Di Pintu Irak

0228
HAMPIR pukul 11.00, saya tiba di pintu gerbang perbatasan Syria dan Irak. Taksi yang saya tumpangi memutar ke kanan, lalu berhenti di pelataran parkir.

Di sisi kiri jalan, ada sebuah pos jaga. Kosong. Di sebelah kanannya sebuah rumah papan. Pintunya tertutup. Seperti pos jaga tadi, rumah papan itu juga berwarna hijau. Catnya mengelupas di sana sini. Di atas rumah papan itu bendera Syria, strip merah putih dan hitam dengan dua bintang berwarna hijau di tengah, berkibar di tiup angin. Lukisan Presiden Bashar Al Assad dalam ukuran besar di atas baliho tembok, berdiri tak jauh di sebelah kanan pos jaga.

Yang paling mencolok di garis perbatasan itu bukanlah pos jaga atau rumah papan tadi. Juga bukan lukisan raksasa Bashar. Tapi puluhan truk boks dan truk tanki, dari berbagai kota di Syria yang berjejer rapi di pojok kiri. Supir-supirnya sedang antre mengurus berbagai macam dokumen menuju Irak di seberang pos jaga.

Beberapa mobil berukuran besar, bermerek GMC, berwarna putih dengan strip oranye di bagian muka dan belakang diparkir di depan truk-truk tadi. Mobil-mobil besar ini adalah taksi dari Irak. Setiap hari ada puluhan taksi yang membawa orang-orang Irak ke Syria. Kebanyakan mereka berasal dari Baghdad dan Najaf.

Taksi-taksi ini juga yang sering saya lihat di distrik Sayyidah Zaenab, sepuluh kilometer di luar Damaskus. Distrik Sayyidah Zaenab menjadi salah satu tempat ziarah bagi kaum Syiah, termasuk kaum Syiah dari Irak. Di distrik itu terdapat makam cucu Nabi Muhammad SAW. Namanya Sayyidah Zaenab. Dia ini anak Imam Ali bin Abu Thalib. Sayyidah Zaenab dibawa ke Damaskus bersama kepala kakaknya, Hussein bin Ali bin Abu Thalib, yang dipenggal pasukan Yazid bin Muawiyah. Ini sepenggal kisah dalam sejarah perkembangan Islam.

Di kaca sebelah kiri sebuah taksi GMC, ada gambar Saddam Hussein mengenakan baju tentara. Di sebelahnya, gambar Saddam lagi. Tapi yang ini, dia tidak sendiri. Dia didampingi dua anaknya, Uday Hussein dan Qussey Huseein, di kanan dan kiri.

Nun di sana, sekitar 50 meter, bendera Irak berkibar-kibar di atas gerbang masuk ke Irak. Bendera Syria dan Irak selintas terlihat sama. Bedanya, bintang hijau di strip putih pada bendera Irak berjumlah tiga. Dan sejak Perang Teluk 1991, Saddam Hussein menuliskan kata-kata Allahu Akbar di antara ketiga bintang hijau itu.

Beberapa truk tengah melintas di garis terakhir menuju Irak. Beberapa tentara, menenteng Automat Kalashnikov (AK), dari kedua negara mengawasi truk-truk itu. Tak berapa jauh dari mereka, ada lukisan raksasa Saddam. Si kumis tebal ini seolah ikut mengawasi truk-truk yang lalu lalang ke luar masuk wilayahnya.

Pasca Perang Teluk, Syria menjadi partner dagang yang baik bagi Irak. Seorang pejabat PBB di Damaskus bercerita kepada saya. Katanya, Irak mengirimkan minyaknya ke Syria selama diembargo PBB. Dari Syria, minyak Irak dijual ke pasar dunia.

Katanya lagi, dia pernah menawarkan minyak Irak ke salah seorang pengusaha minyak Indonesia. (Dia sebutkan nama pengusaha itu).

“Harga minya di pasar dunia saat itu 24 dolar Amerika per barel. Syria menjual minyak Irak seharga 20 dolar Amerika per barel. Saya mendapat komisi satu dolar Amerika per barel. Sayang, jual beli itu batal. Di Singapura, minyak itu ditolak. Ketahuan produksi Irak. Kalau tidak, saya sudah kaya sekarang. Malah nggak bisa tidur nyenyak,” ceritanya.[t]

Advertisements

1 thought on “Di Pintu Irak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s