Anda Harus Bertemu Saddam, Melihat Betapa Gagahnya Dia

sur28

0226
SUPIR taksi membawa saya ke garis perbatasan Syria dan Irak di Abu Kamal. Katanya, beberapa hari lalu dia membantu seorang warga negara asing menyeberang ke Irak.

“Petugas di perbatasan bisa membantu Anda memperoleh visa Irak,” ujarnya meyakinkan.

Taksi membelah jalanan Abu Kamal ke arah selatan. Marwan Yakub, si supir taksi itu, menyalakan televisi kecil di atas dashboard mobilnya. Sebentar tangannya memutar-mutar tombol tuning di sisi kiri televisi.

“Sudah pernah menonton televisi Irak?” tanyanya. Saya menggeleng.

“Ini siaran berbahasa Kurdi. Nanti siang baru siaran berbahasa Arab,” Marwan menjelaskan.

Di layar televisi muncul beberapa orang, lelaki dan wanita, mengenakan baju tradisional suku Kurdi, tengah menari dalam lingkaran kecil. Sebentar tangan mereka ditepuk ke udara, sebentar kemudian bergandengan tangan dan kaki diayunkan ke depan sambil berputar dalam lingkaran.

“Lagu ini untuk menghormati Saddam. Lagu ini juga bercerita tentang negeri Irak yang luar biasa. Irak negeri para pahlawan yang tak kenal menyerah, sebesar dan sekuat apa pun musuh yang mereka hadapi,” Marwan masih menjelaskan.

Sebentar gambar tari-tarian itu hilang, diganti gambar Saddam di tengah sebuah ruangan besar. Di kanan dan kiri Saddam duduk beberapa orang yang tengah menyimak perkataan Saddam. Lagu puji-pujian masih berlanjut.

“Itu pemimpin suku Kurdi,” kata Marwan sekali lagi.

Gambar di layar kaca berubah lagi. Kali ini Saddam tengah mengusap-usap kepala seorang bocah di pedesaan Irak. Lalu gambar Saddam tengah berdoa di sebuah masjid.

“Nah, itu Saddam sedang berdoa di makam Abdul Qadir Zaelani,” jelas Marwan. Abdul Qadir Zaelani adalah seorang ulama sufi dari Aljazair yang dimakamkan di Baghdad.

Marwan bangga sekali dengan Saddam Hussein. Sepanjang jalan, ceritanya melulu tentang Irak dan pemimpin Irak itu.

“Syam (maksudnya Damaskus) besar dan ramai. Tetapi Baghdad lebih besar lagi,” ucapnya.

Dia menyebut Saddam sebagai pahlawan, sejatinya pahlawan, dari daratan Arab, orang yang berani menentang Amerika. Dan, setiap kali menyebut kata Amerika, tangan kanannya digesek-gesekkan ke leher. Menirukan gerakan menggorok leher. Mulutnya berucap, laknatullah dan jahanam.

“Amerika yang membawa kehancuran di dunia ini,” komentarnya. Marwan bukan satu-satunya orang yang berkomentar seperti itu.

“Saya dengar, Saddam membunuh warga Irak,” akhirnya saya bertanya juga.

Beberapa kali saya mendengar cerita tentang pembantaian orang-orang Syiah di Irak, atau pembunuhan massal dengan menggunakan senjata kimia di wilayah utara Irak. Semua aksi itu, kata kelompok oposisi dilakukan oleh Saddaam, atau atas perintah Saddam. Hingga kini jutaan warga Irak mengungsi keluar dari negerinya, menyebar di banyak negara. Iran dan Syria, sampai ke Indonesia dan Australia sana.

Marwan membunyikan mulut, “Ck, ck, ck.” Artinya, tidak.

“Para pengkhianat memang patut dibunuh. Dulu, Irak lemah. Setelah Saddam datang, Irak jadi kuat. Sangat kuat. Sekarang Irak lemah lagi karena dikeroyok Amerika dan PBB. Mereka mengambil minyak Irak. Belum lagi kelompok pengkhianat di dalam negeri yang selalu mengganggu,” Marwan ngoceh panjang lebar.

“Sudah pernah bertemu Saddam?” tanyanya tiba-tiba.

Saya menggeleng. Mau bertemu bagaimana, masuk Irak saja belum, jawab saya sekenanya.

“Anda harus bertemu Saddam, melihat betapa gagahnya dia. Saddam jago berenang, seperti ikan. Dia suka berenang di sungai Dijleh (Tigris), katanya.

“Tentulah sulit membunuh orang seperti Saddam,” sambungnya.[t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s