Mengurai Mafioso Hukum di Mahkamah Agung

MASIH ingat Tim Gabungan Pemberantas Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK)? Riwayat tim yang diketuai bekas hakim agung MA Adi Andojo Sucipto ini kandas di tangan MA melalui sebuah judicial review.

Begini ceritanya. Tahun 1995 seorang bernama Endin Wahyudin asal Cicalengka kabupaten Bandung berniat membantu kenalannya menuntaskan kasus tanah yang masih tak menentu. Kenalannya ini kalah di pengadilan negeri Bandung. Di tingkat banding, giliran kenalan Endin yang memenangkan perkara. Sengketa ini terus berlajut sampai ke tingkat kasasi di MA. Kembali kenalan Endin menang.

Kendati demikian, tanah yang disengketakan itu belum bisa dikuasai oleh kenalan Endin. Menurut pengadilan negeri Bandung, pihak lawan kenalan Endin melakukan gugatan balik dengan objek sengketa yang sama atau nebis in idem. Seharusnya pengadilan negeri Bandung tidak bisa memproses gugatan itu. Tapi kenyataannya, gugatan tersebut masih diproses.

Akhirnya, dengan maksud menyelesaikan sepenuhnya perkara ini, antara September dan Oktober 1998 Endin berangkat ke gedung MA di Jakarta. Maksudnya tak lain untuk “mengadu untung”. Siapa tahu dengan metode KKN, kasus ini dapat benar-benar mereka menangkan. Menurut pengakuan Endin, dia menyerahkan sejumlah uang kepada tiga orang hakim agung MA, yakni Yahya Harahap, Marnis Kahar dan Supraptini Sutarto.

Ternyata sengketanya tidak juga selesai. Maka dengan rasa kesal. Endin mengadukan hal tersebut kepada Adi Andojo Sucipto ketua TGPTPK. Dalam sebuah jumpa pers, Adi Andojo membeberkan hal itu. Publikasi ini dianggap oleh dua dari tiga hakim agung MA, yakni Marnis dan Supraptini, sebagai pencemaran nama baik.

Mereka berdua menyewa Sahnun Lubis sebagai pengacara. Konon, Sahnun yang juga merupakan penasehat hukum orang dekat Gus Dur, Aris Junaidi dan Siti Farikha, menyarankan MA melakukan judicial review atas keberadaan TGPTPK. Keputusan dari uji hukum itu, TGPTPK tidak punya dasar hukum yang jelas. Jadi, bubarkan saja.

Setelah TGPTPK dibubarkan, Endin kena getahnya. Dia dikeroyok rame-rame. Padahal, menurut pasal 32 butir (c) UU No 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi seharusnya Endin dilindungi. Berikut laporan Teguh Santosa dan fotografer Sarwono dari kamar tiga PN Jakarta Pusat.

Sang Martir

Endin Wahyudin, seorang laki-laki bertubuh sedang duduk di tengah ruang pengadilan PN Jakarta Pusat. Air mukanya tidak dapat dikatakan tenang. Di wajah klimis itu tergambar kegelisahan dan ketegangan yang memuncak. Alis matanya berkerut pertanda serius.

Endin tak bisa duduk tenang. Berkali-kali dia merubah posisi duduknya. Terkadang badannya ditegakkan. Sebentar kemudian disenderkan lagi ke kursi. Atau, kedua kakinya yang dibalut celana hitam dan sepatu hitam itu digoyang-goyangkan, seiring jantungnya yang berdetak semakin kencang. Tangan kanannya kerap membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Dari belakang, jejak keringat terlihat membasahi punggung kemeja lengan panjangnya yang berwarna hijau.

Di hadapan Endin duduk hakim ketua Amiruddin Zakaria yang didampingi hakim anggota Saparuddin Hasibuan dan Heri Suwantoro. Si hakim ketua menguraikan satu persatu dakwaan yang ditujukan pada Endin. Protes Endin melalui delikan matanya tidak dianggap sama sekali oleh Amiruddin. Mungkin karena Amiruddin merasa dirinyalah pemegang otoritas kebenaran. Lihat saja, sebuah palu hitam, simbol penegak keadilan, tergeletak di atas meja yang lazimnya memang berwarna hijau, di hadapannya.

Sementara itu kedua hakim anggota tadi juga memegang berkas surat dakwaan. Sesekali mereka membisikkan sesuatu ke telinga Amiruddin. Sesekali pula Amiruddin mengangguk-angguk tanda mengiyakan.

Di sebelah kiri Endin duduk penuntut umum, Hasan Madani dan HP Silitonga. Tidak seperti Endin, dua penuntut umum ini duduk santai. Mereka yakin kalau tuntutannya akan dimenangkan dalam pertarungan perebutan keadilan kali ini.

Kuasa hukum Endin, Irianto Subiakto yang direktur LBH Jakarta itu, Daniel Panjaitan dan Christina Rini, pun duduk tenang di sebelah kanan Endin. Sudah pengalaman main-main di ruang pengadilan, sih.

Kembali ke Endin. Ketua umum Ikatan Penyalur Surat Kabar dan Majalah (Ipsukam) di Bandung itu, terus saja gelisah. Sebentar-sebentar wajahnya dipalingkan ke arah kuasa hukumnya. Keringatnya tak henti mengucur. Disamping karena rasa gelisah tadi, dapat dipastikan kucuran keringat ini juga distimuli rasa panas yang menyengat. Maklumlah, di ruangan seluas 10 x 20 meter di lantai tiga gedung PN Jakarta Pusat itu hanya ada satu kipas angin kecil yang terletak di sebelah kiri majelis hakim.

Endin didakwa telah mencemarkan nama baik orang lain. Tidak tanggung-tanggung, orang yang merasa dicemarkan nama baiknya itu adalah dua hakim agung, Marnis Kahar dan Supraptini Sutarto.

Adapun Endin tidak merasa melakukan tindakan yang melanggar pasal 310 KUHP itu. Dia sempat menyangkal dakwaan hakim ketua. “Saya menolak. Saya hanya memberikan surat pengaduan tertutup kepada Pak Adi Andojo (bekas ketua Tim Gabungan Pemberantas Tindak Pidana Korupsi atau TGPTPK-red). Bukan saya yang mempublikasikan surat itu. Tetapi Pak Andojo,” kata Endin geram.

Tapi, Endin tidak berdaya jua menolak dakwaan itu. Ketika hakim ketua menawarkan kesempatan untuk membacakan eksepsinya, Endin menjawab dia akan lakukan itu dalam sidang berikutnya.

Amiruddin mengusulkan sidang lanjutan seminggu setelah sidang pertama tanggal 23 April. Tetapi, oleh Endin hal itu diragukan.

Endin tidak perlu menjelaskan lebih lanjut keraguannya. Semua orang yang mendengarkan keraguan Endin memahami 30 April adalah tanggal politik. Hari itu rencananya DPR akan menggelar rapat paripurna yang menentukan nasib memorandum II bagi Gus Dur. Pada saat yang sama diperkirakan ribuan massa pro dan anti Gus Dur saling berhadapan pula. Mungkin saja kerusuhan besar pun terjadi.

“Saya bisa repot nanti. Bisa-bisa perjalanan saya dari Bandung terhambat,” kata Endin lagi.

Amiruddin tersenyum. “Biar gunung meletus, pengadilan tetap jalan,” katanya singkat disambut tawa pengunjung sidang yang tak seberapa jumlahnya itu.

Seusai sidang, Endin kembali mengatakan dirinya tidak bersalah. Dia memang pelaku KKN. Tapi paling tidak dirinya punya itikad baik hendak membongkar sindikasi mafia peradilan di tubuh MA.

“Saya kecewa sama TGPTPK dan Jaksa Agung. Saya tidak dapat diajukan ke pengadilan. Seharusnya saya dilindungi. Jaksa Agung berwenang mengeyampingkan perkara pelaku KKN yang mau memberikan informasi guna membongkar jaringan praktek KKN di lingkungan peradilan”, katanya lagi.

Selesai mengucapkan kalimat itu, Endin mengekori kuasa hukumnya menuruni tangga, ke pelataran parkir.

Pengalaman Pertama

Endin Wahyudin yang berkacamata minus ini tidak bisa menutupi ketegangannya. “Saya tidak pernah berpikir duduk di tengah pengadilan sebagai terdakwa. Ini pengalaman pertama saya,” akunya.

Makanya tidak usah heran, kalau laki-laki kelahiran Cicalengka Bandung Desember 1951 ini seusai sidang pun masih terlihat tegang. Dia tidak mau bicara sebelum tahu siapa yang mengajaknya bicara. “Anda dari mana,” tanyanya ketika Rakyat Merdeka mendekati.

Setelah tahu yang mendekatinya wartawan, pemilik sepatu nomor 41 gemuk ini pun masih ragu-ragu. Kalimatnya meluncur patah-patah. Ceritanya tidak runut. “Ini pengalaman saya di pengadilan,” katanya lagi menegaskan.(GUH)

Boss Loper Koran Bandung

Jangan salah kira, sebagai ketua umum Ipsukam, yang menghimpun 115 keagenan media massa di Bandung, Endin punya 2500 anak buah. Semua anak buahnya adalah loper koran dan majalah yang setiap hari beredar di jalanan kota Kembang.

“Saya tahu, tanpa loper di jalanan media massa tidak berarti apapun. Siapa yang menyampaikan berita pada pembaca, kalau bukan loper. Makanya saya memperhatikan kesejahteraan mereka,” kata Endin.

Sebagai bentuk perhatiannya pada loper-loper di Bandung, penggemar klub Italia Juventus ini sering memberikan bea siswa. Sampai tahun ajaran 2000 ada sekitar 34 loper yang diberinya bea siswa. Bahkan Endin yang mengaku otodidak dan tidak bersedia menyebutkan pendidikan formal terakhirnnya ini juga mengasuransikan loper-loper itu. “Saya hanya orang kecil. Kalau punya rezeki saya harus bagikan kepada orang kecil lainnya,” katanya lagi.(GUH)

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s