Lagi-lagi Islam dan Politik

HUBUNGAN antara Islam dan politik di Indonesia punya cerita panjang. Begini, sejarah pergerakan nasional dimulai dari munculnya kesadaran kelas di kalangan orang Islam. Ada Serikat Dagang Islam (SDI), yang kemudian bermetamorfosis menjadi Serikat Islam (SI). Ada Muhammadiyah. Ada pula Nahdlatul Ulama (NU).

Semua kelompok politik Islam yang ada di Indonesia pada fase kebangkitan nasional itu selalu berawal dari organisasi kemasyarakatan. Core business-nya adalah penyadaran kelas. Bukan pengambilalihan kekuasaan.

Setiap kelompok secara sosiologis memiliki ciri-ciri determinan. Baik ketika masih menjadi ormas atau setelah menjelma menjadi mesin politik.

Parpol Islam pernah menjadi kekuatan di panggung politik nasional. Pemilu 1955 menghasilkan Masyumi dan NU.

Namun akhir 1950-an, dengan alasan terlibat dalam pemberontakan DI/TII dan PRRI/Permesta, Masyumi dibubarkan.

Akhir 1960-an parpol Islam kembali mendapat hak hidup. Tapi tidak lama. Awal 1970-an, parpol Islam kembali dijinakkan.

Pembungkaman ini terus berlanjut. Awal 1980-an tidak hanya parpol, ormas Islam pun harus menanggalkan asas Islam. Wajib pakai asas Pancasila.

Awal 1990-an kepentingan sebagian orang Islam difasilitasi negara. Ikatan Cendekiawan Islam Indonesia (ICMI) didirikan sebagai simbol kecendekiaan orang Islam. Sekaligus think tank pengambil kebijakan. Namun ada pertanyaan tersembunyi, tidakkah ini juga penjinakan?

Akhir 1990-an, era reformasi, kelompok Islam agaknya kembali memperoleh peluang untuk tampil di atas panggung nasional. Melalui sederetan kisah kecil nan satir, Seorang kyai Nahdliyin bernama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai presiden keempat.

Apakah ini kebangkitan, kembali, kekuatan Islam? Tidak lama, pertanyaan itu segera terjawab. Tidak. Pasalnya mesin-mesin politik Islam berantuk satu sama lain. Ikut main telikung, ikut dagang sapi.

Tidak ada yang beres. Tidak juga NU dan PKB yang sedang mengenggam kekuasaan. Karir politik Gus Dur sendiri hampir tamat.

Namun begitu, massa NU tidak merasa ada yang salah dengan Gus Dur. Kyai-kyai Nahdliyin pun masih memberikan dukungan. Kekuasaan harus dipertahankan, demikian mereka.

Berikut laporan Teguh Santosa ketika ngobrol dengan salah seorang kyai NU, Nur Iskandar SQ.

Kiai Politik Nahdliyin

BEGITU supirnya menghentikan mobil di teras Menara BTN Harmoni, angota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Kyai Nur Muhammad Iskandar SQ dengan cepat, segera membuka pintu belakang. Tak menunggu satu detikpun berlalu.

Cepat kakinya pun menjejak bumi. Keluar dari body mobil, langkahnya lebar ke dalam gedung. Masih pagi. Bau embun masih tercium. Lobi gedung sepi. Baru dua petugas keamanan yang nongkrong di meja piket lobi gedung. Dari matanya kelihatan belum mandi.

Dua orang temannya setengah berlari, menjejeri langkah Kyai Nur, demikian dia akrab disapa. Kyai Nur tak berusaha memperlambat langkah. Terus saja ke depan. Belok kanan, kuldesak. Berhenti di depan lift.

Masih buru-buru, Kyai Nur memencet tombol. Tidak langsung terbuka. Lift nya sedang di atas, di lantai 23. Kedua temannya pun berdiri dibelakang, ikut menunggu.

Kyai Nur iseng mematut-matut wajahnya di pintu besi lift yang memantulkan cahaya. Senyumnya dicoba-coba, satu-dua kali. Lebar lagi manis.

Ujung bawah batik cokelatnya ditarik-tarik agar mantap membungkus tubuhnya. Juga posisi pecinya yang agak miring ke kiri. Tadi kesenggol langit-langit mobil waktu dia keluar dari mobil.

Sisi celana cokelat tua yang membungkus kedua kakinya dipukul-pukul kecil. Kalau dibeginiin, kainnya akan tergantung lemas. Rapi jali.

Ting tong, pintu lift terbuka. Kyai Nur masuk. Juga temannya. Balik kanan, tangannya menekan tombol 19. Kepalanya mendongak ke atas, ke nomor-nomor lantai yang tertera di bagian depan lift. Pintu tertutup. Sreettt. Bergerak naik.

Di dalam lift, Kyai Nur diam saja. Dalam hati dia bertanya-tanya, terlambat belum, ya?

Ting tong. Lagi, pintu lift terbuka. Kyai Nur keluar. Di pertigaan, Kyai Nur celingak-celinguk sebentar. Lalu belok kiri, menuju sebuah stasiun radio.

Beberapa kru radio sedang menonton berita di layar teve, ketika Kyai Nur mengucapkan salam. Waalaikumsalam, sambut mereka melihat ke pintu. Eh, ada Kyai pagi-pagi.

Pimpinan Pondok Pesantren As-Shidiqiyah ini dibawa ke studio. Dua orang penyiar sedang cuap-cuap di depan microphone, ketika Kyai Nur melongokkan kepalanya. Mengetahui kehadiran Kyai Nur mereka melempar senyum, juga salam. Kyai Nur menarik kursi biru yang disediakan untuknya. Ikut mengelilingi meja segi lima di depannya.

Tangannya menarik microphone di depannya, lebih dekat ke mulut. Lalu Kyai Nur sibuk memasang head phone besar di kepalanya. Geser sana, geser sini. Peci hitamnya mengganjal. Kyai Nur tak hendak melepaskan. Setelah seorang penyiar turun tangan, sukses juga head phone itu menempel mantap dikepalanya. Show pun dimulai.

Kyai Nur bicara soal dukungan para kyai Nahdliyin kepada Gus Dur. Intinya, para kyai kaum sarungan masih merasa harus mempertahankan posisi politik Gus Dur. Kalau mau mengkoreksi Gus Dur, silakan. Tapi konstruktif, membangun. Jangan main kayu, kata Kyai Nur.

Kyai yang pernah mencomblangi pertemuan antara Gus Dur dan Tommy Soeharto ini menyebut Gus Dur sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip. Jadi, masyarakat tidak usah khawatir kalau pun ada orang iseng yang mengelilingi Gus Dur hari ini.

Soalnya, tambah Kyai Nur, Gus Dur cukup paham siapa saja yang mencoba memanfaatkan kedudukannya. Menebak mulut manis orang adalah salah satu kebolehan Gus Dur.

Ntah apa yang membuat Kyai Nur bisa begitu akrab dengan kedua penyiar. Tak terhitung lagi canda yang saling mereka tukar. “Kalau diplintir wartawan, saya ogah. Tapi diplintir wanita, ayo,” kelakarnya. Tawa pun meledak di ruangan seluas 3 x 3 meter persegi itu.

Sikap duduk Kyai Nur pun jauh dari tegang. Sangat santai. Terkadang tangannya ditopangkan ke atas meja. Terkadang mengambang bebas diangkasa. Kakinya kerap digoyang-goyangkan.

Setengah jam berlalu sudah. Pembicaraan serius yang dibungkus humor itu pun usai. Sebelum meninggalkan ruangan, di depan pintu studio Kyai Nur berkelakar lagi. “Kalau mau cari calon isteri ayo ke pesantren saya. Nanti saya carikan yang cocok. Tapi kalau ada yang cantik hati-hati. Biasanya itu bekas kyai,” ringan saja candanya.

Musuh Amien dan Akbar

AWAL tahun 2001 Kyai Nur membuat kejutan. Dalam sebuah pengajian di Karang Tanjung, Kebumen, Kyai Nur mengeluarkan fatwa aneh. Begini bunyinya. “Mati melawan Amien Rais dan Akbar Tanjung akan mendapat credit point masuk surga”.

Tidak lama, DPP Partai Amanat Nasional (PAN) melayangkan surat protes. Kyai Nur jelas-jelas menggunakan agama sebagai alat pemecah belah umat dan menyulut permusuhan di kalangan ummat, demikian PAN.

Tidak jelas apa yang terjadi selanjutnya. Tapi yang jelas gugatan DPP PAN terhadap Kyai Nur itu tidak terdengar lagi kabar beritanya.(GUH)

Mak Comblang Gus Dur dan Tommy

SUDAH lebih 180 hari Hutomo Mandala Putra alias Tommy menghilang tak tentu rimba. Status terakhir yang disandang Tommy adalah terdakwa 18 bulan.

Sebelum melarikan diri, Tommy yang anak bungsu bekas diktator Soeharto itu bertemu dengan Gus Dur di Hotel Borobudur. Konon, Tommy sempat tawar menawar “sesuatu” dengan Gus Dur. Apakah hal itu benar atau tidak, sampai sekarang tidak jelas. Satu yang jelas, Tommy sukses kabur, menghilang ntah kemana.

Siapa arsitektur pertemuan itu? Kyai Nur, jawabnya. “Tidak ada maksud macam-macam. Silaturahmi sesama muslim dianjurkan agama,” kilah Kyai Nur ketika ditanya lagi soal pertemuan itu.(GUH)

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s