Book Reviews

Silang Sengkarut Di Depan Rumah Kita

AMIN Maalouf lahir di Beirut, Lebanon, 56 tahun lalu dari keluarga kelas menengah Katholik Arab. Ayahnya, Ruchdi Maalouf, adalah seorang penulis, jurnalis, dan guru yang dihormati komunitas mereka. Dan ibunya, Odette, adalah juga wanita terhormat yang lahir di tengah keluarga Kristen Maronite. Di usia muda, Amin Maalouf mengikuti pendidikan di Akademi Jesuit Prancis, di kampung halamannya, Beirut. Di tempat itulah dia mempelajari sosiologi dan ekonomi.

In the Name of Identity
Amin Maalouf
Resist Book, November 2004
180 halaman

Setelah tamat dari Akademi Jesuit Prancis, Amin melanjutkan tradisi keluarga: menjadi penulis dan jurnalis. Di usia 22 tahun, Amin memulai karirnya dan bergabung dengan harian terkemuka di Beirut, An Nahar. Beberapa tahun kemudian dia bergabung dengan Jeune Afrique.

Sebagai jurnalis Amin berkesempatan mengunjungi banyak negara, sebut saja India, Bangladesh, Ethiopia, Somalia, Kenya, Yaman dan juga Aljazair. Di negara-negara itu dia meliput perang dan konflik.

Di tempat-tempat inilah Amin pertama kali bersentuhan langsung dengan konflik antar-identitas, sesuatu yang sebelum itu melotok dipelajarinya di bangku kuliah. Laporan-laporan dari medan perang membuat namanya terangkat dan menjadikannya salah seorang jurnalis Lebanon yang diperhitungkan. Dan pengalamannya di banyak negeri itu pula yang menginsipirasi novel-novelnya.

Sebut saja misalnya, Ports of Call yang berjudul asli Les Échelles du Levant, yang ditulis Amin tahun 1996. Dalam novel itu, seorang veteran Perang Dunia II kelahiran Lebanon dari keluarga Islam Ottoman dan Armenian, bernama Ossyane terhenyak ketika cintanya pada seorang gadis Yahudi bernama Clara harus berhadapan dengan penolakan dari keluarga besarnya. Dalam tradisi luhur keluarga Ossyane, Islam dan Yahudi adalah dua hal yang tak mungkin disatukan.

Kembali ke Amin muda. Amin tak bisa menghindar ketika perang antar-identitas pun tiba di Lebanon yang dicintainya. Kini Amien dia menyadari, dirinya tak perlu lagi mengunjungi negara lain hanya untuk mempelajari konflik atas identitas, seperti yang sudah-sudah. Bukankah perang atas nama identitas telah tiba di depan rumahnya. Milisi Kristen yang sejak beberapa waktu sebelumnya merasa khawatir melihat kebangkitan kembali Islam di jazirah Arab dan mencium gelagat tak mengenakan dari Palestinian Liberation Organization (PLO) justru mengambil inisatif menyerang lebih dahulu. Lebanon saat itu terbelah menjadi tiga, Kriten, Syiah dan Sunni.

Saat itu tahun 1977, dan Amin memasuki usia 27 tahun. Bersama istri dan anggota keluarganya yang lain, Amin memutuskan untuk angkat kaki dari Beirut menuju Paris, Prancis. Hingga kini Amin tinggal di Prancis. Dan dia lebih sering berbicara juga menulis novel dalam bahasa Prancis.

Sebagai seorang pria kelahiran Lebanon yang menetap di Prancis, Amin sering mendapat pertanyaan: apakah Anda lebih merasa sebagai orang Lebanon atau orang Prancis? Setiap kali diajukan pertanyaan yang itu-itu saja, Amin pun selalu menjawab dengan jawaban yang itu-itu saja: kedua-duanya, ya Lebanon, ya Prancis.

Seringkali, jawaban Amin itu dinilai sebagai sesuatu yang tak masuk akal dan mengada-ada oleh siapapun yang mendengarkannya. Bagaimana mungkin, dan bukankah sesuatu yang tak masuk akal, bila ada satu individu dengan lebih dari satu identitas.

“Kata identitas merefleksikan sebuah gagasan yang cukup presisi—gagasan yang secara teori mestinya tidak menimbulkan kebingungan. Sungguhkah kita butuh argumen panjang untuk membuktikan tak ada dan tak bakal ada dua individu yang identik?” katanya di halaman 10.

Amin lebih memilih jawabannya sendiri. “Identitas tiap individu tersusun dari sejumlah unsur, dan unsur-unsur itu jelas bukan terbatas pada hal-hal khusus yang tercantum dalam catatan resmi.” Identitas seorang individu yang harusnya membuat dia jadi unik di hadapan individu lain, pada kenyataannya adalah pertalian akan banyak hal, agama, bangsa, ras, tempat tinggal dan sebagainya, yang di sisi lain sebetulnya malah bisa jadi menghilangkan sebagian (besar) dari keunikan sang individu.

Apakah di Prancis Amin tak menemui lagi perang antar-identitas. Tunggu dulu. Belakangan ini, kata Amin di halaman 76, kawan-kawan Prancisnya cenderung membicarakan globalisasi sebagai sesuatu yang membahayakan dan mengancam identitas Prancis mereka. Mereka memandang kampung global adalah nama lain Amerikanisasi. “Mereka dongkol ketika sebuah gerai fast food buka di lingkungannya. Mereka lancarkan kecaman keras terhadap Hollywood, CNN, Disney dan Microsoft.”

Orang-orang Prancis yang sejak dahulu kala mengagung-agungkan identitas mereka, memandang sinis ikon-ikon peradaban Amerika itu sebagai kuda Troya yang sengaja disusupkan. Pun bagi kebanyakan mereka, Amerika tak lebih dari peradaban yang lebih gemar menghancurkan peradaban lain. Dan, bukankah itu alasan yang cukup masuk akal untuk memperkuat benteng pertahanan mereka, orang-orang Prancis?

Amin Maalouf telah melihat banyak konflik antar-identitas di atas muka bumi ini. Tetapi bagi kita rasanya tak perlu jauh-jauh melongok Rusia atau Yugoslavia yang hancur karena sengketa identitas yang meruyak dan mengoyak negara-negara itu. Atau ke Timur Tengah yang sedang berdiri di bibir tebing, setelah Amerika berhasil memaksakan skema demokratisasi dan jalan damai ala mereka. Atau ke Semenanjung Korea untuk menyaksikan perebutan klaim atas identitas: yang mana yang Korea, yang di Selatan dan back up Amerika, atau yang di Utara dan memilih menjadi penyendiri.

Di halaman rumah kita pun silang sengkarut itu nyata adanya. Coba tanya si Agam dari Aceh—tanah yang telah puluhan tahun hidup di bawah stempel perang penguasa Jakarta dan terpinggirkan. Apakah hari ini mengaku sebagai orang Indonesia adalah persoalan yang mudah bagi si Agam? Apakah tidak lebih baik bila si Agam menyatakan diri sebagai orang Aceh saja?

Januari 1999, perang antar-identitas terjadi di Maluku. Hanya dalam waktu sembilan bulan, setidaknya 1.132 orang tewas sebagai korban. Hingga kini pun, diam-diam pertanyaan itu masih ada: siapakah orang Maluku, yang Islam, atau yang Kristen? Begitu juga di Papua, begitu juga di Kalimantan, dan di pelosok-pelosok lain kepulauan ini. Belum lagi konflik identitas klasik antara Jawa dan non-Jawa, pribumi dan non-pribumi, Indonesia barat dan Indonesia Timur. Dan seterusnya.

Ternyata identitas bagi kita pun masih menjadi masalah. Tetapi itulah kenyataan. Ah, agar lebih bijak menyikapi, rasanya tak salah kalau kita sisakan waktu sejenak membaca tulisan Amin Maalouf ini. Tabik. Rakyat Merdeka, 3 April 2005 [t]

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s