Fitnah

0304
Di Abu Kamal pekan lalu, di garis perbatasan Syria dengan Irak, saya bertemu seorang pedagang dari Baghdad. Waktu saya tanya bagaimana keadaan di Baghdad, dia menjawab, “Aman-aman saja. Kami tahu, Amerika mau menyerang negeri kami.”

Lalu dia berkata lagi sambil memilin satu demi satu biji tasbih di tangan kanannya.

“Bukan Saddam Hussein yang akan melindungi rakyat Irak. Saddam adalah pemimpin yang baik. Tapi, dia cuma manusia biasa. Manusia biasa seperti dia, seperti kita, punya banyak kelemahan. Bagaimana mungkin seorang Saddam bisa mengalahkan keserakahan Amerika,” kata laki-laki itu.

“Anda tahu siapa yang akan melindungi rakyat Irak dari semua rencana jahat Amerika?” dia bertanya. Suaranya pelan saja.

Saya belum lagi menjawab. Dan dia pun kelihatannya memang tidak menunggu jawaban. Dia sudah buka mulut lagi.

Allah subhanahu wa ta’ala yang akan melindungi kami, bangsa Irak. Tangan Allah lebih kuat dari semua rudal dan pesawat perang yang dimiliki Amerika. Allah itu tak tertandingi. Anda percaya?” tanyanya. Saya mengangguk.

“Bismillah, dengan nama Allah, ayo lawan Amerika,” sambungnya.

Katanya sebulan sekali, paling tidak, dia mengunjungi Abu Kamal untuk berdagang. Dia punya toko di Baghdad dan Abu Kamal. Tokonya di Abu Kamal dijaga oleh keluarganya, orang Irak juga. Dia punya tujuh orang anak. Lima perempuan dan dua laki-laki.

Kalau tiba-tiba Amerika menyerang Baghdad selagi Anda berada di sini bagaimana?

Dia tersenyum.

“Anak-anak saya sudah besar. Mereka pasti bisa membela diri seperti pemuda Irak lainnya. Sejak kecil, anak-anak Irak dididik mencintai negara dan menghormati orang tua. Bangsa Irak tidak takut pada siapapun, juga Amerika.”

Laki-laki tua ini pernah jadi tentara Irak. Waktu saya tanya, apa pangkat terakhirnya di militer, dia bilang tidak ada pangkat-pangkatan. Kalau jadi tentara, tak baik memikirkan pangkat. Tentara ya tentara. Tugas utamanya menjaga kedaulatan dan melindungi rakyat. Bukan mikirin pangkat.

Saya tanya, apakah dia ikut perang Iran-Irak, 1980-1988. Dia menggeleng. Katanya, waktu itu dia diperintahkan bersiap siaga di Baghdad. Berjaga-jaga, kalau-kalau pasukan Iran berhasil mengalahkan pasukan Irak di garis perbatasan dan bergerak masuk kota Baghdad.

Saya tanya lagi. Kali ini soal, sebut saja desas desus, Amerika memasok senjata kepada Irak selama perang delapan tahun itu. Alasannya, karena Amerika tak mau revolusi Iran berkembangan menjadi kekuatan baru di masa perang dingin saat itu. Tindakan itu juga upaya Amerika mencuri perhatian Irak yang ketika itu tengah menjalin hubungan baik dengan Uni Soviet.

Tadinya laki-laki tua itu tak mau menjawab. Dia menggelengkan kepala berkali-kali. Setelah saya desak, dengan sedikit menarik nafas, dia menjawab.

“Tidak benar Irak diberi senjata oleh Amerika. Itu fitnah. Senjata-senjata Amerika yang ada saat itu dibeli Irak dari negara-negara Arab lain,” begitu jawabnya.

Katanya, selain soal senjata Irak saat perang Iran-Irak, ada satu lagi fitnah yang sengaja dihembus pihak Barat. Fitnah ini jauh lebih berbahaya.

“Anda mungkin pernah mendengar cerita Saddam membantai orang-orang Syiah. Itu juga fitnah dan propaganda yang dilakukan pihak Barat untuk memecah belah umat Islam. Saddam Hussein juga shalat di Najaf kok,” jelasnya. Najaf adalah kota di barat daya Baghdad. Di kota itu ada makam Imam Ali bin Abu Thalib, sepupu dan menantu Nabi Muhammad. Makam Imam Ali menjadi salah satu tempat penting bagi kaum Syiah.[t]

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s