Mencari Gudang

AKTIVIS berbagai NGO yang sudah berada di Termez selama sepekan terakhir bingung harus melakukan apa. Baik PBB maupun pemerintah Uzbekistan belum mau buka mulut menjelaskan kapan jembatan sungai Amu Darya akan dibuka untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan.

Padahal, satu-satunya hal yang mendorong mereka datang ke Termez adalah pernyataan Presiden Islam Kharimov yang bersedia membuka jembatan yang memisahkan Uzbekistan dan Afghanistan itu.

Aktivis berbagai NGO ini punya alasan untuk kesal. Bantuan yang akan mereka berikan sudah siap di negara masing-masing. Begitu ada perintah dari Termez, maka ratusan kontainer akan mengalir membanjiri Termez.

Tak sedikit dari mereka mengeluhkan besar biaya yang sudah mereka habiskan selama masa penantian yang tak pasti ini.

Beberapa hari lalu saya ikut rombongan sebuah NGO mencari gudang yang akan digunakan untuk menempatkan paket bantuan kemanusiaan. Bantuan sudah dalam perjalanan dari Eropa dan dalam waktu beberapa hari lagi akan tiba di Termez. Apa jadinya bila mereka tak kunjung menemukan gudang sementara bantuan kemanusiaan sudah tiba di Termez?

Sebelumnya mereka sudah mengunjungi kantor PBB di Termez untuk mendapatkan informasi mengenai kapasitas gudang yang dimiliki PBB. Mereka berharap bisa menitipkan paket bantuan yang mereka miliki disana.

Tetapi di kantor PBB mereka tidak diijinkan masuk. Satu regu tentara siap siaga di depan gerbang. Satu-satunya informasi yang mereka terima, gudang PBB tidak bisa dipakai pihak lain.

Seorang calo menawarkan kepada mereka sebuah gudang tua di Jakurgan. Ketiga orang berkebangsaan Perancis ini memutuskan untuk melihat tempat yang ditawarkan terlebih dahulu.

Jakurgan sebuah desa kecil sekitar 35 kilometer dari pusat Termez. Desa ini dikelilingi gurun dan ladang kapas. Gudang tua yang ditawarkan sang calo berada di sisi yang berbatasan dengan gurun.

Setelah melihat gudang, ketiga orang Prancis tadi menggeleng-gelengkan kepala. Tidak menyangka kondisi gudang yang ditawarkan separah itu. Setelah dihitung, mereka harus menghabiskan banyak uang hanya untuk memugar gedung itu.

“Bisa-bisa biaya operasional kami habis hanya untuk menambal atap gudang yang bocor,” kata salah seorang dari mereka.

Si calo belum mau menyerah. Ada rumah yang bisa dijadikan kantor sekaligus tempat tinggal di seberang gudang, bujuknya. Ketiga aktivis NGO ini mengikuti langkah si calo.

Rumah itu punya tiga kamar, dapur dan sebuah ruang tamu.

Pekarangannya luas, bisa dipakai untuk memarkir tiga mobil. Halaman belakangnya juga lumayan luas, bisa dipakai untuk menimbun beberapa koli barang yang tidak tertampung di gudang.

“Mana kamar kecil?” salah seorang dari mereka bertanya.

Si calo pun menjelaskan. Kamar kecil ada di depan, dekat tempat parkir. Tidak ada keran air. Sebelum buang air besar mesti bawa air di ember kecil untuk cebok.

Sebenarnya si aktivis kaget mendengar jawaban itu. Tapi basa-basi pergaulan mengharuskan mereka tetap tersenyum.

Dia melangkah menuju kamar kecil. Ada dua pintu bersebelahan. Pintu pertama dibuka. Mau busuk menyerang hidung mancungnya. Menyusul bau busuk, lalat berteberangan ke arah luar.

Yang disebut sebagai kamar kecil ini adalah susunan papan berbanjar di atas sebuah lubang besar. Di tengah susunan papan itu dibuat lubang yang lebih kecil. Nah, kalau mau buang hajat tinggal jongkok persis di atas lubang kecil itu.

Basa-basi tidak berlaku lagi. Si aktivis NGO balik kanan, mengajak kedua temannya. Terus terang, dia mengaku tidak bisa tinggal di tempat ini. Rombongan kembali ke Termez.

Di Termez akhirnya mereka menyewa sebuah rumah berlantai dua di pusat kota. Untuk sebulan mereka merogoh kocek 300 dolar AS. Rumah itu hanya cukup dijadikan kantor dan tempat tinggal selama menunggu keputusan kapan jembatan Amu Darya dibuka.

Sebelum menempati rumah itu, mereka masih harus menghabiskan ratusan dolar Amerika untuk memperbaiki instalasi listrik, sistem pemanas ruangan, kamar mandi, genteng dan sebagainya. [guh]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s