Ketika Tangan SBY Mengepak-ngepak

BANYAK orang berkata Presiden SBY lebih mementingkan penampilan dan citra dirinya di mata publik. Benarkah? Setahu saya, di awal-awal berkuasa dia berkali-kali mengatakan dirinya tidak peduli dengan popularitas.

Nah, beberapa waktu lalu seorang mantan menteri bercerita kepada saya bagaimana dia merasa dikerjai oleh Presiden SBY di Istana Kepresidenan. Apa pasal?

Sang mantan menteri itu diundang SBY ke Istana. Kepadanya SBY hendak bercerita (baca: berkeluh kesah) tentang berbagai program pemerintah yang terkendala dan masih mangkrak. Mulai dari pembangunan proyek ini dan itu sampai tata niaga ini dan itu.

Karena memang punya hubungan baik dengan SBY, sang mantan menteri bersedia memenuhi undangan tersebut. Maka berangkatlah ia ke Istana. Oh ya, hubungan baik keduanya dimulai sejak lama, saat SBY masih aktif sebagai tentara hingga saat keduanya jadi menteri di pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Saat SBY menjadi presiden, ia ditawari dua posisi menteri. Tapi ia menolak. Ia tahu dirinya mempunyai perbedaan mendasar dengan beberapa menteri yang telah dipilih SBY.

“Mau ditawari kursi menteri lagi, kali,” kata saya.

“Bukan,” jawabnya. “Kalau itu saya jelas nggak mau,” jawab dia. Untuk selanjutnya mantan menteri ini kita sebut dengan Pak X.

Nah, tiba di Istana Pak X disambut SBY. Dalam perjalanan menuju ruangan diskusi, mereka berdua –yang memang telah lama saling kenal– bercerita tentang hal-hal ringan. SBY bertanya apa kabar, dan sedang sibuk apa. Sementara Pak X menjawab seadanya: dia dalam keadaan yang baik-baik saja, serta sedang sibuk ini dan itu. Nothing was special dalam pembicaraan appetizer itu.

Di depan ruangan yang akan dipakai keduanya untuk berdiskusi, SBY berhenti sebentar, mempersilakan para fotografer mengambil gambar mereka berdua.

Saat itulah, SBY mengepak-ngepakkan tanggannya, persis seperti bila ia sedang berpidato di depan banyak orang. Tangannya mengapung-apung seakan-akan dirinya sedang memberi arahan kepada Pak X.

Gerakan tangan SBY itu sama sekali tidak nyambung dengan hal-hal ringan yang mereka bicarakan. 

“Saya sempat mikir juga waktu itu. Kenapa nih Mas Bambang,” ujar Pak X lagi.

Selama diskusi, Pak X memberi kesempatan terlebih dahulu kepada SBY untuk menyampaikan persoalan-persoalan yang dihadapi pemerintah. Setelah SBY menumpahkan semua persoalannya, barulah Pak X  menyampaikan pandangan-pandangan solutifnya.

Pemerintah mestinya begini dan begitu. Jangan takut dengan ini dan itu. Dan seterusnya.

Lalu pertemuan selesai, dan SBY membuka pintu ruangan.

Fotografer masih berkumpul di depan pintu, dan seperti tadi hendak mengambil foto SBY dan Pak X. Juga masih seperti tadi, SBY kembali menggerak-gerakan kedua tangannya ke depan, ke samping kanan dan samping kiri, seakan-akan dia sedang mengarahkan Pak X untuk melakukan ini dan itu. Sementara kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak nyambung.

“Saat itu baru saya mengerti, dia mau memperlihatkan pada orang banyak bahwa saya berada di bawah kendalinya,” sang Pak X menepuk jidat sambil tertawa-tawa.

“Mampus gua dikerjai,” katanya lagi.

“Padahal dia yang minta tolong. Mas Bambang, Mas Bambang,” ujarnya masih terkekeh.

Untunglah keesokan harinya foto yang tampil di koran-koran adalah foto yang biasa-biasa saja. Memperlihatkan Pak X dan SBY dengan gesture yang normal.

“Kalau yang dipasang foto dia mengepak-ngepak, habislah saya,” Pak X masih tertawa. Mentertawakan tingkah temannya yang sedang sibuk membangun popularitas.

6 thoughts on “Ketika Tangan SBY Mengepak-ngepak

  1. lho, kok bisa?? itu SBY atau SDC (Septian Dwi Cahyo)?
    (betapa artifisialnya tingkah polah nyelebritis Indonesia, tapi yg ini ASLI lucu..)

  2. Saya sih gak mudah percaya cerita mantan mentri di atas, ya wajar aja presiden lawan mantan mentri, kalau diarahi SBY juga wajar, emang kenapa!!, malu kali ye..!!!

  3. @cantring
    ini mantan menteri dari pemerintahan yang lalu.

    dia gak pernah minta jadi menteri di era SBY. dia tawari dua posisi menteri, tapi dia menolak tegas.

    secara pribadi hubungannya dengan sby baik. dan sby sering minta pendapat untuk hal-hal yang dipahami oleh si mantan menteri ini.

    tetapi belakangan, si mantan menteri mulai menangkap kesan, sby gemar menjadikan orang lain sebagai pajangan dalam politik popularitasnya.

    dan kalau anda baca lagi tulisan di atas, maka anda akan paham bahwa sby tidak memberikan pengarahan apapun pada si mantan menteri. sby memperlihatkan gesture tubuh seperti orang yang sedang mengarahkan agar kalau dipotret dia tampak seperti orang yang take control.

    begitu.

    trims sudah mampir. saya juga baru baca komentar ini. sudah setahun lebih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s