Mengenang Malam Jahanam (1): G30S

Tulisan ini adalah karya Harsutejo, dimuat atas izin yang diberikan si penulis kepada saya, dan karenanya saya berterima kasih. Pemuatan tulisan ini untuk menyambut peringatan peristiwa G30S yang telah mengubah secara fundamental jalan sejarah negeri ini. Kalau boleh, saya ingin mendedikasikan pemuatan tulisan ini kepada semua korban di pihak manapun dan keluarga korban peristiwa keji itu dan rangkaian perisiwa keji dengan efek horor yang tak terperikan yang terjadi berikutnya.

 

PADA dini hari menjelang subuh 1 Oktober 1965 sekelompok militer yang kemudian menamakan diri sebagai Gerakan 30 September melakukan penculikan 7 orang jenderal AD. Jenderal Nasution dapat meloloskan diri, sedang yang ditangkap ialah pengawalnya. Lolosnya jenderal ini telah dibayar dengan nyawa putrinya yang kemudian tewas diterjang peluru. Keenam orang jenderal teras AD yang diculik dan kemudian dibunuh itu terdiri dari: Letjen Ahmad Yani (Men/Pangad), Mayjen Suprapto (Deputi II Men/Pangad), Mayjen Haryono MT (Deputi III Men/Pangad), Mayjen S Parman (Asisten I Men/Pangad), Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Men/Pangad), Brigjen Sutoyo (Oditur Jenderal AD).

Pada pagi-pagi 1 Oktober 1965, sebelum orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Kolonel Yoga Sugomo sebagai Asisten I Kostrad/Intelijen serta merta menyatakan bahwa hal itu pasti perbuatan PKI, ketika pengumuman RRI Jakarta pada jam 07.00 menyampaikan tentang Gerakan 30 September di bawah Letkol Untung. Maka Yoga pun memerintahkan, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar gudang. Ini PKI berontak”. Jangan-jangan Kolonel Yoga, Kostrad, dan – siapa lagi kalau bukan Jenderal Suharto – telah mengantongi skenario jalannya drama tragedi yang sedang dan hendak dipentaskan kelanjutannya. Tentu saja pertanyaan ini amat mengggoda karena dokumen-dokumen rahasia CIA pun mengungkapkan berbagai skenario semacam itu dengan diikuti dijatuhkannya Presiden Sukarno sebagai babak penutup.

Menurut tuduhan dan pengakuan Letkol (Inf) Untung, Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden RI yang secara formal memimpin Gerakan 30 September, para jenderal tersebut menjadi anggota apa yang disebut Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta terhadap kekuasaan Presiden Sukarno yang sah pada 5 Oktober 1965. Karena itu Letkol Untung sebagai insan revolusi sesuai dengan ajaran resmi yang didengungkan ketika itu, mengambil tindakan dengan menangkap mereka guna dihadapkan kepada Presiden. Dalam kenyataannya mereka dibunuh ketika diculik atau di Lubang Buaya, Jakarta.

Tentang pembunuhan yang tidak patut ini terjadi sejumlah kontroversi. Menurut pengakuan Letkol Untung hal itu menyimpang dari perintahnya. Dalam hubungan ini telah timbul berbagai macam penafsiran yang berhubungan dengan kegiatan intelijen berbagai pihak, pihak intelijen militer Indonesia, Syam Kamaruzaman sebagai Ketua Biro Chusus (BC) PKI, intelijen asing, utamanya CIA, dalam arena perang dingin yang memuncak antara Blok Amerika versus Blok Uni Soviet dengan Blok RRT yang anti AS maupun Uni Soviet. Menurut pengakuan Syam, pembunuhan itu atas perintah Aidit, Ketua PKI. Pembunuhan demikian sangat tidak menguntungkan pihak PKI yang dituduh sebagai dalang G30S, akan dengan mudahnya menyulut emosi korps AD melawan PKI, sesuatu yang pasti tak dikehendaki Aidit dan sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan dibunuhnya Aidit atas perintah Jenderal Suharto, maka pengakuan Syam yang berhubungan dengan Aidit sama sekali tak dapat diuji kebenarannya. Dengan begitu Syam memiliki keleluasaan untuk menumpahkan segala macam sampah yang dikehendakinya maupun yang dikehendaki penguasa ke keranjang sampah bernama DN Aidit.

Banyak pihak menafsirkan bahwa Syam ini merupakan agen intelijen kepala dua (double agent), atau bahkan tiga atau lebih. Hal ini di antaranya ditengarai dari pengakuannya yang terus-menerus merugikan PKI dan Aidit. Ini berarti dia yang posisinya sebagai Ketua BC CC PKI, pada saat itu menjadi agen yang sedang mengabdi pada musuh PKI. Dari riwayat Syam ada bayang-bayang buram misterius yang rupanya berujung pada pihak AD, khususnya Jenderal Suharto. Aidit yang dituduh sebagai dalang G30S yang seharusnya dikorek keterangannya di depan pengadilan segera dibungkam karena keterangan dirinya tidak akan menguntungkan skenario Mahmillub yang dibentuk atas perintah Jenderal Suharto sebagaimana yang telah dimainkan oleh Syam atas nama Ketua PKI Aidit.

Keterangan Syam mengenai perintah Aidit tentang pembunuhan para jenderal tidak dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat dipercaya. Beberapa pihak di Mahmillub menyebutnya perintah itu dari Syam, tetapi siapa yang memerintahkan dirinya? Pertanyaan ini mau-tidak-mau perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, siapa yang diuntungkan oleh pembunuhan para jenderal itu? Bung Karno tidak, Nasution tidak, Aidit pun tidak. Hanya ada satu orang yang diuntungkan: Jenderal Suharto! Jika Jenderal Yani tidak ada maka menurut tradisi AD Suharto-lah yang menggantikannya. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa ketika Presiden Sukarno menunjuk Jenderal Pranoto sebagai pengganti sementara pada 1 Oktober 1965, maka Jenderal Suharto menentang keras. Jelas dia berambisi menjadi satu-satunya pengganti yang akan memanjat lebih jauh ke atas, padahal ketika itu nasib Jenderal Yani cs belum diketahui jelas.

Perlu ditambahkan bahwa rencana pengambilan [penculikan] para jenderal telah diketahui beberapa hari sebelumnya serta beberapa jam sebelum kejadian berdasarkan laporan Kolonel Abdul Latief, bekas anak buah Suharto yang menjadi salah seorang penting dalam G30S. Jenderal Suharto sebagai Panglima Kostrad tidak mengambil langkah apa pun, justru hanya menunggu. Kenyataan ini membuat kecewa dan dipertanyakan salah seorang bekas tangan kanan Suharto yang telah berjasa mengepung Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, Letjen (Purn) Kemal Idris. Masih dapat ditambahkan lagi bahwa keenam jenderal yang dibunuh tersebut memiliki riwayat permusuhan internal dengan Suharto karena Suharto melakukan korupsi sebagai Pangdam Diponegoro.

Ada fakta sangat keras, dua batalion AD dari Jateng dan Jatim yang didatangkan ke Jakarta dengan senjata lengkap dan peluru tajam yang kemudian mendukung pasukan G30S, semua itu atas perintah Panglima Kostrad Mayjen Suharto yang diinspeksinya pada 30 September 1965 jam 08.00. Tentunya dia pun mengetahui dengan tepat kekuatan dan kelemahan pasukan tersebut beserta jejaring intelijennya, di samping adanya tali-temali dengan intelijen Kostrad lewat tangan Kolonel Ali Murtopo. Tentu saja masalah ini tak pernah diselidiki, jika dilakukan hal itu dapat membuka kedok Suharto menjadi telanjang di depan korps TNI AD ketika itu. Mungkin saja jejaring Suharto yang telah melumpuhkan logistik kedua batalion tersebut, hingga Yon 530 dan dua kompi Yon 434 melapor dan minta makan ke markas Kostrad pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua pasukan ini bersama pasukan Letkol Untung dihadapkan pada pasukan RPKAD. Itulah sejumlah indikasi kuat keterlibatan Jenderal Suharto dalam G30S, ia bermain di dua kubu yang dia hadapkan dengan mengorbankan 6 jenderal.

Lalu siapa yang diuntungkan dengan dibunuhnya Aidit? PKI dan Bung Karno pasti tidak, lawan-lawan politik PKI jelas senang (meski ada juga yang kemudian menyesalkan, kenapa tidak dikorek keterangannya di depan pengadilan), di puncaknya ialah Jenderal Suharto yang memang memerintahkannya. Jika Aidit diberi kesempatan bicara di pengadilan, maka dia akan mempunyai kesempatan membeberkan peran dirinya dalam G30S yang sebenarnya, bukan sekedar menelan keterangan Syam di Mahmillub sesuai dengan kepentingan Suharto cs. Jika ini berlaku maka skenario yang telah tersusun akan kacau.

Sejak 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang Buaya, maka disiapkanlah skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI dimulai dengan pidato fitnah Jenderal Suharto tentang penyiksaan kejam dan biadab, Lubang Buaya sebagai wilayah AURI. Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan dongeng horor fitnah keji tentang perempuan Gerwani yang menari telanjang sambil menyilet kemaluan para jenderal dan mencungkil matanya. Ini semua bertentangan dengan hasil visum dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri yang diserahkan kepadanya pada 5 Oktober 1965. Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara berkesinambungan oleh dua koran AD Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, RRI dan TVRI yang juga telah dikuasai AD, sedang koran-koran lain diberangus. Ketika sejumlah koran lain diperkenankan terbit, semuanya harus mengikuti irama dan pokok arahan AD. Seperti disebutkan dalam studi Dr Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani (gerakan perempuan kiri) yang dimanipulasi sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.

Setelah lebih dari dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan organisasi kiri lain berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat bangkit dan mencapai puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang disebut sebagai golongan manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir dst yang darahnya halal, maka situasi telah matang dan tiba waktunya untuk melakukan pembasmian dalam bentuk pembunuhan massal. Dan itulah yang terjadi di Jawa Tengah setelah kedatangan pasukan RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sesudah minggu ketiga Oktober 1965, selanjutnya di Jawa Timur pada minggu berikutnya dan Bali pada Desember 1965/Januari 1966. Sudah sangat dikenal pengakuan Jenderal Sarwo Edhie yang membanggakan telah membasmi 3 juta jiwa manusia.

Dalam khasanah sejarah G30S ada gambaran yang disesatkan bahwa situasinya seolah waktu itu “dibunuh atau membunuh” seperti dalam perang saudara. Ini sama sekali tidak benar, tidak ada buktinya. Hal ini dengan sengaja diciptakan sesuai dengan kepentingan rezim militer Suharto guna melegitimasi kekejaman mereka. Situasi telah dimatangkan oleh propaganda hitam pihak militer di bawah Jenderal Suharto beserta segala peralatannya yang menyinggung nilai-nilai moral dan agama tentang perempuan sundal Gerwani sebagai yang digambarkan dalam dongeng horor Lubang Buaya. Emosi ketersinggungan kaum agama beserta nilai-nilai moralnya ditingkatkan sampai ke puncaknya untuk menyulut dan memuluskan pembantaian anggota PKI dan kaum kiri lainnya yang disebut sebagai kaum kafir yang dilakukan pihak militer dengan memperalat sebagian rakyat yang telah terbakar emosinya.

Setelah seluruh organisasi kiri, utamanya PKI dihancurlumatkan, sisa-sisa anggotanya dipenjara, maka datang waktunya untuk menghadapi dan menjatuhkan Presiden Sukarno yang kini dalam keadaan terpencil diisolasi. Dikepunglah Istana Merdeka oleh pasukan AD di bawah pimpinan Kemal Idris, pada saat Presiden Sukarno sedang memimpin rapat kabinet yang tidak dihadiri Jenderal Suharto pada 11 Maret 1966 yang ujungnya telah kita ketahui bersama berupa Supersemar. Kudeta merangkak ini dilanjutkan dengan pengukuhan Jenderal Suharto sebagai Pejabat Presiden (sesuatu yang menyimpang dari UUD 1945, tak satu pun pakar yang berani buka mulut ketika itu), selanjutnya sebagai Presiden RI. Maka berlanjutlah pemerintahan diktator militer selama lebih dari tiga dekade yang menjungkirbalikkan segalanya, sampai akhirnya Indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia dengan utang sampai ke ubun-ubun.

G30S di bawah pimpinan Letkol Untung dirancang untuk gagal, artinya ada rancangan lain yang tidak pernah diumumkan alias rancangan gelap di balik layar dengan dalang-dalang yang penuh perhitungan untuk melaksanakan adegan yang satu dengan yang lain. Maka tidak aneh jika mantan pejabat CIA Ralph McGehee berdasar dokumen rahasia CIA menyatakan sukses operasi CIA di Indonesia sebagai contoh soal, “supaya metode yang dipakai CIA dalam kudeta di Indonesia yang dianggap sebagai penuh kepiawaian sehingga ia digunakan sebagai suatu tipe rancangan atau denah operasi-operasi terselubung di masa yang akan datang”. Itulah kudeta merangkak yang dilakukan oleh Jenderal Suharto sejak pembunuhan para jenderal, pengusiran BK dari Halim, pembunuhan massal, pengepunngan Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, akhirnya dijatuhkannya Presiden Sukarno. Keberhasilan operasi AS di Indonesia disebut Presiden Nixon sebagai hadiah paling besar di wilayah Asia Tenggara

Untuk melegitimasi segala tindakann dan memperkokoh kedudukannya, rezim militer Orba menamakan gerakan Letkol Untung tersebut dengan G30S/PKI, pendeknya nama keduanya saling dilekatkan. G30S ya PKI, bukan yang lain. Di sepanjang kekuasannya rezim ini terus-menerus tiada henti mengindoktrinasi dan menjejali otak kita semua, kaum muda dan anak-anak sekolah dengan kampanye ini. Ketika studi sejarah di Indonesia tak lagi bisa dikekang, maka banyak pakar menolak kesahihan penyebutan tersebut. Studi netral hanya menyebut Gerakan 30 September sebagaimana yang tercantum dalam pengumuman gerakan di RRI Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965, atau disingkat untuk keperluan praktis sebagai G30S. Masih ada arus balik riak yang membakari buku dalam tahun ini karena berbeda dengan kepentingan rezim atau pejabat rezim sebagai bagian dari vandalisme masa lampau. (Dari berbagai sumber).

29 thoughts on “Mengenang Malam Jahanam (1): G30S”

  1. adakah yang tahu alamat rumah para jenderal itu, dan di mana mereka diculik? dan di mana pula rumah Majen Soeharto waktu itu?

    salam terima kasih.

  2. @ikun
    berikut alamat rumah para jenderal:
    1. letjen ahmad yani, jalan taman suropati no. 10, menteng
    2. mayjen m.t. harjono, jalan prambanan no. 18, menteng
    3. mayjen s. parman, jalan serang no. 32, menteng
    4. mayjen r. suprapto, jalan basuki no. 19, menteng
    5. brigjen d.i. panjaitan, jalan hasanuddin no. 53, kebayoran
    6. brigjen soetojo siswomiharjo, jalan sumenep no. 17, menteng
    7. jenderla a.h. nasution, jalan imam bonjol no. 72, menteng
    8. mayjen suharto, jalan h.a. salim, menteng

    1. Sepertinya alamat rumah jenderal A Yani adalah:
      jalan Lembang No. 58 Menteng (Disitu pula Beliau diculik dan ditembak)
      Yang di taman Suropati itu rumah dinas Men/Pangad pemberian Bung Karno, yang pada malam (kejadian) Jahanam itu Istri Pak Yani bermalam di situ.

  3. wah, makasih banyak atas pencerahannya. dah lama Saya pengen tau versi laen dari G30 S. tapi, membaca sebagian artikel disini, saya kok berasa ada yang kurang ya…

    Mohon rekomendasi alamat situs yang memuat gerakan PKI yang sebanarnya sejak awal hingga dia dibubarkan. kesannya buku sejarah yang ada sekarang, mulai memudarkan kejahatan PKI hanya karena “katanya” PKI ga terlibat dalm G30S. Saya sebagai generasi muda, ingin tau sejaran kelam bangsa kita. Jangan sampe, pengakaburan sejarah itu, justru menjadikan jalan berkembngnya komunis gaya baru.
    ========================================
    Ibu pun merasakan ketakutan hidup dimasa tahun ’65-an. saat itu ia masih di SMP di Yogya. PKI yang berkembang pesat menburkan bibit2 kebencian terhadap agama, mengejek orang yang berjilbab, dsb. menurut ingatannya pun, di masa sekitar G30S di mana-mana (Yogya khususnya) jelas ada gerakan terselubung di PKI untuk menyingkirkan setiap tokoh agama dan masyarakat yg ga sepaham dengan mereka. Isu ttng Gerwani pun, ada disini, bahkan ada yang melihat sekantong plastik isinya alat kelamin.
    Olehkarenanya, ingin rasanya saya juga membaca ttng gerakan PKI, kebusukan hingga penghianatan.

    Karena Sejelek-jeleknya Bangsa, adalah yang tidak bisa belajar dari sejarah… tentu saya tak ingin kepanikan hidup dimasa itu terulang lagi…
    makasih…

    1. So tuan Hasan yth.
      Singkat ceritera sebenarnya, bung Karno sakit2an. Di ind waktu itu hanya 2 kekuatan yg menonjol yaitu golongan kiri/sukarnois/komunis dan tni yang dipimpin gen nasution. Sukarno chawatir kalau dia meninggal negara akan jatuh ke amerika dan sekutunya ( tentunya imperialis, kapitalis ) .Dan golongan yang paling getol melawan amerika adalah komunis. Aidit masuk dlm perangkap dng biro chususnya dipimpin oleh orang kocluk Sjam Kamaruzaman. Tidak ada semua orang komunis yang tahu akan adanya gerakan G 30 S. yng tahu hanya Aidit dan segelintir pemimpin teras mereka.Tujuan utama yaitu mengam bil general2 kita untuk dibawa ke bung Karno. Suharto sudah di kasih tahu ada gerakan oleh wakil dewan revolusi yaitu let kol Abdul Latief ( temanya Suharto ) .Aidit dan gerombolannya mengira juga kalau suharto sudah dibelakang gerakan 30 Septembet itu. Instruksie aidit gerakan itu adalah intern angkatan darat.Dan anggauta2nya disuruh diam ditempat tidak boleh ber buat apa2. Dng kematian 7 general kita Bung Karno terperanjat dan menyuruh menghentikan gerakan. Gerombolan2 tsb berhenti dng tindakannya dan menyerahkan semua kpd bung Karno.Gerakan hanya berlangsung 2 hari mereka lari tunggang langgang Aidit ke jawa tengah dan dibunuh agar tidak ada jejak yang nantinya muncul dlm persidangan.Dan pimpinan tentara lari berantakan sampai terpegang semua oleh tni dibawah suharto, orang2 komunis/dan keturunannya didaerah2 dihabisin,disiksa.Padahal mereka berdiam diri menyerah begitu saja. CIA sudah siap sebelumnya untuk menjatuhkan Sukarno.Ttg komunis sudah menyiapkan lubangan didaerah2 untuk membunuhin pejabat itu adalah omong kosong belaka. Tidak ada dlm agenda mereka akan menghancurkan orang islam sekalipun ( mereka juga pro palestina melawan isarael) , mengejek orang islam berjibab Itu semua rekayasa dari amerika/general2 yng pro barat.Bagaimana kita sbg orang islam benci banget kepada orang2 komunis.Tentara diberi daftar anggauta 2komunis oleh CIA untuk dijagal. Untuk menjatuhkan sukarno, kaki2nya(komunis,sukarnois,orang2 kiri) harus dihabisin( disunamikan) dng jalan mereka yasa agar kita anti komunis. Jangan heran kalau pemerintahan amerika waktu itu merasa bangga dng menghancurkan komunis di ind, tidak ada satu serdadu ( yanke) yng terbunuh dan tidak ada satu bom napalm yang jatuh di ind, seperti yng terjadi di Vietnam. Dng orde baru yang hebat dan kesaktian suharto indonesia kekayaan alamnya harus dikuras oleh asing kita juga harus menerimanya. Dan dng terbunuhnya/tersiksanya orang2 kiri/komunis/sukarnois kurang lebih 3 juta orang itu, sampai sekarng belum pernah terkuak dlm persidangan hukum baik nasional atau internasional. Tidak seperti di negara2 lain ( Argentina, chili atau dimana saja diamana CIA ambil bagian ) achirnya terkuak juga. General2nya bisa diadilin. Lain dng indonesia dimana kita sebagai negara islam akan tetap membenarkan ttg adanya genoside di indonesia pada th 65/66 itu.Maklum kita ini semua adalah kena sakit jiwa.membunuhin orang2( menyerah begitu saja) yng tidak bersalah, malah dibenarkan oleh agama dan militer dan negara. Hebat toh kita ini sampai sekarangpun tetap bangga mengadili/menghakimin bagsanya sendiri untuk kepentingan bangsa lain. Bravo indonesia.

  4. mas teguh, untuk dikoreksi mengenai alamat para jendral:
    Jen A Yani tepatnya di Jln Lembang no kurang tau, trus alamat jend Nasution harusnya Jln Tengku Umar no kurang tau.

    Saya juga punya dugaan yg sama atas skenario yg dituliskan oleh bang teguh, bahwa kudeta tsb mrp kudeta merangkak karya besar Jendral Korup SOEHARTO sbg antek CIA. dan sy menyakini betul teori konspirasi ala Soeharto

  5. @iwan
    mahalo much alias terima kasih banyak atas informasinya bung. tetapi, alamat jenderal achmad yani yang saya di atas saya salin ulang dari visum et repertum sang jenderal yang bernomor H.103.

    nah, sementara untuk alamat jenderal nasution, mungkin saya salah, karena saya juga salin dari visum et repertum letnan satu piere tendean bernomor H.109.

    tadinya asumsi saya, karena dia ajudan pak nas, maka rumahnya juga disitu. terimakasih karena sudah mengingatkan.

    bagi teman-teman lain yang membaca posting ini, mohon diperhatikan alamat-alamat di atas.

    mahalo

  6. apa yg terjadi th 1965 lalu, merupakan pelajaran berharga atas eksistensi negri ini, skg yg jd pertanyaan adalah: apa yg dilakukan kedepan thdp kejahatan Rezim Orba, dgn kematian Soeharto sbg dedengkotnya lalu solusi konkrit apa thdp para pengambil kebijakan masa lalu?

  7. wah artikel yang menarik yah,,
    suharto memang dalang nya G30S,buktinya jendral pranoto yang di tunjuk sukarno mnjd pengganti sementara.akhirnya malah di fitnah suharto sbg antek2 PKI dan di penjara bertahun2,gak di adili pula tapi hanya di tahan saja,supaya beliau gak buka mulut atas apa yang terjadi sebenarnya.

  8. Ya inilah perjalanan hidup ‘anak’ manusia. Suka tidak suka, perjalan hidup ini harus kita tempuh dengan tertatih-tatih tapi dicoba dengan keyakinan yang benar. Untuk mendapatkan keyakinan yang benar, memang sulit. Karena, belenggu lingkungan hidup kita, ya rumah kita, tetangga kita, kampung kita, negeri kita, sangat dominan. Walau pun kita mengetahui bahwa ini sesuatu yang tidak benar, tapi tetap saja kita sulit untuk ‘mengemukannya’, apa lagi terhadap orang tua kita, sesepuh kita, norma-norma dll. Akhirnya, akal sehat kita, kalah, kalah, kalah. Jadilah kita tetap berada dalam kubangan kehidupan kita sendiri.

    Pada hal kita yakin, bahwa manusia tidak mungkin ‘hidup’ dengan sendiri, pasti ada yang menciptakannya. Sedangkan, roh yang bersemayam di dalam diri kita sendiri, kita tidak tahu ‘dimana’ dia bermukim, di hati, di jantung, di akal dsb. tidak bisa kita pastikan, tapi dia ada dalam diri kita masing-masing. Apa lagi Tuhan, Allah. Wajarlah Tuhan itu tidak nampak oleh manusia, kalau ‘Dia’ nampak dan bisa kitairaba, pegang, berarti ‘berwujud’ fisik alias sama dengan kita, maka yang menjadi permaslahan, ‘dimanakah’ ‘Dia’ ini sepatutnya, sewajarnya, –bermukim—?.

    Semoga kenangan ‘malam jahanam’ ini, membukakan hati nurani kita kepada yang lebih baik lagi.

  9. @9atha
    versi TNI (pemerintah Indonesia) ada. diterbitkan oleh setneg tahun 1994, hampir 30 puluh tahun setelah peristiwa itu terjadi. versi bahasa inggrisnya diluncurkan setahun kemudian.

    tulisan yang anda baca adalah versi harsutejo, salah seorang yang punya kredibilitas untuk menceritakan peristiwa itu dari sudut pandangnya.

  10. @iwan
    aloha bung,
    menyambung revisi alamat jenderal yani dan nasution, barusan saya salin dari buku putih versi pemerintah (1995, english version):

    jenderal ahmad yani, jalan latuharhary no. 6
    jenderal nasution, jalan teuku umar no. 40

  11. nyambung apa yg ditulis diatas, saya cenderung melihat sebuah skanrio besar utk menghancurkan kebesaran suatu negara yg berpengaruh di asia dan agrika yakni INDONESIA, apa yg ditulis diatas sy lebih tertarik dengan apa yg diungkapkan oleh sejarawan dan saksi sejarah Heru Atmojo ia seorang purn TNI AU yg dituduh terlibat dlm peristiwa G 30 S PKI. bawasannya skenario besar adalah pertentangan antara blok komunis ( Timur ) dan blok kapitalis ( Barat ) dan kita masuk dlm rencana AS, dimana memanfaatkan jendral2 di TNI AD, sy melihat mereka didikan AS, lihat kasus perjanjian konfrontasi dgn Malay ( disana ada Ali murtopo, Adam Malik, Benny Murdani,- mereka2 inilah sel2 kepentingan AS ) ditambah dari mafia berkley di saat Orde baru Muncul

  12. saya kira postingan anda ini benar2 berkualitas
    Bisakah saya menyadurnya (tanpa menghilangkan sumber dr anda)..
    terima kasih bung..

  13. @truth seeker
    Tulisan dalam rubrik Malam Jahanam ini karya Harsutejo. Saya hanya ketitipan saja. Silakan dikutip dg menyebut Harsutejo dan alamat urlnya disini. Selebihnya, salam merdeka!!

  14. saya pada dasarnya setuju pd pendapat bahwa ada hal2 yang terdistorsi oleh kekuasaan dimasa lalu, tetapi saya lihat peringatan HAPSAK sekarang sdh tidak lagi seprti dulu, mungkin karena terlalu kental dengan nuansa Soeharto-ism. banyak hal2 yang meragukan, tetapi yang pasti ke tujuh pereira tersebut telah berkorban jiwa dan itu perlu diketahui oleh generasi berikutnya. jangan karena ada 1 buahnya yang busuk lalu kita tebang pohonnya (sehingga mati pula manfaatnya)

  15. Bagi saya semua teori mengenai G30S masih kabur…tapi ambil hikmahnya saja…seandainya tidak ada peristiwa ini saya yakin dan percacya..PKI akan menguasai negeri ini…dimana ketika itu jelas” sukarno memelihara namanya PKI walaupun dia tidak termasuk PKI..saya tidak terbayang jika Indonesia menjadi negara komunis…yang pasti sejarah kelam bangsa ini jangan sampai terulang lg…

  16. Tp saya bingung…knp org kita malah mau balik k jaman soeharto. Berarti org kita msih bnyak yg bodoh..tlong share dalang Petrus dan eksektutornya jg dg.

  17. sebetulnya kalau menurut saya komunis itu dibenci karena kepiawain strategi dan propaganda soeharto dan tidak ada kaitannya dengan ajaran mereka yang tidak percaya dengan Tuhan kemudian semakin berkeyakinan teguh lah masyarakat bahwa PKI adalah ajaran kejam karena pembunuhan 7 perwira tersebut, padahal kalau kita melihat Negara barat sekarang ini lebih banyak orang yang meninggalkan kepercayaan pada agama dan Tuhan dan lebih percaya pada diri sendiri tetapi kehidupan di Negara-Negara barat tidak jadi buruk karena tidak percaya Tuhan atau percaya pada agama atau Tuhan seperti Indonesia yang semakin terlihat fanatik dalam beragama tanpa melihat keadan secara obyektif, maka bangsa Indonesia harus belajar lebih obyektif di dalam melihat sejarah maupun reality kehidupan saat ini, sehingga tidak mudah diperalat bangsa manapun dan selalu tujuannya adalah pro pada kesejahteraan rakyat sehingga peristiwa seperti G30S PKI tidak perluu terulang kembali ataupun ada korban darah atas nama politik busuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s