Khalan Jon, Veteran Tentara Merah

6c03077d7a3c1fcc627575b0f78ede4d_article

SELAMA ini cerita tentang kekalahan Tentara Merah Uni Soviet melawan pasukan mujahidin Afghanistan saya ketahui dari berbagai berita. Kekalahan Uni Soviet di Tanah Pasthun ini kelak menjadi salah satu peristiwa kunci yang mendorong krisis ekonomi dan politik di Uni Soviet, dan selanjutnya membuat negeri itu bersama blok politik yang dipimpinnya bubar di akhir 1991.

Invasi Uni Soviet di Afghanistan berlangsung selama sembilan tahun dari Desember 1979 hingga Februari 1989. Uni Soviet meninggalkan bumi Afghanistan dengan wajah tertunduk malu. Keinginan mereka mempertahankan pengaruh di Afghanistan kandas menyisakan kerugiaan yang begitu besar.

Tentara Merah secara umum kerepotan menghadapi perlawanan mujahidin Afghanistan.

Kelompok besar anti Uni Soviet di Afghanistan terdiri dari tujuh organisasi perlawanan yang dikenal dengan sebutan Tujuh Peshawar.

Di dalam Tujuh Peshawar ada dua aliaran besar, yakni aliran Islam-politik dan aliran tradisionalis.

Empat organisasi Islam-politis di dalamnya adalah Hezbi Islami faksi Muhammad Yunus Khalis, Hezbi Islami faksi Gulbuddin Hekmatyar, Masyarakat Islam atau Jamiati Islami yang dipimpin Burhanuddin Rabbani, dan Persatuan Islam untuk Pembebasan Afghanistan atau Itehad Islami yang dipimpin Abdul Rasul Sayyaf.

Sementara tiga organisasi beralirasn tradisionalis di dalam tubuh kelompok mujahidin itu adalah Front Nasional Islami untuk Afghanistan atau Mahazi Milli Islam yang dipimpin Ahmed Gilani, Front Pembebasan Nasional Afghanistan atau Jabhai Nijat Milli yang dipimpin Sibghatullah Mojaddidi dan Gerakan Islam Revolusioner atau Harakati Inqilabi Islami yang dipimpin Mohammad bin Mohammadi.

Menurut sejumlah catatan, lebih dari 14 ribu tentara Uni Soviet tewas di medan perang Afghanistan yang terkenal ganas. Sementara sekitar 18 ribu tentara Republik Demokratik Afghanistan yang pro Uni Soviet tewas dalam upaya mempertahankan rezim komunis.

Di pihak mujahidin diperkirakan antara 70 ribu hingga 90 ribu mujahid tewas selama operasi mengusir Uni Soviet dan membubarkan negara boneka pro Uni Soviet.

Tak ada catatan pasti mengenai jumlah korban tewas di pihak rakyat sipil. Sejumlah catatan memperkirakan antara 850 ribu hingga 1,5 juta orang tewas. Sementara tak kurang dari 5 juta lainnya angkat kaki meninggalkan Afghanistan, umumnya ke Pakistan dan Iran.

 

Di pertengahan 1980an, tanda-tanda kekalahan Uni Soviet di Afghanistan mulai terasa. Gelombang perlawanan mujahiddin begitu besar dan di luar perkiraan. Di tahun 1986 Uni Soviet berusaha mempertahankan pengaruh mereka di Afghanistan dengan mendukung Muhammad Najibullah sebagai penguasa baru.

Najibullah bukan politisi kemarin sore. Dia terlibat aktif dalam Revolusi Saur yang dimotori Partai Demokratik Rakyat Afghanistan di bulan April 1978 untuk menumbangkan rezim Muhammad Daud Khan yang berkuasa di Afghanistan sejak penggulingan Raja Muhammad Zahir tahun 1973.

Revolusi Saur berhasil menggusur Daud Khan dan menggantikannya dengan Hafizullah Amin. Tetapi Revolusi Saur gagal menghasilkan pemerintahan yang solid. Afghanistan justru memasuki instabilitas baru, instabilitas yang menarik perhatian Uni Soviet yang sudah lama mengintip-intip negeri itu demi memperluas dan memantapkan pengaruhnya di kawasan Asia Tengah.

Di bawah pemerintahan Hafizullah Amin, Najibullah ditugaskan sebagai dutabesar di Iran. Ada dugaan yang menilai Najibullah sebenarnya diasingkan karena bisa menjadi ancaman bagi Hafizullah Amin. Penilaian yang tidak begitu keliru karena dari Tehran Najibullah ikut menggerogoti pemerintahan Hafizullah Amin.

Najibullah kembali ke Kabul setelah invasi Uni Soviet berhasil menggulingkan Hafizullah Amin pada 1979 dan menginstal Babrak Karmal sebagai penguasa baru Afghanistan. Di pemerintahan yang baru ini Najibullah dipercaya sebagai Kepala Dinas Intelijen Afghanistan.

Maka, ketika berkuasa di tahun 1986 Najibullah berusaha membersihkan namanya yang sudah kadung dianggap sebagai kaki tangan Uni Soviet. Setahun setelah berkuasa, Najibullah mendorong pemberlakuan konstitusi baru yang menegaskan Afghanistan sebagai negara Islam.

Dia juga melarang penggunaan berbagai simbol dan praktik politik berbau komunis Uni Soviet. Manuver lain yang dilakukannya adalah mengubah nama Republik Demokratik Afghanistan menjadi Republik Afghanistan.

Namun sekeras apapun usahanya membersihkan diri, Najibullah tetap dipercaya sebagai infrastruktur politik Uni Soviet yang masih tertinggal di Afghanistan. Setelah Uni Soviet secara resmi bubar pada Desember 1991, kekuasaan Najibullah pun semakin goyah. Di bulan April 1992 Najibullah terguling, menandakan berakhirnya pengaruh Uni Soviet di Afghanistan.

Tetapi di sisi lain, kejatuhan Najibullah juga menjadi pembuka babak baru perang saudara yang hanya dalam beberapa tahun membuat Afghanistan semakin terbelakang, seakan terseret kembali ke peradaban batu.

Jumat lalu (26/10) saya mendengar langsung cerita kekalahan Rusia itu dari Khalan Jon, seorang veteran Tentara Merah. Jon adalah panggilan hormat untuk laki-laki suku Uzbek yang lebih tua.

Selama dua tahun, antara 1980 sampai 1982, Khalan Jon berdiri di garis depan menghadapi pasukan mujahidin yang ganas dan tidak kenal ampun. Laki-laki kelahiran Andijan ini ketika itu bertugas di batalyon invanteri Tentara Merah.

Di zaman Uni Soviet jadi soldet alias serdadu Tentara Merah adalah hal paling membanggakan setiap laki-laki. Seakan tidak ada kebanggaan lain di atas itu. Dia percaya Tentara Merah Uni Soviet cukup kuat untuk menghadapi seluruh kekuatan tempur Blok Barat alias NATO yang dimotori Amerika.

Khalan Jon bergabung dengan Divisi ke-40 Armiya. Ini kerap disebut sebagai pasukan paling kuat yang pernah ada di dunia sejak Perang Dunia II usai, katanya.

Tapi, toh kalah juga di Afghanistan.

Kata Khalan Jon dia punya alasan sederhana menceritakan hal ini.

“Saya ingin Anda memberitakan kepada seluruh dunia bahwa rencana Amerika menyerang jantung pertahanan Afghanistan tidak masuk akal dan konyol. Amerika menggali lubang kuburnya sendiri,” ujar Khalan Jon.

Saat itu kami sedang berada di sebuah restoran di Tashkent, menikmati saslik, makanan khas Uzbekistan yang mirip sate di Indonesia. Di luar restoran, hujan turun tidak terlalu deras.

“Amerika hanya menang perang di dalam film Holywood. Selebihnya mereka kalah. Mereka kalah di Vietnam, mereka kalah di Korea, mereka juga akan kalah di Afghanistan,” kata Khalan Jon lagi.

Setelah Uzbekistan menjadi negara independen, Khalan Jon bekerja sebagai pembuat film dokumenter di stasiun televisi milik pemerintah.

Bukankah Aliansi Utara yang dipakai Amerika Serikat juga mengetahui medan tempur Afghanistan, tanya saya.

“Kelemahan utama Aliansi Utara terletak pada banyaknya kelompok di dalam aliansi itu. Kalaupun sekarang Amerika mendukung mereka, itu hanya untuk tujuan jangka pendek,” jawab Khalan Jon yakin.

Saslik yang disajikan untuk kami sudah habis. Hujan di luar pun sudah berhenti. Saya tak buru-buru mengajak Khalan Jon meninggalkan restoran itu. Dia memandang ke langit yang masih mendung. Saya rasa pikirannya masih mengembara, membawanya kembali ke masa lalu saat masih bertugas di Afghanistan bersama Divisi ke-40 Armiya.[t]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s