Selama masa kampanye Pilpres 2009 pasangan SBY-Boediono telah mengkonfirmasi kepatuhan mereka pada agenda kaum neoliberal di Indonesia.
Menurut Direktur Eksekutif Econit, Hendri Saparini, setidaknya masyarakat dapat mengetahui bahwa ada tiga program pokok ekonomi neolib yang akan dipertahankan dan dikembangkan duet bernomor punggung dua itu bila mereka menang. Kedua program pokok itu adalah satu, privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), liberalisasi di berbagai sektor penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan terakhir menggantungkan pembangunan pada utang luar negeri.
“Capres Boediono dalam berbagai kesempatan selama masa kampanye mengatakan ia akan melanjutkan penjualan Krakatau Steel, BTN (Bank Tabungan Negara), PT. Dok Kapal dan PT. KAI (Kereta Api Indonesia). Pertanyaan kita adalah mengapa BUMN strategis seperti ini hendak dijual? Mengapa pemerintah tidak melakukan pemetaan terlebih dahulu terhadap BUMN yang kita miliki,” kata Hendri Saparini dalam jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta, siang ini (Selasa, 7/7). Selain Hendri Saparini, ekonom senior Rizal Ramli dan Binny Buchori juga hadir.
Hendri Saparini juga mengecam keputusan tim ekonomi SBY untuk meliberalisasi sektor pertanian Indonesia dan Free Trade Agreement (FTA) dengan Australia. Dari sekian hal yang disampaikan kubu SBY selama kampanye, masih kata Hendri Saparini, rakyat mengetahui bahwa kubu SBY lebih mementingkan pencitraan, bertekad menjalankan ekonomi neolib dan tidak peduli pada kepentingan nasional.















Posted on July 7, 2009
0