Herman Sarens Sudiro, yang rumahnya di Serpong, Tangerang, sedang dikepung adalah mantan Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) di tahun 1967.

Dua tahun lalu, beberapa hari sebelum mantan Presiden Soeharto menghembuskan nafas terakhir di bulan Januari 2008 , Herman Sarens Sudiro menjenguk mantan bosnya itu di RS Pusat Pertamina. Ketika itu, ia membawa selembar foto hitam-putih tua yang memperlihatkan dirinya bersama pasangan Soeharto dan Tien Soeharto.

Kabar mengenai pengepungan rumah Herman mengejutkan banyak pihak. Sejauh ini belum ada kabar yang dapat menjelaskan apa yang menyebabkan pengepungan itu. Namun berbagai spekulasi mulai merebak. Dari sikap keras yang diperlihatkan sejumlah purnawirawan TNI terhadap kondisi negara sampai perkawinan Helmy Yahya dengan cucunya.

Karier Herman dimulai dari Komandan Kompi Tentara Pelajar Siliwangi, di Banjar. Lalu Komandan Peleton Divisi Siliwangi, Garut (1946), Komandan Kompi Divisi Siliwangi, Jakarta (1949), Wakil Komandan Batalyon Divisi Siliwangi, Bandung (1959), Komandan Batalyon Divisi Siliwangi, Bandung (1959) dan Karo Suad 2 MBAD, Jakarta (1964).

Setelah peristiwa 30 September – 1 Oktober 1965, Herman bertugas sebagai Paban Suad 2 Mabad, Jakarta (1966), dan Komandan Brig Kosatgas Mabad, Jakarta (1966), serta Wadan Korps Markas Hankam, Jakarta (1969). Lalu Komandan Korps Markas Hankam (1970).

Sekitar sepuluh tahun lalu Herman membuat pengakuan bahwa dirinya pernah menggiling 100 anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan tank. Menurutnya, aksinya saat itu dibenarkan oleh hukum yang berlaku. Herman juga mengkritisi penutupan penjara politik di Pulau Buru.

About these ads