Hizbudakwah

0219
TAHUN 1957, di Irak berdiri sebuah kelompok Islam fundamentalis. Namanya Hizbudakwah. Pendirinya Sayyid Muhammad Baqir Sadhar. Sebagai kelompok Islam fundamentalis sudah tentu Hizbu Dakwah punya cita-cita tunggal, yakni mendirikan negara Islam Irak.

Untuk mendirikan negara Islam pengikut gerakan ini tidak menenteng pedang keliling kota setiap hari. Seperti namanya, Hizbudakwah menggalang ide kemerdekaan negara Islam Irak melalui dakwah, pengajian dari satu masjid ke masjid lain.

Hizbudakwah punya pengaruh luas di kawasan Timur Tengah. Pengaruhnya sampai di Libanon. Kelompok garis keras Hizbullah juga didirikan oleh aktivis Hizbudakwah, Sayyid Abas Musami dan Syeikh Subhil Tufaili.

Sayyid Muhammad Baqir Sadhar dicintai para pengikutnya. Bagi mereka, dia adalah pemimpin revolusi Irak. Dia adalah seorang pemikir Islam kontemporer. Dua buku yang ditulisnya, Falsafatuna dan Iktisoduna terkenal sampai ke negeri kita.

Cerita tentang Hizbudakwah saya dengar dari seorang pengungsi Irak di Sayyidah Zaenab, Syeikh Ammar Al Ka’by. Syeikh yang satu ini meninggalkan Irak menuju Iran. Enam tahun lamanya dia menetap di Qum, Iran. Baru sekitar tiga tahun lalu dia tiba di Syria dan bergabung dengan puluhan ribu pengungsi Irak lainnya.

Bulan April 1980, Sayyid Muhammad Baqir Sadhar tewas. Para pengikutnya percaya, Saddam Hussein lah pembunuhnya, kata Syeikh Ammar Al Ka’by.

Sebelum peristiwa pembunuhan itu rezim Saddam yang baru berdiri menangkapi beberapa pemuda pengikut Hizbudakwah. Sejak Sayyid Muhammad Baqir Sadhar tewas, gerakan Hizbudakwah dan gerakan kaum Syiah lainnya dibatasi pemerintah. Hizbudakwah menjadi gerakan dakwah bawah tanah.

Karena begitu takut dengan rezim Saddam, para pengikut Hizbudakwah rela dituduh jadi pencuri dari pada disebut anggota Hizbudakwah dan mati.

Kenapa Saddam membunuh Sayyid Muhammad Baqir Sadhar, tanya saya. “Ini semua berangkat dari hasutan Amerika dan sekutunya yang takut pada revolusi kaum Syiah di Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeni tahun 1979. Amerika menggunakan Saddam Hussein sebagai boneka untuk menghambat pengaruh Iran. Di sisi lain, Saddam adalah orang yang ambisius, tega melakukan apapun agar tujuannya tercapai,” kata Syeikh Ammar menjelaskan.

Bosan menjadi gerakan bawah tanah, tahun 1996 Hizbudakwah muncul lagi. Kali ini yang memimpin seorang syeikh bernama Muhammad Muhammad Shadiq Sadhar. Saat itu peta politik Irak sudah berubah. Irak tak lagi menjadi kaki tangan Amerika. Ambisi Saddam mengubah Irak menjadi ancaman besar bagi Amerika. Tapi, tetap saja gerakan semacam Hizbudakwah tak dapat diterima Saddam.

Muhammad Muhammad Shadiq Sadhar ini tak kalah garang dibanding pendahulunya. Dia membuka kembali shalat Jumat di masjid Kufa, Baghdad. Dalam setiap khotbah Jumat, Muhammad Muhammad Shadiq Sadhar mengenakan kain kafan. Ini tandanya, “Saya siap mati demi negara Islam.”

Bulan Februari 1996Muhammad Muhammad Shadiq Sadhar tewas. Dia dan keluarganya baru pulang dari shalat Jumat di masjid Kufa. Di tengah jalan, beberapa orang yang menenteng senjata mencegat mobilnya. Lalu Muhammad Muhammad Shadiq Sadhar dan keluarganya diberondong tembakan. Tak seorang pun selamat.

Kejadian itu kembali membuat rakyat Irak ketakutan. Gelombang pengungsian semakin menjadi.

Kini, ribuan foto Muhammad Muhammad Sadhiq Sadhar yang tengah mengenakan kain kafan shalat memberi khotbah Jumat dipajang di setiap pelosok Sayyidah Zaenab.[t]

Advertisements

1 thought on “Hizbudakwah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s