Mr 2,5 Persen Tetap Ditolak Jadi Menteri

SELAIN ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Mari Elka Pangestu dan ekonomi International Monetary Fund (IMF) Sri Mulyani Indrawati, kritik keras masih diarahkan kepada pengusaha Aburizal Bakrie. Aburizal dan Mari telah menghadap SBY hari Sabtu lalu.

Menurut Ketua Presidium Komite Waspada Orde Baru Judilhery Justam, Ical, begitu Aburizal biasa disapa, bukan figur yang tepat untuk menduduki kursi menteri di kabinet SBY, apalagi menempati posisi menteri koordinator perekonomian seperti santer disebut. Ical, kata Judil, termasuk pengutang terbesar di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dan hingga kini belum semua kewajibannya diselesaikan, hingga BPPN akhirnya dibubarkan dan diganti dengan PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA).

Seorang anggota Komisi X DPR periode 1999-2004 juga menyesalkan keputusan SBY mempertimbangkan Ical sebagai salah seorang anggota tim ekonominya. Menurutnya, di kalangan anggota Komisi IX, Ical dikenal dengan “Mr 2,5 Persen” sebab saham Ical di Bakrie Group hanya tinggal 2,5 persen.

Protes juga dilayangkan Prayan Purba, Redpel Sinar Pagi, media yang dikelola oleh kelompok usaha Bakrie dan ditutup sejak tahun 2003 lalu. Saat dihubungi kemarin, Prayan berkata, “Mengurus Sinar Pagi saja dia tidak mampu. Sudah setahun nasib karyawan Sinar Pagi tidak jelas. Sampai sekarang belum ada pesangon untuk kami,” katanya tajam.

Senada dengan Prayan, anggota Serikat Karyawan Sinar Pagi, Fuad, mengatakan 100 karyawan Sinar Pagi hingga saat ini masih terkatung-katung. Pesangon untuk semua karyawan sekitar Rp 3 miliar belum juga dibayar. “Tuntaskan dulu pe er kecil ini, baru dia bisa ngurus pekerjaan yang besar,” ujarya.

Orang di lingkungan SBY pun masih keberatan dengan pemanggilan Ical itu. Mereka khawatir potensi abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan bila Ical menjadi menteri.

Bulan Juni lalu, Ical mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Komisaris PT Bakrie & Brothers Tbk, perusahaan diwariskan ayahnya, H Ahmad Bakrie.

“Kami telah menyelesaikan kewajiban kepada perbankan, dan yang terpenting, perusahaan ini sudah memberikan keuntungan,” sambungnya.

Secara terpisah Yusuf M Martak, salah seorang pengusaha yang mengikuti dari dekat perjalanan bisnis Ical mengatakan, Ical adalah pengusaha pribumi yang dapat dipercaya.

“Dia sudah menduduki posisi Ketua Umum Kadin selama dua periode. Ini membuktikan dia di atas rata-rata. Jusuf Kalla tahu persis siapa Ical, sebab Jusuh Kalla adalah Ketua Kadinda Sulsel. Kami sangat respek dan mendukung langkah yang diambilnya,” kata bos Grup Marba ini.

Menurut Yusuf, Ical juga sosok yang berani berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Hal itu diperlihatkan Ical, misalnya, saat dia menjual Bank Nusa miliknya. Atau, saat dia menjual sebagian besar sahamnya di Bakrie Brother kepada pihak luar untuk melunasi utangnya, sekitar 1999-2000, di saat volume bisnis Bakrie sedang menanjak.

Yusuf pun meragukan peluang abuse of power bila Ical jadi menteri. “Siapapun bisa melakukan itu. Yang penting adalah kontrol. Dari latar belakang dunia usaha, Bakrie Grup tidak seperti pengusaha yang mengandalkan fasilitas dan koneksitas. Dia membangun kerajaan bisnisnya dari nol,” ujarnya lagi. GUH/AUL/MUL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s