Tak Ingin Terlibat Lebih Jauh

PEMERINTAH Uzbekistan tampaknya tidak mau terlibat lebih jauh dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat di Afghanistan.

Pemerintah Uzbekistan merasa bantuan yang mereka berikan untuk mendukung Operasi Kemerdekaan Abadi atau Operation Enduring Freedom sudah cukup memadai.

Bantuan Uzbekistan tersebut berupa pangkalan militer yang boleh digunakan Amerika Serikat untuk menempatkan setidaknya 1.000 personel Divisi Pegunungan Ke-10 dan pesawat-pesawat angkut militer.

Uzbekistan juga mempersilakan Amerika Serikat menggunakan koridor udara negara itu untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Mazar I Sharif dan kota-kota lain di Afghanistan.

Ketika bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Donald Rusmfeld, dua hari sebelum Operasi Kemerdekaan Abadi diluncurkan, Islam Karimov menegaskan, Amerika Serikat tidak boleh melancarkan serangan darat dari Uzbekistan, dan hanya boleh mengirimkan bantuan kemanusiaan lewat koridor udara Uzbekistan.

Operasi Kemerdekaan Abadi digelar untuk menangkap Osama bin Laden yang diduga sebagai master mind dari serangan teroris di New York City pada 11 September lalu. Dua gedung World Trade Center (WTC) hancur lebur dan tak kurang dari 3.000 orang tewas dalam serangan itu.

Sejauh ini baru Inggris yang memberikan dukungan personel militer dan kapal-kapal perang. Kebetulan, ketika serangan 11 September terjadi tak kurang dari 20 ribu tentara Inggris bersama  21 kapal perang dan puluhan pesawat tempur sedang mengikuti Latihan Perang Saif Sareea II di Oman. Sebagian dari kekuatan Inggris di Oman inilah yang dimobilisasi untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat di Afghanistan. Pemerintah Inggris memberi nama sandi untuk dukungan ini yaitu Operation Veritas atau Operasi Kebenaran.

Selain Inggris, kekuatan lain yang membantu Amerika Serikat adalah Aliansi Utara. Seperti namanya ia merupakan gabungan kekuatan dari sejumlah kelompok anti Taliban lintas suku yang menguasai wilayah utara Afghanistan.

Kini Aliansi Utara dikendalikan oleh Abdul Rashid Dostum. Panglima perang suku Uzbek itu menggantikan panglima perang suku Tajik Ahmad Shah Massoud yang tewas dalam serangan bom bunuh diri di Khawaja Bahauddin, Provinsi Takhar, dua hari sebelum serangan terhadap WTC di New York. Diduga kuat, Al Qaeda juga yang merancang serangan itu.

Siang tadi saya bertemu dengan Khokimiyat atau Walikota Termez, Choriyv Abdurahim, di kantornya yang tak begitu jauh dari Hotel Surkhon. Saya berjalan kaki menyusuri Jalan At Tarmidzi ke arah selatan. Kantor Khokimiyat Termez terletak di seberang pasar Termez.

Dalam pertemua itu Abdurahim Choriyv menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan Amerika Serikat menjadikan Termez sebagai pintu masuk sarangan darat ke Mazar I Sharif. Dia juga mengatakan, perbatasan Uzbekistan dengan Afghanistan, yakni Jembatan Persahabatan yang melintasi Sungai Amu Darya, tidak akan mereka buka dalam waktu dekat.

“Uzbekistan hanya akan membuka jembatan Amu Darya bila keadaan di Mazar I Sharif sudah benar-benar aman,” ujarnya.

Apakah keputusan membiarkan jembatan itu tetap tertutup ada kaitannya dengan rumor yang mengatakan Taliban kembali menguasai Mazar I Sharif?

Abdurahim Choriyv mengangkat kedua tangannya dan mengatakan tidak tahu soal itu.

Idealnya, menurut Abdurahim Choriyv, jembatan itu dibuka. Dengan demikian Termez dapat menjalin hubungan dengan wilayah lain, dalam hal ini kota Hairatan dan Mazar I Sharif, di Afghanistan, untuk mengembangkan diri.

“Tapi, di atas semua itu, kami tidak akan mengijinkan wilayah ini dipakai pasukan militer asing,” katanya lagi.

Lantas bagaimana dengan keberadaan Divisi Pegunungan Ke-10 Amerika Serikat yang dikabarkan sudah berada di Termez dan tengah bersiap-siap memasuki Afghanistan.

Atas pertanyaan ini Abdurahim Choriyv dengan cepat menjawab singkat: “Saya tidak akan mengijinkan pasukan Amerika mangkal di Termez.”

***

Wilayah utara Afghanistan dikuasai suku Uzbek dan suku Tajik. Mazar I Sharif menjadi titik lemah atau Achilles tendon bagi Taliban. Bila ingin melumpuhkan kekuatan Taliban di seluruh Afghanistan, tak ada pilihan yang lebih baik selain merebut Mazar I Sharif dalam pukulan pertama.

Mazar I Sharif adalah salah satu kota penting di Afghanistan yang sejarahnya terbentang sepanjang ribuan tahun.

Di abad ke-3 Mazar I Sharif menjadi bagian dari Khorasan Raya yang meliputi Balkh dan Herat (di Afghanistan kini), Mashhad dan Nishapur (Iran), Merv dan Nisa (Turkmenistan), serta Bukhara dan Samarkand (Uzbekistan), hingga ke perbatasan India.

Khorasan diperebutkan berbagai dinasti besar yang pernah ada  di wilayah ini seperti Dinasti Tahirid, Dinasti Saffarid, Dinasti Samanid , Dinasti Ghaznavid, Dinasti Ghurid, Dinasti Ilkhanate Mongol, Dinasti Timurid dan Khanate Bukhara.

Pada pertengahan abad ke-18 Mazar I Sharif menjadi bagian dari Emporium Durrani.

Selama masa yang sangat panjang itu, secara umum kehidupan di Mazar I Sharif relatif cukup damai. Di abad ke-19, tentara Kerajaan Inggris yang berada di India pun tak pernah bisa menyentuh wilayah utara Afghanistan.

Mazar I Sharif berarti Tempat Mulia. Nama ini diberikan merujuk pada Masjid Biru yang dibangun Sultan Ahmed Sanjar (berkuasa antara tahun 1097 hingga 1118).

Menurut legenda yang berkembang di tengah masyarakat Mazhar I Sharif, Masjid Biru dibangun di lokasi makam Ali bin Abu Thalib, sepupu yang juga menantu Nabi Muhammad SAW.

Imam Ali adalah khalifah terakhir yang melanjutkan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 661, tatkala sedang melaksanakan shalat subuh di Masjid Kufa, Irak kini, Ali dibunuh oleh kelompok yang tidak menyukai dirinya.

Disebutkan bahwa seekor unta putih membawa lari jenazah Imam Ali yang hendak dirusak musuh-musuhnya ke Mazhar I Sharif tempat ia dimakamkan.

Legenda ini tentu berbeda dengan keyakinan umum umat Muslim bahwa Imam Ali dimakamkan di Najaf, Irak, dan makamnya itu menjadi salah satu tempat suci umat Shiah.

Ketenangan Mazar I Sharif mulai terganggu saat Uni Soviet menginvasi Afghanistan di tahun 1979. Uni Soviet menjadikan Mazhar I Sharif sebagai pintu masuk untuk mengkomuniskan seluruh Afghanistan.

Setelah Uni Soviet angkat kaki, kekuasaan atas Mazar I Sharif dan kota-kota lain di sekitarnya diperebutkan faksi-faksi mujahidin yang berjuang mengusir Uni Soviet di kawasan itu, terutama milisi suku Hazara Hazbe Wahdat yang dipimpin Muhammad Mohaqiq, milisi suku Tajik Jamiat Islami yang dipimpin Amhad Shah Massoud dan Burhanuddin Rabbani, juga milisi suku Uzbek Jumbesh I Melli yang dipimpin Abdul Rashid Dostum.

Dari semua penguasa Mazar I Sharif setelah Uni Soviet pergi, Dostum yang berkuasa paling lama, dari 1992 hingga 1997. Dia bertindak selayaknya pemimpin sebuah negara berdaulat. Dostum menjalin hubungan dengan Uzbekistan yang baru merdeka, juga dengan Turki yang sebelum Perang Dunia Pertama adalah penguasa di Asia Tengah. Dostum juga membuat mata uang khusus yang berlaku di Provinsi Balkh dan perusahaan penerbangan, Balkh Air.

Setahun kemudian, Taliban menyerang Mazar I Sharif. Dalam operasi merebut Mazar I Sharif, Taliban diperkirakan membunuh tak kurang dari 8.000 orang dan memaksa ribuan lainnya melarikan diri, antara lain ke Termez.

Dostum dan orang-orang terdekatnya menyingkir ke Turki. Belakangan, setelah kematian Ahmad Shah Massoud dan bersamaan dengan Operasi Kemerdekaan Abadi, Dostum kembali ke Mazhar I Sharif untuk bertempur melawan Taliban, musuh abadinya.

Beberapa hari lalu wartawan dari berbagai negara yang berkumpul di Termez mendapat informasi bahwa Aliansi Utara berhasil memukul mundur Taliban dari Mazhar I Sharif.

Semua gembira demi mendengar kabar itu dan membayangkan dalam satu dua hari perbatasan dengan Afghanistan akan dibuka. Ini berarti terbuka jugalah kesempatan memasuki Afghanistan.

Tetapi sampai catatan ini saya tulis jembatan di atas Amu Darya itu masih ditutup rapat. Bahkan kabar terakhir mengatakan Taliban kembali merebut Mazar I Sharif. Belum ada yang bisa memastikan kebenaran kabar ini.

Saya kira dalam situasi tidak pasti seperti ini, wajar bila pemerintah Uzbekistan enggan membuka pintu perbatasan dengan Afghanistan. Karena membuka pintu di saat situasi tidak menentu, bisa menciptakan krisis baru bagi Uzbekistan.

Dan tampaknya pula, seperti yang disampaikan Khokimiyat Termez  Abdurahim Choriyv, Uzbekistan tak mau terlibat lebih jauh.

***

Siang tadi di Tashkent Presiden Islam Karimov menerima Komandan Pusat Komando Amerika Serikat, Jenderal Tommy Franks.

Dalam jumpa pers usai pertemuan, Jenderal Franks memberikan respon terhadap penilaian yang meragukan efektivitas Operasi Kemerdekaan Abadi. Tak sedikit yang menilai, memasuki pekan keempat, operasi militer ini belum mengalami kemajuan berarti, bahkan seperti terhenti.

Jenderal Franks mengatakan pihaknya puas dengan dukungan yang diberikan Uzbekistan. Menurut dia, Uzbekistan seperti halnya negara-negara lain di kawasan ini memiliki komitmen yang kuat dalam menghadapi terorisme global.

Sebelum berkunjung ke Uzbekistan, Jenderal Franks lebih dahulu bertemu dengan Presiden Pakistan Pervez Musharraf di Islamabad. Dalam pertemuan itu, Musharraf meminta agar Amerika Serikat tidak melancarkan serangan di bulan suci Ramadhan yang dimulai pada pertengahan November nanti.

Dalam jumpa pers di Tashkent tadi, Jenderal Franks tidak mau membahas lebih lanjut soal kemungkinan serangan di bulan Ramadhan.

Dia hanya menggarisbawahi bahwa dunia sedang menghadapi perang yang berbeda, perang tanpa bentuk yang bisa terjadi di banyak front secara simultan.

Sejauh ini, sebutnya lagi, Operasi Kemerdekaan Abadi masih berjalan sesuai jadwal dan rencana. [t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s