Setali Yahudi Dan Nazi

8 MEI lalu penulis menghadiri peringatan 60 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Eropa. Acara peringatan itu digelar di sebuah persimpangan jalan, di luar kota Hannover, Jerman.

Upacara berlangsung sederhana. Beberapa bangku panjang diletakkan di tengah lapangan kecil di pinggir jalan. Podium disiapkan tak jauh dari sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang Holocaust. “Ode to My Family” dan “No Need to Argue”, dua lagu Cranberries, mengiringi upacara.

Jangan bandingkan upacara kecil ini dengan upacara gegap gempita di Moskow yang dihadiri belasan kepala negara, termasuk George W Bush, Jacques Chirac, Gerard Schroeder, dan Vladimir Putin sebagai tuan rumah. Atau, peresmian monumen Holocaust terbesar yang dipersembahkan bagi orang Yahudi di Berlin tanggal 10 Mei.

Upacara di pinggir jalan yang diikuti penulis hanya dihadiri sekitar dua ratus orang. Beberapa di antara yang hadir adalah orang-orang yang lolos dari neraka kamp konsentrasi Jerman. Mereka datang dari berbagai negara. Mereka sudah sangat renta dan tak mampu berjalan tanpa bantuan orang lain.

Di seberang lokasi upacara tampak sebuah hutan kecil. Dulu, 60 tahun lalu, apa yang tampak sebagai hutan kecil itu adalah sebuah kamp konsentrasi. Namanya kamp konsentrasi Stocken. Seperti Bergen Belsen, bekas kamp konsentrasi lain yang disinggahi penulis dalam kunjungan ini, tak satu bangunan pun di kamp Stocken yang tersisa.

***

8 Mei 1945 pasukan Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada pasukan Sekutu di Berlin. Bagi pasukan Sekutu peristiwa itu dikenal sebagai Victory in Europe Day (VE Day). Sementara orang Yahudi yang bertahan hidup di dalam kamp-kamp konsentrasi Jerman menyebutnya miracle atau keajaiban.

Kini Jerman termasuk negara Eropa yang memiliki populasi Yahudi terbesar. Hubungan antara Jerman dan Israel—yang diakui PBB sebagai negara tahun 1948—mencair pada tahun 1965. Sejak itu ratusan ribu orang Yahudi kembali menetap di Jerman.

Jerman pun merupakan partner utama Israel di samping Amerika Serikat. Kedua negara itu memiliki begitu banyak perjanjian kerjasama, mulai dari kerjasama militer dan intelijen hingga pembuatan film. Jerman disebut sebagai pasar terbesar Israel di Eropa, dan sebaliknya Israel menjadi pasar terbesar Jerman di Timur Tengah.

Namun ketegangan antara Jerman dan Israel dalam kadar tertentu masih terasa. Dan, bukan berarti karena Jerman harus menanggung akibat dari kekejaman Hitler di masa lalu, lantas Jerman rela mengekor apa pun langkah politik Israel.

The Economist edisi Mei 2005 mengutip, dalam polling yang dilakukan Universitas Bielefeld tahun lalu, misalnya, tak kurang dari 80 persen rakyat Jerman marah melihat perlakuan Israel terhadap Palestina. Menurut mereka apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Nazi di masa Perang Dunia Kedua terhadap orang Yahudi.

Masih menurut The Economist, imigran Yahudi di Jerman pun mulai jadi persoalan. Dewan Pusat Komunitas Yahudi di Jerman saat ini sedang bernegosiasi dengan pemerintah Jerman mengenai batas jumlah imigran Yahudi yang diperbolehkan masuk ke negara itu. Sementara pemerintah Jerman hendak menerapkan seleksi terhadap imigran Yahudi berdasarkan sejumlah kriteria, seperti kemampuan berbahasa Jerman dan peluang memperoleh pekerjaan di Jerman. Maklumlah, hidup semakin mahal di Jerman.

Warga Israel juga punya pandangan yang relatif negatif terhadap “bekas musuh” mereka ini. Dalam sebuah polling yang baru-baru dilakukan di Israel, sebanyak 37 persen generasi muda Israel melihat Nazi berpeluang kembali berkuasa di Jerman.

Pemerintah Israel pun khawatir kebijakan politik luar negeri Jerman akan lebih ditentukan pada konsensus Uni Eropa yang cenderung berseberangan dengan kebijakan saudara utama Israel, Amerika Serikat. Israel khawatir lambat laun Jerman akan melupakan kewajiban sejarah mereka sebagai pihak yang paling bersalah atas penderitaan orang Yahudi selama Perang Dunia Kedua.

***

dailyexpress_march1933_judeafrontpagejpg

Siapa di antara kedua kubu itu yang lebih dahulu menyebar kebencian? Komunitas Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru dunia, atau pemerintahan Third Reich di bawah kekuasaan Hitler?

Menurut sebuah catatan, orang Yahudi lah yang pertama kali menyatakan perang terhadap Jerman. Pernyataan perang itu diputuskan dalam pertemuan para pemimpin Yahudi dari seluruh penjuru dunia tanggal 23 Maret 1933, atau enam tahun sebelum perang yang sesungguhnya dimulai.

Deklarasi itu diberitakan secara luas, termasuk oleh harian yang terbit di London, Inggris, Daily Express. Koran itu menurunkan headline berjudul “Judea Declares War on Germany”. Pertemuan para pemimpin Yahudi itu pun memutuskan boycott terhadap produk-produk Jerman dan menghentikan kerjasama mereka dengan pengusaha Jerman.

Tanpa disadari, pernyataan perang melawan Jerman dan aksi boycott itu telah menyulut gerakan anti-Yahudi di Jerman. Orang Yahudi di Jerman, misalnya, dilarang bekerja sebagai dosen dan jurnalis.

Deklarasi perang yang diumumkan Yahudi itu pun telah memicu rasisme di negara-negara lain. Di Amerika, orang-orang Jepang ditangkapi. Di Kanada dan Inggris, orang-orang Italia dimasukkan ke bui. Rakyat Merdeka, 23 Mei 2005 [t]

3 comments

Leave a Reply to kasenk Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s