Inilah Kisah di Balik 100 Hari Pertama SBY Jilid 2
27 Jan 2010 Leave a Comment
in CATATAN
Adalah Franklin Delano Roosevelt yang memperkenalkan sekaligus memulai tradisi “100 hari pertama”.
Ia terpilih sebagai presiden ke-32 Amerika Serikat di tengah krisis ekonomi yang menghantam perekonomian dunia kala itu. Krisis yang dikenal dengan sebutan The Great Depression dipicu oleh kehancuran bursa saham Wall Street di bulan Oktober 1929 yang berdampak sistemik dan dengan kecepatan luar biasa menyebar ke seluruh dunia.
Perekonomian AS babak belur. Jumlah pengangguran melonjak hingga 25 persen, daya beli masyarakat turun drastis, jumlah penduduk miskin bertambah, ratusan ribu orang Amerika mendadak menjadi gelandangan. Sistem perbankan kolaps, lebih dari 5.000 bank gulung tikar. Industri dan proyek konstruksi juga pertanian pun lumpuh terhenti.
Itu adalah saat yang paling menentukan bagi Amerika Serikat.
Tetapi Roosevelt tidak putus asa. Ketika dilantik sebagai presiden tanggal 4 Maret 1933, Roosevelt mengajak seluruh rakyat AS untuk percaya bahwa mereka dapat mengatasi berbagai kesulitan yang tengah terjadi.
“Bangsa ini meminta aksi, dan aksi itu harus dilakukan sekarang,” ujarnya sambil menegaskan bahwa salah satu tugas konstitusional penting yang dimilikinya adalah memberikan pekerjaan kepada rakyat.
Di masa yang kritikal itu Roosevelt bolak balik menemui wakil rakyat di Kongres. Ia berusaha sekuat mungkin meyakinkan berbagai kubu di Kongres bahwa cetak biru yang digagasnya, yang dikenal dengan nama New Deal, pantas didukung. Dengan kemampuan lobi politik dan kepribadiannya yang hangat dan tidak dibuat-buat, Roosevelt yang sebelum menjadi presiden adalah Gubernur New York dan Asisten KASAL berhasil memperoleh dukungan dari Senat dan DPR.
Programnya dikenal dengan 3R, yakni relief atau menyelamatkan pengangguran di berbagai sektor, terutama sektor industri dan pertanian; reformasi praktik bisnis dan keuangan; serta recoveryekonomi.
Sampai hari ini, beberapa program yang diinisiasi Roosevelt untuk menyelamatkan perekonomian nasional AS ketika itu masih dilanjutkan. Sebut saja Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), Federal Crop Insurance Corporation (FCIC), Federal Housing Administration (FHA), dan Tennessee Valley Authority (TVA), juga Social Security System, dan Securities and Exchange Commission (SEC), serta Fannie Mae.
Berbagai program ini tidak akan bertahan seandainya Roosevelt tidak sungguh-sungguh memikirkan dan mengerjakannya; tidak akan bertahan lama bila ia hanya jago pidato; tidak akan bertahan lama bila ia hanya sibuk mematut-matut diri.
Inilah kehebatan Roosevelt. Inilah yang membuat rakyat AS mencintainya. Sejauh ini, baru Roosevelt yang terpilih sebagai presiden AS untuk tiga priode pemerintahan. Ia yang sejak memimpin AS sudah lumpuh dan tergantung pada bantuan kursi roda meninggal dunia di bulan April 1945.
Apa boleh buat. Gaya kepemimpinan Roosevelt telah menjadi semacambenchmark dalam praktik politik di Amerika Serikat sejak itu.
Semua presiden Amerika Serikat yang baru dilantik memiliki tanggung jawab moral untuk menetapkan dan mengerjakan sejumlah program unggulan di 100 hari pertama pemerintahan mereka. Ini menjadi indikator penting untuk menilai keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi dan ingin disingkirkan. Bila ngaco pada 100 hari pertama, sebuah pemerintahan akan mengalami kesulitan-kesulitan yang lebih besar.
Pengaruh Roosevelt juga sampai ke Indonesia.
Tradisi mengukur komitmen pemerintah dalam 100 hari pertama kita kenal sejak masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Di hari ke-100 pemerintahan Gus Dur, demonstrasi besar digelar mahasiswa di depan Istana Merdeka.
Begitu juga di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan SBY.
Hari ini kita sama-sama menyaksikan perbedaan pendapat di kalangan elit dan masyarakat luas mengenai 100 hari pertama pemerintahan SBY jilid II. Ada yang mengatakan SBY berhasil, ada yang mengatakan sebaliknya, gagal.
Ada menteri SBY yang mengaku program 100 hari pertama di kementerian yang dipimpinnya tuntas di hari ke-75. Ada kelompok masyarakat yang bahkan tidak tahu menahu apa yang dikerjakan pemerintah dalam 100 hari petama ini.
Ada yang heran mengapa dalam 100 hari pertama pemerintah terlihat lebih sibuk mengurusi masalah politik. Ada yang kagum dengan kesigapan SBY dalam 100 hari pertama ini menjawab berbagai hal yang disebutnya fitnah dan rekayasa. Misalnya dalam kasus “cicak lawan buaya” dan kasus dana talangan Bank Century. Ada yang menilai Presiden SBY terlihat berlebihan saat di hadapan Paspampres mengatakan dirinya menghadapi ancaman pembunuhan. Ada yang bilang, itu tak perlu dikeluhkan.
Ada kelompok masyarakat yang menduga memang sudah seharusnya dalam 100 hari pertama harga beras menjadi mahal dan listrik masihbyar pet. Ada kelompok masyarakat mengira album ketiga yang baru diluncurkan SBY juga masuk dalam program 100 hari pertama.
Kalau Anda, pembaca yang budiman, juga bingung menilai 100 hari pertama pemerintahan SBY jilid II, jangan malu. Anda tidak sendirian.You are really not alone.
Orang sekelas Sukardi Rinakit, yang pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate, pun sama bingungnya seperti kita.
Sebegitu bingungnya, kata Sukardi Rinakit di sebuah diskusi yang digelar di FX Plaza, Jalan Sudirman, Jakarta, kemarin (26/1), “semakin panjang SBY pidato, semakin saya bingung.”















Recent Comments