Tokoh

Menyelesaikan Nasib Bangsa Dengan Doa

SECARA harafiah, istighotsah diartikan sebagai doa bersama. Orang ramai-ramai berkumpul di suatu tempat, memanjatkan puja puji ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Dalam konstruksi tradisi Nahdliyin istighotsah termasuk mekanisme yang dihalalkan untuk memecahkan berbagai masalah. Ketika kemampuan manusia menemukan batas tertingginya, maka kesadaran atas keterbatasan mengharuskan manusia menyerahkan dirinya secara total kepada kekuasaan dan kehendak Tuhan. Memohon kemurahan hati Tuhan agar sudi menyelematkan nasib manusia. Demikian kira-kira.

Tetapi, realita kekinian menjelmakan istighotsah sebagai, tidak bisa dihindari, pranata politik. Paling tidak sebuah mekanisme pembentuk opini politik. Mau lihat buktinya?

Istighotsah qubro untuk keempat kalinya digelar PBNU. Sebelumnya doa bersama ini juga pernah diselenggarakan di parkir timur Senayan akhir bulan Juli 2000, beberapa saat menjelang Sidang Tahunan.

Dalam istghotsah Juli 2000 itu, selain Gus Dur, ketua umum DPP Golkar yang juga ketua DPR Akbar Tandjung, Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, Menteri Agama Tolchah Hasan, Ketua PB NU KH Hasyim Muzadi, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Matori Abdul Djalil, dan ketua DPD PDIP DKI Jakarta Roy BB Janis.

Gus Dur menyampaikan orasinya saat itu. Tidak bisa dipungkiri, orasi itu lebih merupakan warming up bagi Gus Dur menuju Sidang Tahunan. Dengan kata lain, Gus Dur sebenarnya tengah mengukur kekuatan.

Kehendak Gus Dur diamini kubu PDIP. Roy BB Janis yang berbicara setelah Gus Dur menyatakan hal itu. “Kendati tidak hadir, karena harus menunggui konferda Jabar, tetapi semangat Megawati selalu bersama Gus Dur,” oceh Roy Janis saat itu.

Ribuan spanduk bertuliskan dukungan terhadap duet Gus Dur dan Megawati menghiasi arena istighotsah. Apalagi. Jelas itu aktivitas menjaring dukungan politik.

Menjelang istighotsah qubro kali ini, peta politik sudah jauh berubah. Gus Dur sudah mengantongi memorandum I. Dukungan Megawati terhadap Gus Dur yang dipercaya sebagai indikator paling konkret pun sudah mengarah pada kemungkinan besar ambruknya Gus Dur. Belum lagi, percepatan masa reses sidang mengakibatkan berimpitnya waktu penyelenggaraan istighotsah qubro dengan rapat pleno membahas memorandum II.

Jadi kalau pun sekarang mau berdoa bersama, pertanyaannya adalah untuk apa dan siapa? Rumit memang menjawab pertanyaan ini. Apalagi ada pernik baru, yakni pasukan berani mati massa pro Gus Dur yang mengancam akan hijrah ke Jakarta untuk menyambut dua momen berskala nasional itu. Rumit, kan?

Itulah yang terbayang di wajah ketua PBNU Hasyim Muzadi sesaat setelah memberikan keterangan resmi menjelang istighotsah qubro di kantor PBNU Jakarta. Ini laporan Teguh Santosa dari Jalan Agus Salim.

Bukan Pro Kontra Gus Dur

Jumpa pers menjelang istighotsah qubro di lapangan parkir timur Senayan hari Minggu (29/4) nanti baru saja usai. Beberapa wartawan belum beranjak dari ruang rapat kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Agus Salim. Masih kurang puas, beberapa persoalan kunci kembali ditanyakan kepada Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi.

Wajah Hasyim yang siang itu mengenakan kemeja batik putih dan celana abu-abu tua terlihat lelah. “Saya sudah menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan istighotsah barusan,” keluhnya. Tapi pertanyaan terus mengalir jua.

Tidak mampu lagi berkompromi dengan rasa lelah, Hasyim bergegas meninggalkan wartawan yang mengerumuninya, menuju ruang kerja di sebelah. Sepatu hitamnya dilepas di depan pintu. Seorang ajudan mengikutinya. Pintu dikunci dari dalam. Cklek.

Setelah dihubungi melalui hand phone, setengah jam kemudian, Hasyim mempersilakan Rakyat Merdeka masuk.

Karpet yang menutupi lantai ruang kerja Hasyim berwarna hijau. Sebuah meja kerja cokelat dan kursi empuk hitam ada di salah satu sisi ruangan. Di dinding belakang meja kerja itu tergantung foto Hasyim hampir sebadan penuh. Tas kerja Hasyim yang tadi ditentengnya tergeletak di atas meja.

Duduk selonjoran di kursi tamu, di seberang meja kerjanya. Peci hitam yang selalu menutupi kepalanya kali ini dilepas, diletakkan di atas meja kecil di sebelah Hasyim. Hand phone-nya pun diletakkan di situ.

Di dinding sebelah sini, tergantung sebuah sulaman kaligrafi besar bermotifkan Ka’bah rumah Allah. Di sisi lain ruangan, tergantung pula lambang NU. Warna dasarnya hijau datar.

Dalam posisi santai itu, Hasyim membiarkan dua kancing atas kemaja batiknya terbuka. Kumis tipis dan rambutnya yang mulai memutih dibiarkan agak acak. Kelihatan Hasyim tak berusaha merapikannya. Cincin kuning bermatakan hijau melingkar di jari manis tangan kirinya. Masih di tangan yang sama, sebuah arloji berwarna emas melingkar pula.

Sebuah gelas ukuran besar dari keramik tergeletak di atas meja tamu di hadapan Hasyim. Beberapa helai kertas juga terlihat di sana. Berserakan, tak beraturan.

Kepada Rakyat Merdeka kembali Hasyim bicara soal rencana istighotsah qubro. “Percayalah. Ini bukan gerakan pro atau kontra Gus Dur. Supaya Anda tahu, kami pun mengingatkan Gus Dur soal nasib bangsa,” katanya dengan suara tinggi. Badannya seketika ditegakkan.

Sambil berbicara, Hasyim menggerakan kedua tangannya, menegaskan setiap kalimat. Lumayan juga, gesture seperti ini berhasil mendramatisir kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Sayangnya, pertikaianlah yang di-blow up. Bukan solusinya,” tangannya bergerak-gerak lagi. “Nah, terus terang ini mempengaruhi psikologis massa NU yang jumlahnya puluhan juta itu. Mereka tidak mungkin lari dari kenyataan ini,” katanya lagi.

Mendadak wakil sekjen PBNU Masduki Baidlawi masuk ruangan. “Habib Kwitang mau datang ke sini,” ucapnya singkat, dan berlalu. Hasyim hanya manggut-manggut tanda mengerti.

“Pasukan berani mati itu, juga bukan fenomena radikalisme. Saya yakin itu hanya reaksi sesaat,” sambung Hasyim dengan nada kembali datar.

Tak berapa lama kemudian, Habib Kwitang yang disebut-sebut tadi tiba. Hasyim segera mengenakan pecinya, berdiri menyambut. Mereka bersalaman, berpelukan, ber ahlan wa sahlan sejenak.

Memahami Kesulitan Kawan

Mengapa Hasyim Muzadi lebih sering tampil membela nama baik Gus Dur, belakangan ini? Mengapa bukan Ketua Umum DPP PKB Matori Abdul Djalil yang melakukan tugas itu?

Spkeluasi paling hangat mengenai hal ini menyebutkan Matori sudah patah arang sama posisi politiknya di NU. Dia sangat paham kesetiaannya pada partai semakin diragukan. Jadi, Matori serba salah untuk bertindak.

Nah, Hasyim memang jumawa. Seolah ia tidak pernah mendengar rumor itu. Bagi Hasyim, wajib hukumnya memberikan bantuan pada kawan yang sedang mengalami kesulitan.(GUH)

Kader Terbaik NU

Tidak dapat diragukan, kiai dari pondok pesantren Al Hikam Ceger Ayam Malang ini adalah kader terbaik yang dimiliki NU sekarang. Hasyim Muzadi disebut-sebut sebagai orang yang lebih layak mengomandoi kaum Nahdliyin di lapangan politik melalui PKB.

Makanya, menjelang Muktamar NU November 1999, terjadi tarik menarik, apakah Hasyim lebih dahulu diposkan di PBNU, atau langsung memimpin PKB. Pada saat yang sama, kekecewaan pada ketua umum DPP PKB Matori Abdul Djalil sebenarnya sudah tak tertahankan lagi.

Tetapi akhirnya, muktamarin memilih Hasyim sebagai ketua PBNU. Langkah ini tentu saja punya maksud lain. Setelah ngepos di PBNU beberapa waktu, diharapkan keandalan Hasyim semakin teruji. Sehingga ketika kelak memenajemen kepentingan politik umat sarungan, Hasyim tidak terjerumus pada kesalahan-kesalahan kecil atau konyol seperti yang pernah dilakukan pendahulunya. (GUH)

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s