Diyarbakir

0312
Perdana Menteri Turki yang baru terpilih, Tayyip Erdogan, akan menggusur beberapa menteri di kabinet terdahulu yang tidak mendukung rencana penempatan 62.000 pasukan Amerika di wilayah Turki. Erdogan juga memotong jumlah menterinya, dari 24 menjadi 20 menteri.

Ini bukan barang baru bagi publik Turki. Beberapa hari sebelum memastikan diri menang dalam putaran terakhir pemilihan umum sela, Erdogan telah menyampaikan ancaman serupa. Kemenangan Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (PKP) yang dipimpinnya, diperoleh usai pemungutan suara dalam putaran terakhir di propinsi Siirt, kampung halaman isteri Erdogan, hari Minggu lalu.

Rencana pembersihan kabinet itu jelas disambut tepuk tangan riuh oleh para pendukung Presiden Amerika George Bush dan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Karena dengan demikian, Amerika Cs punya kesempatan kedua untuk mengajukan kembali tawaran “menarik” bagi Turki. Yakni hibah 6 miliar dolar Amerika dan pinjaman lunak 24 miliar dolar Amerika, bila Turki memperbolehkan puluhan ribu serdadu Amerika menggunakan wilayah timur dan selatan Turki untuk menyerang Irak. Selain serdadu dalam jumlah besar, Amerika juga akan menempatkan sekitar 320 pesawat-pesawat tempurnya di pangkalan militer Diyarbakir.

Dalam voting yang dilakukan dua pekan lalu, parlemen Turki dengan tegas menolak proposal yang ditawarkan Perdana Menteri sebelumnya, Abdullah Gul. Tayyip Erdogan dan Abdullah Gul keki luar biasa saat itu. Soalnya, 90 anggota dewan dari PKP juga ikut menyatakan nehi alias tidak pada Amerika. Bukan itu saja, beberapa menteri yang dipercaya Abdullah Gul akan mendukungnya, juga balik kanan. Mereka serentak mengatakan no way bila Turki bersedia diperalat Amerika. Abdullah Gus semakin masygul.

Hebatnya lagi, para menteri itu bukan jenis menteri yang ABS atau asal bapak senang. Mereka tidak melakukan penolakan secara diam-diam. Mereka mengutarakan pendapatnya secara terbuka. Pernyataan-pernyataan mereka dimuat berbagai media massa lokal.

Secara umum, menteri-menteri Turki yang anti-Amerika ini menentang argumen yang disampaikan Abdullah Gul dan Tayyip Erdogan. Menurut dua petinggi PKP itu, kinilah kesempatan terbaik bagi Turki untuk memenangkan pertempuran dengan orang-orang Kurdi. Mereka percaya, Amerika juga akan membantu Turki menyelesaikan masalah dengan orang-orang Kurdi di wilayah Irak.

Menurut menteri-menteri itu, yang akan terjadi adalah sebaliknya. Amerika lebih memilih Kurdi daripada Turki. Kubu menteri anti-Amerika ini mendapat dukungan dari 90 persen rakyat Turki. Apalagi, Dewan Ekonomi Nasional Turki (Union of Turkish Chamber Commerce) memperkirakan, bila perang terjadi Turki mesti mengeluarkan tidak kurang dari 16 miliar dolar Amerika, untuk berbagai hal. Mulai dari, untuk makanan prajurit Turki yang ikut perang, biaya perawatan serdadu dan masyarakat yang luka-luka sampai biaya penanggulangan pengungsi dari wilayah Irak. Jadi, bagi Turki apanya yang untung.

Konflik antara Turki dan Kurdi berlangsung cukup lama dan berkaitan dengan klaim terhadap daerah yang ditempati suku Kurdi di wilayah Turki dan Irak. Kota Kirkuk di utara Irak menjadi titik yang paling diperebutkan keduanya. Orang-orang Kurdi menyebut Kirkuk sebagai Jerusalem-nya orang Kurdi. Sementara Turki mengatakan kota itu ditempati oleh suku Turkmen. Dilihat dari namanya saja, suku Turkmen ini memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah Turki di masa lalu. Entahlah siapa diantara mereka yang benar. Yang jelas, Kirkuk adalah wilayah yang kaya minyak. Lokasinya berada di antara garis 33 derajat dan 36 derajat lintang utara wilayah Irak, di bawah kekuasaan Saddam Hussein.[t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s