Shapol Madjid

0218
TAHUN 1996 Shapol Madjid baru berumur 15 tahun. Orangtuanya memutuskan pergi dari Sulaimaniyah, kota di utara Irak, dekat perbatasan Iran. Katanya, mereka tak tahan lagi tinggal di negeri seribu satu malam itu. Teror demi teror datang setiap hari. Rakyat ketakutan.

Di Damaskus, cerita tentang Irak yang saya dengar selalu berkisah tentang kepedihan rakyat Irak di bawah tekanan pemerintahan Saddam Hussein. Mulai dari kaum Syiah yang dilarang melakukan shalat Jumat dan pergi ke masjid, sampai pemuda tanggung, seumur jagung yang dipaksa masuk tentara untuk perang melawan Iran tahun 1980-an dan konvoi masuk Kuwait tahun 1990.

Ada juga cerita tentang Saddam Hussein yang mempersilakan orang-orang kepercayaannya menyetubuhi adiknya. Di depan mata kepala Saddam Hussein. Luar biasa. Entahlah apakah kisah itu benar atau tidak. Mungkin benar-benar terjadi. Mungkin cuma isapan jempol yang ditiupkan kaum oposisi untuk memupuk kebencian terhadap Saddam dan kroni-kroninya. Dalam politik, semua cara bisa dilakukan demi mencapai tujuan. Jangankan mengarang cerita dan menyebarkan fitnah, menghabisis lawan politik dengan sadis atau sambil tersenyum juga sah-sah saja tuh.

“Can you believe that?” si orang Irak yang menceritakan kisah itu kepada saya bertanya. Saya bertemu dengannya di Sayyidah Zaenab, tempat yang mendadak menarik perhatian saya. Ribuan pengungsi Irak bertahan di sana. Menunggu kesempatan pulang ke kampung halaman.

Saya tak langsung menjawabnya. “Is that true?” saya balik bertanya.

“Yes,” dia meyakinkan. Bola matanya dibesarkan. Alisnya naik beberapa milimeter.

“Sorry, it is really not easy for me to believe,” jawab saya akhirnya. Siapa yang bisa menjamin cerita itu benar atau bohong belaka. Tulisan saya ini pun tidak bermaksud, sama sekali, menilai cerita itu. Saya hanya ingin katakan, seperti di atas: di Damaskus cerita tentang Irak dan Saddam Hussein yang saya dengar hampir semua, kalau tak mau disebut semua, berkisah tentang penderitaan rakyat Irak.

Kembali ke Shapol Madjid yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Tahun 1989, ribuan warga Sulaimaniyah tewas. Sebabnya, Saddam Hussein memerintahkan uji coba senjata kimia di kawasan itu. Ini bukan cerita baru. Belakangan, mengiringi persiapan tentara Amerika Serikat menyerang Irak, cerita ini, dan cerita miring lainnya tentang Saddam Hussein, diproduksi ulang oleh media-media Amerika dan pro-Amerika. Jelas, Amerika dan para pengekornya hendak mengumumkan kepada dunia, bahwa Irak dan Saddam Hussein layak dibantai.

Waktu Shapol Madjid mengatakan dirinya berasal dari Sulaimaniyah di utara Irak, saya bertanya, “Sulaimaniyah yang dulu dijadikan tempat uji coba senjata biologi?” Shapol Masjid mengangguk.

Saya itung-itung usianya baru delapan tahun saat itu. Masih terlalu kecil untuk seorang anak perempuan. Kira-kira, masih senang main boneka dan masak-masakan.

“Bagaimana Anda bisa selamat dari senjata kimia itu? Saya dengar ribuan orang tewas,” tanya saya lagi. Shapol Madjid tak menjawab. Kepalanya digeleng-gelengkan saja.

“Maaf, saya tak bisa menceritakan hal itu. Terlalu jelek,” kepalanya masih digeleng-gelengkan.

“Ya sudah,” kata saya dalam hati. Tahun 1996 itu, bersama orang tua dan adik-adiknya, Shapol Madjid lari ke Belanda. Kini dia kuliah di Universitas Utrecht.

Dalam politik yang mengahalalkan segala cara tadi, kisah-kisah seperti ini tentu dianggap datar saja. Tidak ada air mata yang mengalir. Semua biasa-biasa saja, atau menjadi biasa.

Seorang tua, dari Irak juga, dan pelarian juga, lumayan bijak. Dia bilang begini, dalam bahasa Arab tentunya, “Amerika mau menyerang Irak. Anggaplah ini perang bangsat melawan bangsat. Muzreem dhod muzreem.”[t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s