Mengenang Malam Jahanam (14): Teori Presiden Sukarno sebagai Dalang

Tulisan ini adalah karya Harsutejo, dimuat atas izin yang diberikan si penulis kepada saya, dan karenanya saya berterima kasih. Pemuatan tulisan ini untuk menyambut peringatan peristiwa G30S yang telah mengubah secara fundamental jalan sejarah negeri ini. Kalau boleh, saya ingin mendedikasikan pemuatan tulisan ini kepada semua korban di pihak manapun dan keluarga korban peristiwa keji itu dan rangkaian perisiwa keji dengan efek horor yang tak terperikan yang terjadi berikutnya.

Oleh: Harsutejo

Bung Karno (BK) yang sejak remaja berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia, pada puncak kekuasaannya sebagai Presiden Republik Indonesia, tiba-tiba dituduh dan diperlakukan sebagai orang yang hendak melakukan perebutan kekuasaan alias kudeta, bahkan sebagai pemberontak. Betapa absurdnya! Prof Dr Brigjen Nugroho Notosusanto menulis, “Pada 1 Oktober 1965 beberapa kelompok pemberontak berkumpul di Pangkalan Udara Halim. Kelompok Cenko menempati gedung Penas, Presiden beserta pengikut-pengikutnya menempati rumah Komodor Udara Susanto, dan kelompok ketiga (yang lebih kecil jumlahnya), yang terdiri dari Ketua PKI Aidit beserta pembantunya, menempati rumah Sersan Dua Udara Suwardi”

Seperti kita ketahui keberadaan BK di Halim pada 1 Oktober 1965 berdasarkan prosedur baku penyelamatan Presiden, karena di Halim selalu siap pesawat yang dapat membawanya ke mana pun pada saat keadaan memerlukan. Presiden Sukarno dituduh melakukan pemberontakan dan kudeta. Kudeta itu dilakukan terhadap pemerintahan Presiden Sukarno, untuk menjatuhkan dirinya dipimpin oleh Presiden Sukarno sendiri. Betapa kacau balaunya jalan pikiran Pak Profesor yang ahli filsafat sejarah ini, tidak masuk akal dan tidak tahu malu. Tak aneh jika Pak Profesor ini pula yang berusaha menghapuskan gambar BK dalam foto bersejarah detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta, seolah BK tak pernah hadir di sana. Doktor sejarah ini telah memperlakukan ilmu sejarah dan sejarah sebagai milik pribadinya ketika ia ikut kemaruk kekuasaan yang sedang berkibar, seperti lupa bahwa masih ada pakar sejarah lain di samping dirinya serta pelajar sejarah di kemudian hari maupun kaum awam yang cukup cerdas membaca sejarah.

Apa yang dituduhkan oleh sejarawan Orde Baru tersebut dioper dalam analisis terhadap G30S yang dilakukan oleh Jenderal Nasution (dengan “bijak” Jenderal Suharto tidak ikut menuduhnya secara terbuka) dalam bukunya Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, 1988. Nasution menggunakan dua hal, pertama pidato BK di Senayan pada malam hari 30 September 1965 yang mengambil dunia pewayangan antara lain BK mengutip nasehat tokoh Kresna kepada ksataria Arjuna bahwa tugas itu tidak menghitung-hitung korban [ia menghubungknnya dengan G30S yang sedang dipersiapkan]. Lalu disebutkan bahwa BK bergembira ria malam itu dengan menyanyi-nyanyi dan menari [maksudnya menyongsong kemenangan G30S]. Selanjutnya ia juga menggunakan kesaksian Kolonel KKO Bambang Wijanarko, salah seorang pengawal Presiden Sukarno dalam interogasi yang dilakukan oleh Kopkamtib tentang penerimaan surat oleh BK di Senayan malam itu dari Letkol Untung [yang notabene sedang mempersiapkan pasukan G30S untuk menculik para jenderal].

Analisis tersebut menjadi dongeng semacam kisah detektif yang dirangkai murahan. Seluruh rakyat Indonesia, bahkan seluruh dunia, mengenal BK sebagai orator yang selalu berpidato berapi-api sejak muda dengan mengutip kata-kata bijak banyak tokoh dunia, juga kisah pewayangan yang sangat disukainya. Beliau pun menyukai bernyanyi dan menari bergembira ria dalam banyak kesempatan. Jadi kisah Jenderal Nasution tentang hal itu mengenai BK sama sekali bukan hal baru. Kisah itu sekedar menggiring pembacanya yang dapat dibodohi dan ditipu untuk mendapatkan persepsi bahwa BK terlibat G30S, bahkan dalangnya.

Apa yang dikemukakan Jenderal Nasution di atas kemudian dikemas secara lebih “ilmiah” dan dijadikan “teori” oleh Antonie Dake dalam bukunya In the Spirit of Red Banteng: Indonesian Communists Between Moscow and Peking, 2002. Lalu diperbarui dalam bukunya Sukarno File – Berkas-Berkas Sukarno1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan, 2005. Bahwa inisiatif G30S untuk mengambil tindakan terhadap sejumlah jenderal datang dari Presiden Sukarno, selanjutnya Aidit cs menggunakan kesempatan untuk membonceng. Boleh dibilang “teori” Dake ini semata-mata didukung oleh bahan interogasi terhadap Bambang Wijanarko. tanpa mengupas bagaimana suatu kesaksian dapat dikorek dan disusun oleh penguasa militer yang memperlakukan mereka bagai nyamuk yang dapat dijentiknya setiap saat tanpa perlindungan. Mereka yang berpengalaman dengan interogasi model rezim ini mengetahui benar kesaksian macam apa yang mungkin diberikan oleh Wijanarko yang dikutip Dake dan dijadikan pilar teorinya. Dake menambahkan kenyataan ketika 1972 ia datang ke Indonesia, ia mendapati pemerintah Suharto memandang Sukarno tidak tersangkut dalam peristiwa G30S. Dengan begitu kemungkinan kesaksian Wijanarko direkayasa untuk merugikan Sukarno terbantah meski masih terbuka kemungkinannya. Agaknya Dake kurang dapat menangkap roh rezim Orba. Setiap pelajar politik mengetahui, pada saat diperlukan jika para pembantu Suharto bicara tentang Sukarno, mereka pun hendak merangkul dengan cara “menghibur” jutaan rakyat yang masih tetap mencintai BK dengan ungkapan Jawa yang digemari Suharto, mikul dhuwur mendhem jero.

Kesaksian Bambang Wijanarko tersebut dibantah keras oleh Kolonel Pomad Maulwi Saelan, Wadan Cakrabirawa yang malam itu, 30 September 1965 di Senayan, tidak pernah beranjak dari dekat BK sampai kembali ke istana, tak ada gerak gerik BK yang lepas dari pengamatan Saelan. Ia menganggap hal itu sebagai aneh dan direkayasa. Keterangan yang direkayasa ini mendapat imbalan, Bambang Wijanarko tidak ditahan dan Saelan yang di depan pemeriksa membantah keras keterangan Bambang Wijanarko ditahan selama lebih dari 4 tahun. “Teori” di atas selanjutnya dikembangkan oleh Victor M Fic dengan memasukkan unsur romantik ke dalam bukunya Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi Tentang Konspirasi yang melibatkan buah diskusi antara Aidit dengan Mao Dzedong yang juga mirip dengan kisah detektif, yang pernah menghebohkan Jakarta pada 2005 yang lalu.

Yang Keblinger

Menurut analisis Presiden Sukarno tentang G30S yang sebelumnya juga disebut dengan Gestok, sebagai yang tercantum dalam pidato pelengkap Nawaksara, “ditimbulkan oleh ‘pertemuannya’ tiga sebab, yaitu: a) keblingernya pimpinan PKI, b) kelihaian subversi Nekolim, c) memang adanya oknum-oknum yang ‘tidak benar’”. Menurut sementara orang apa yang dikatakan BK ini sangat merugikan PKI karena melegitimasi tuduhan Jenderal Suharto dan pendukungnya terhadap PKI sebagai dalang G30S, dengan demikian memberikan andilnya yang penting dalam penghancuran PKI termasuk pembantaian massal.

Bemarkah begitu? Kesimpulan ini jauh dari kenyataan yang terjadi. Pidato tersebut disampaikan BK pada 10 Januari 1967 di Istana Merdeka dan tercantum dalam surat pelengkap pidato Nawaksara kepada pimpinan MPRS pada tanggal yang sama. Ketika itu PKI sudah dihancurlumatkan oleh Jenderal Suharto pada 1965-1966, jutaan orang telah dibantai, ratusan ribu ada dalam penjara dan kamp tahanan di seluruh Indonesia. Sedang yang masih selamat di luar lari lintang-pukang mencari selamat atau menjadi buron sambil mencari makan dan tanpa perlindungan dari pihak mana pun kecuali dari perorangan. Setiap saat mereka yang di luar maupun di tahanan terancam kawan mereka sendiri yang menjadi cecunguk Orba termasuk sejumlah pimpinan teras. Penghancuran PKI dan pembunuhan massal itu sudah dalam perencanaan dan dipersiapkan jauh sebelumnya jika kita cermati dokumen rahasia CIA dan kejadian di berbagai tempat pada permulaan Oktober 1965 seperti di Sumatra Utara, Banten dan sejumlah tempat di Jawa Tengah dan Timur.

Seperti kita ketahui gerakan militer G30S di Jakarta hanya berlangsung kurang dari 24 jam setelah dihadapi oleh pasukan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie. Pada 1 Oktober 1965 Presiden Sukarno memerintahkan semua pihak menghentikan gerakan, pimpinan militer untuk sementara dipegangnya. Hal ini tidak dihiraukan oleh Jenderal Suharto, karena dia memang bagian dari mereka yang kemudian disebut BK sebagai ‘oknum tidak benar’ yang lebih keblinger lagi. Ia melakukan tindakan militer lebih jauh lagi dengan pembantaian.

Sebagian besar pendukung BK terutama di kalangan angkatan bersenjata sampai akhir 1965 dan permulaan 1966 berharap sang penyambung lidah rakyat akan segera memberikan perintah untuk menindak keras para pembangkang, Jenderal Suharto cs, sebelum sang pembangkang lebih bersimaharajalela dan menjerumuskan negeri ini. Sukarno tidaklah sebodoh dongengan Jenderal Nasution bahwa beliau melakukan kasak-kusuk dan avonturisme kekanak-kanakan yang tidak bermutu. Sukarno seorang negarawan yang terus-menerus mendambakan dan memperjuangkan persatuan rakyat Indonesia. Negarawan besar itu pada saat-saat terakhir telah mempertaruhkan kekuasaan dan pribadinya untuk mempertahankan persatuan yang sedang dipoteng-poteng oleh rezim militer Jenderal Suharto.

Jenderal Suharto justru menggunakan ‘celah’ pihak BK guna melakukan langkah selanjutnya untuk menjinakkan BK serta meringkusnya. BK selalu mendambakan persatuan dan anti kekerasan, dan terus-menerus menjaganya sampai detik terakhir kekuasaannya, justru memberi peluang kepada Jenderal Suharto untuk melakukan kekerasan berdarah besar-besaran dan secara sistimatis membasmi sekelompok rakyat Indonesia yang setia mendukung BK, praktis tanpa perlawanan berarti bagaikan menyerahkan leher mereka masing-masing untuk digorok. Sampai detik terakhir BK menolak usulan para pengikutnya terutama dari kalangan Angkatan Bersenjata untuk melakukan perlawanan terhadap langkah-langkah kekerasan berdarah Jenderal Suharto.

Taktik yang digunakan Jenderal Suharto dalam pembantaian PKI dan gerakan kiri sebagai kekuatan politik yang tangguh, kemudian diikuti sasaran berikutnya: Presiden Sukarno, dipuji oleh AS dalam catatan rahasia dokumen CIA untuk Presiden Johnson setelah suatu pertemuan dengan Dubes Green tertanggal 23 Februari 1966 sebagai brilian.

Setelah Jatuhnya Presiden Sukarno

Setelah dijatuhkannya BK maka sejarah Indonesia menyimpang dari garis-garis yang telah diletakkan dan diperjuangakan olehnya sejak muda, Indonesia telah terjungkirbalik menjadi negara penuh penindasan, menjadi negeri tergantung hampir dalam segalanya. Budaya korupsi telah benar-benar mencengkeram seluruh aspek kehidupan bangsa dengan mengkhianati ajaran Trisakti, bebas dalam politik, berdiri atas kaki sendiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Pancasila yang dikumandangkan oleh penggalinya sebagai alat pemersatu seluruh potensi bangsa telah dijadikan alat pecahbelah oleh rezim militer Orba, alat manipulasi dalam berbagai bidang. Jadilah Pancasila azas tunggal dengan tafsir tunggal rezim militer Jenderal Suharto menurut kepentingan sang rezim, dengan demikian Pancasila justru dijadikan alat pecahbelah dan diskriminasi terhadap bangsa sendiri disertai budaya kekerasan yang melekat sampai saat ini.

Sang pakar sejarah Prof Dr Brigjen Nugroho Notosusanto bahkan bersikeras menyatakan penggali Pancasila bukanlah BK, Pancasila tidak lahir pada 1 Juni 1945 dengan pidato BK yang tersohor yang kemudian diberi judul “Lahirnya Pancasila”. Setiap orang yang belajar sejarah dan membaca tulisan-tulisan BK sejak muda, sejak 1926, akan tahu Pancasila yang kemudian dirumuskan dalam pidato 1 Juni 1945 itu suatu perkembangan wajar dari seluruh gagasan BK tentang dasar-dasar negara Indonesia Merdeka. Pancasila bukanlah suatu gagasan baru yang tiba-tiba lahir, tetapi sesuatu yang telah lama menjadi berbagai wacana tulisan dan gagasan BK selama puluhan tahun dalam berbagai tulisan dan perdebatan yang kemudian disampaikan secara lebih lengkap dalam pidato1 Juni tersebut di atas. Selanjutnya intisari pidato Pancasila itu dirumuskan kembali secara bersama menjadi Pembukaan UUD 1945. (Harsutejo, petikan dari naskah belum terbit).

3 thoughts on “Mengenang Malam Jahanam (14): Teori Presiden Sukarno sebagai Dalang”

  1. bung karno adalah pejuang indonesia sejati , tiada tolak bandingnya sampai hari ini . jika di bandingkan dengan presiden indonesia lainya , sebab indonesia dulu negara yg paling di segani di dunia .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s