Barat Menyadari Pentingnya Dunia Islam

Ada yang menarik dari kunjungan dua petinggi besar dunia Barat, Menlu AS Condoleeza Rice, dan PM Inggris Tony Blair, ke Indonesia beberapa waktu lalu. Keduanya sama-sama mengunjungi pondok pesantren, lembaga Islam yang sejauh ini kerap dinilai negatif oleh dunia Barat. Apa makna kunjungan tersebut, dan kepentingan apa yang melatarbelakangi kedua pentinggi itu ‘mampir’ ke pesantren. Apakah hal ini menunjukkan perubahan orientasi dunia Barat terhadap dunia Islam? Untuk memahami lebih dalam masalah tersebut, berikut wawancara tim At-Tanwir dengan intelektual yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif International Center for Islam dan Pluralism (ICIP) Dr M. Syafii Anwar. Petikannya:

Menurut Anda, apa makna kunjungan dua petinggi Barat, Menlu AS Codoleeza Rice, dan PM Inggris Tony Blair, ke pondok pesantren?

Ya, tentu mereka yang lebih tahu. Tapi, dalam khusnuzan (prasangka baik) saya, kunjungan kedua petinggi itu mematahkan dua mitos sekaligus. Pertama, mereka menjadi lebih tahu apa itu dunia pesantren, yang selama ini dipandang Barat secara negatif. Juga di kalangan kelompok radikal, Barat ini dinilai kerap menyudutkan pesantren. Dengan kunjungan tadi, mitos itu tertepis. Kedua, anggapan kelompok radikal bahwa pesantren diintervensi. Saya kira itu tidak terbukti dengan adanya pertanyaan-pertanyaan kritis dari para santri kepada PM Blair saat berkunjung ke pondok pesantren Darunnajah. Blair sendiri cukup terkejut dengan pertanyaan cerdas dan dialog kritis dengan santri yang masih belia usianya. Selain itu, tokoh-tokoh Islam yang bertemu Blair juga tetap kritis terhadap Barat. Bagaimana pun, mereka perlu diberi apresiasi.

Apakah dengan kunjungan itu menunjukkan perubahan orientasi Barat terhadap Islam?

Saya kira demikian. Barat menyadari sejak gelombang protes besar-besaran terkait pemuatan kartun Nabi Muhammad, menunjukkan kecintaan umat Islam terhadap Rasulnya di atas segalanya. Bahkan di negara mayoritas bukan Muslim pun, kalangan non-Muslim turut protes, dan mereka tidak senang dengan pemuatan kartun semacam itu. Ini menunjukkan solidaritas sesama pemeluk agama. Jadi, Barat mulai belajar kepada dunia Islam, dan umat Islam juga tetap harus kritis terhadap Barat, tentunya dengan sikap-sikap yang positif dan konstruktif.

Sejauh ini, hambatan apa yang mengiringi hubungan Islam-Barat?

Pengaruh tesis Huntington, clash of civilization (benturan antar-peradaban). Teori ini harus diakhiri, karena tidak produktif dan dapat memicu ketegangan-ketegangan baru antara Islam dan Barat. Gantinya adalah intensifkan dialog yang produktif, yang didasari saling pengertian dan semangat untuk menemukan kedamaian di masing-masing pihak. Cara kekerasan juga tak menyelesaikan masalah. Bulan lalu saya diundang oleh Brookings Institution dalam konferensi internasional “The US-Islamic World Forum” . Di forum itu, terutama dalam acara TV talk show yang disponsori oleh American Informed Democracy bekerja sama dengan panitia, saya menyatakan secara tegas menolak cara-cara kekerasan dalam kasus kartun itu. Tetapi di sisi yang lain, saya juga sangat kritis terhadap media Barat yang bukan hanya tidak sensitive terhadap perasaan ummat Islam, tapi juga amat naïf, kalau tidak mau dikatakan telah melakukan kebodohan dan berlindung di balik doktrin kebebasan berekspresi yang absolute (absolute freedom of expression). Sejarah peradaban dunia tidak mengenal adanya kebebasan yang absolut. Kebebasan yang dimiliki manusia yang satu, dibatasi oleh kebebasan manusia dan masyarakat yang lain. Alhamdulillah, kritik saya itu mendapat respon yang positif dari para pemirsa di berbagai belahan dunia. Sehingga penyelenggara acara talk show itu, Seth Green, mengucapkan terima kasih karena banyaknya respon positif terhadap pandangan kritis saya. Dengan argumen seperti itu, saya ingin mengatakan kritik yang tajam tapi argumentative jauh lebih mengena ketimbang reaksi yang mengumbar emosi, apalagi tindakan destruktif yang memperburuk citra Islam. Kita harus tunjukkan Islam yang ramah, bukan Islam suka marah-marah. Kritis terhadap Barat itu perlu, tapi harus dilakukan dengan cara yang cerdas dan tidak anarkhis.

Idealnya hubungan seperti apa yang perlu dibangun kedua pihak?

Hubungan yang saling menguntungkan, masing-masing saling belajar. Dialog antar-agama juga penting, namun juga harus diiringi dengan kerjasama antar-agama. Karena kemampuan ideologi sangat terbatas, dan agama yang mampu mengisi keterbatasan itu. Agamalah yang sanggup mendorong dan melakukan perubahan.

Ada seruan untuk membuat lembaga baru untuk membangun hubungan Islam-Barat yang harmonis. Menurut Anda?

Bisa saja. Tapi yang lebih penting, jangan ada arogansi Barat. Selama ini, kesan itu kuat, karena Barat merasa lebih mampu dan maju. Tapi umat Islam juga jangan rendah diri. Yang terpenting adalah, semangat keinginan untuk kemajuan bersama. Kemajuan Barat harus dilihat sebagai tantangan, jangan dilihat sebagai ancaman. Islam dapat belajar dari Barat soal kemajuan mereka. Kita bisa mengambil aspek-aspek yang positif dari peradaban Barat, dan menolak yang negative serta mendatangkan kemudlaratan. Tapi kalau melihat peradaban Barat semata-mata sebagai ancaman, nanti jalan pikirnya adalah permusuhan terus. Tegasnya, dialog dan sikap kritis terhadap Barat diperlukan, tanpa harus terjebak dalam cara berfikir yang konspiratif, apalagi tindakan yang anarkhis.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s