Soeharto Wafat, So What?

MyRMNews – FILM the Ice Age 2: the Meltdown segera berakhir. Manny dan Ely, dua mammoth yang terancam punah dalam film kartun itu, bersama teman-teman mereka, akhirnya selamat dari banjir besar yang dihasilkan lelehan es di kutub utara.

Saat itulah T-Mobile saya berbunyi lirih. Sebuah SMS dari seorang teman di Jakarta.

“Barusan saja Pak Harto meninggal dunia, jam 13.10. Allahummagfirlah.”

Saya berdiri, meninggalkan reading room yang memang dipakai sebagai tempat pemutaran film setiap weekend di Hale Manoa asrama kami di East West Center, Honolulu, Hawaii. Segera saya hubungi teman di ruang redaksi MyRMNews.

“Ya, sudah meninggal. Tadi saya coba hubungi, tapi gak masuk-masuk,” kata Redaktur Pelaksa MyRMNews Yayat R Cipasang di ujung sana. “Ya, sudah,” kata saya menutup pembicaraan.

Keluar dari lift di lantai sembilan, saya segera berjalan menuju kamar saya. Ketika melintas dapur, saya lihat anak-anak East Timor sedang duduk-duduk sehabis makan malam. Sempat terlintas di benak saya untuk menyampaikan kabar kematian Soeharto. Bukankah, Soeharto pada suatu saat di masa yang lalu pernah juga menjadi presiden di tempat yang kini menjadi negara merdeka Timor Leste?

Bukankah Soeharto juga yang di pertengahan 1970-an memerintahkan pasukan TNI atas desakan Amerika Serikat dan dunia Barat untuk “menyelamatkan dunia dari serbuan komunis” yang mengancam dari bekas provinsi Portugal itu?

Andai Lukas, seorang teman dari Timor Leste, juga duduk di antara kawan-kawan Timor Leste itu, saya pasti akan datang ke sana dan menyampaikan kabar ini. Lukas kurang lebih seusia dengan saya. Sedikit banyak, saya percaya, kami memiliki pengalaman yang sama di zaman Orde Baru, sebelum Timor Leste memerdekakan diri dari Indonesia. Ketika Timor Timur masih menjadi “provinsi ke-27 Indonesia” Lukas kuliah di Bandung. Begitu revolusi tiba di Timor Timur, Lukas memilih pulang dan bergabung dengan kawan-kawannya untuk merebut kemerdekaan mereka.

Dalam berbagai kesempatan berbicara dengan Lukas, saya mendapat kesan bahwa ia memiliki pandangan yang sama dengan saya mengenai “persoalan Timor Timur”: we were the victim of the Cold War, when the West tried to diminish the East, and vice a versa. When the communist block was a common enemy of the West. Then we started to learn how to hate. Then we entered what we known as “civil war”.

Tetapi kata Lukas, yang lalu biarlah berlalu. Kini Indonesia dan Timor Leste punya jalan masa depan yang harus diraih. “We ever experienced live under the same Soeharto. Just let it be our memories,” kata Lukas.

Saya mengurungkan niat menyampaikan kabar kematian Soeharto kepada kawan-kawan timor Leste. Biarlah mereka mengetahui dengan sendirinya. Adapun Lukas bulan Desember lalu menyelesaikan studinya di Hawaii. Kini ia telah kembali ke Timor Timur. Mungkin saat ini pun dia tengah menyimak kabar kematian Soeharto.

Di kamar, saya menemukan Matrix saya penuh dengan miss-called dan pesan pendek. Seorang redaktur senior Rakyat Merdeka mengirimkan pesan singkat, “HMS wafat.”

Istri saya juga tak lupa mengirimkan pesan, “Innalillahi, Pak Harto wafat.”

Istri saya tentu tahu pasti bagaimana pandangan saya mengenai tokoh yang satu ini. Tetapi bagi istri saya, wanita yang selalu mencoba menjaga sopan santun dan penghormatan kepada orang yang lebih sepuh, kematian is tetap kematian yang harus direnungkan. Ia adalah pengalaman semua umat manusia. Hanya saja beberapa di antara kita belum menjalaninya. Karena itu perlulah berucap “segala yang berasal dari Allah akan kembali kepada-Nya” setiap kali kita mendengar kabar kematian. Ucapan seperti ini semacam pengingat pada diri sendiri, “siapkah kita menjemput ajal?”

Sebuah SMS dari nomor yang tidak saya kenal berbunyi, “Setingg-tinggi tupai Harto melompat, akirnya minum wine juga. Hehe…”

Saya yakin si pengirim pasti punya alasan yang cukup kuat untuk menuliskan kalimat seperti itu.

Di benak saya, sungguh Soeharto berada bersama para penindas yang lain. Saya teringat wajah-wajah yang saya kenal, korban penindasan Soeharto, mereka-mereka yang tanpa sebab pasti dituding sebagai bagian dari kelompok yang hendak menghancurkan negara di tahun 1965. Mereka orang-orang yang mendapat cap sebagai anggota PKI, kaki tangan Peking, dan karena itu sudah sepantasnya dihabisi.

Mereka, yang bila selamat dari hukuman mati tanpa pengadilan ala Orde Baru, menjalani kehidupan setelahnya tanpa hak politik dengan cap ekstrim-kiri yang melekat di punggung mereka dan di kening mereka, serta mereka bawa sampai ke liang lahat.

Bukan hanya mereka, tetapi anak dan cucu mereka juga harus menanggungkan sakit yang sama, dianggap sebagai musuh masyarakat, dibuang dari pergaulan. Tidak punya kesempatan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Sekali “tidak bersih lingkungan” maka selamanya mereka “tidak akan pernah bersih lingkungan.”

Kemanakah orang-orang seperti ini, anak dan cucu mereka melarikan diri? Apakah yang mereka lakukan untuk bisa bertahan di tengah kehidupan yang mengecam mereka tanpa ampun–walau mereka sama sekali tak pernah dibuktikan bersalah dalam pengadilan?

Saya mengenal beberapa keluarga–banyak keluarga–yang mengalami penindasan seperti ini. Anak-anak dan cucu mereka terpaksa hidup melata. Generasi kedua dan ketiga memilih bekerja serampangan. Sebagian dari mereka masuk ke kota dan jadi bromocorah. Sebagian lainnya memilih masuk hutan, diperalat para cukong pemegang HPH, dan juga pencuri-perampok hutan–yang kini dilembutkan istilahnya dengan kata pembalak. Merekalah bibit kemiskinan generasi pertama di era Orde Baru. Kemiskinan yang diciptakan melalui proses politik secara massif. Pemiskinan dan penindasan yang tidak tertahankan.

Pemiskinan yang tentu saja ditutupi dengan utang luar negeri dan pemusatan pembangunan negara hanya di pulau Jawa dan Jakarta saja.

Setelah Soeharto turun dari kekuasaannya tahun 1998 lalu, orang-orang ini (sebagian dari mereka sudah lebih dahulu meninggal dunia), berikut anak dan cucunya, pun tak memperoleh hak mereka yang direnggut paksa oleh Orde Baru. Generasi keempat, atau cicit mereka, kini tetap hidup dengan cap yang sama.

Kematian, sungguh akan menjadi kenyataan bagi semua yang hidup di muka bumi ini.

Kini saya bertanya: Soeharto wafat, so what?

2 comments

  1. Soeharto tak pernah ada maaf dari semua yg telah engkau perbuat kepada smua suku minoritas yg terdiskriminasi.
    Smoga penderitaan slalu bersamamu.

  2. Suharto alias Babi… tapi ada yg perlu diancungi jempol yaitu pada saat pemerintahan dia teroris mati kutu…! Tercatat yg saya ketahui hanya pembajakan pesawat Garuda oleh kelompok Ali Imron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s