak kepada rakyat,” demikian diungkapkan Mega.

Ia juga mengajak seluruh kader PDIP dan masyarakat Indonesia untuk menagih janji pemerintahan SBY-JK seperti tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 7/2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), yang salah satunya adalah soal pengentasan kemiskinan.

“Dalam RPJM, selama 2005-2009, pemerintah menargetkan pengentasan kemiskinan dari 35 juta penduduk menjadi 18,8 juta. Faktanya pada 2006 jumlah penduduk miskin malah mencapau 3,9 juta. Meski tahun 2007 turun menjadi 37,1 juta, PDIP tidak yakin dalam sisa waktu ini target 18,8 juta akan tercapai,” katanya.

Selain soal pengentasan kemiskinan pada kesempatan itu, Megawati mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah SBY seperti kebijakan impor beras dan kedelai, konversi minyak tanah ke gas, dan kebijakan perjanjian pertahanan Indonesia-Australia.

Dalam pidato politiknya itu, Megawati juga menyatakan tekadnya untuk menjadikan PDIP sebagai partai oposisi dan penyeimbang berbagai kebijakan pemerintah, sehingga kebijakan yang dihasilkan adalah kebijakan yang pro pada rakyat.

“PDIP tidak asal melakukan oposisi yang apriori, tapi ingin melaksanakan oposisi yang loyal sesuai dengan Pancasila dan UUD 45,” katanya.

Untuk itu, Mega kembali menegaskan sikap PDIP sebagai partai terbuka yang siap berkoalisi dengan siapa pun di Pemilu mendatang. “Sebagai rumah besar kaum nasionalis, PDIP membuka diri dengan darah segar dari luar, selama darah segar itu memiliki ideologi yang sama dan bisa menjadi nilai tambah partai,” tegasnya.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s