roxana saberiTAHUN 1997 Roxana Saberi dinobatkan sebagai Miss North Dakota. Setahun kemudian dia terpilih sebagai satu dari 10 finalis Miss America.

Lulus dari jurusan komunikasi massa dan bahasa Prancis di Concordia College di Moorhead, Minnesota, dia melanjutkan pendidikannya ke jurusan komunikasi di Northwestern University dan kemudian ke hubungan internasional di Cambridge University di Inggris.

Enam tahun lalu Roxana yang kini berusia 31 tahun pindah ke Iran. Roxana yang keturunan Iran-Jepang ini menjadi wartawan freelance untuk sejumlah kantor media massa, seperti National Public Radio, Fox News, dan BBC.

Pemerintah Iran menangkap Roxana bulan Januari lalu. Awalnya, dia ditangkap karena memiliki anggur. Belakangan tuduhan untuk dirinya berubah. Dia ditangkap karena bekerja tanpa akreditasi. Lalu, akhirnya didakwa bekerja sebagai mata-mata Amerika Serikat. Pekan ini pengadilan Iran menjatuhkan hukuman penjara delapan tahun untuk dirinya.

Profil Roxana bisa dilihat disini.

roxana-saberi-khatami

Foto: Roxana dan mantan presiden Iran, Mohamed Khatami. Foto dikutip dari sini.

Roxana Saberi yang memiliki dua kewarganegaraan, AS dan Iran, dipenjara di Evin, sebuah penjara yang dikhususkan untuk tahanan politik. Selain itu, Penjara Evin juga dikenal sebagai kuburan jurnalis. Dalam enam tahun terakhir, menurut Committee to Protect Journalist (CPJ), dua wartawan meninggal di Penjara Evin. Tidak ada penjelasan yang meyakinkan mengenai sebab-sebab kematian mereka.

fariba-iran-evin1jpg

Pintu masuk Evin Prison.

Omidreza Mirsayafi, seorang blogger yang dihukum 30 bulan penjara dalam kasus penghinaan tokoh agama meninggal bulan ini. Kematiannya disebut sebagai misteri.

Tahun 2003, foto-jurnalis Iran-Kanada, Zahra Kazemi, meninggal karena kerusakan otak akibat siksaan dan pukulan yang dialaminya di Penjara Evin.

“Vonis yang diberikan untuk Roxana sangat mengkhawatirkan,” begitu Mohamed Abdel Dayem, Kordinator Program CPJ di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Ayah Roxana, Reza Saberi mengatakan anaknya akan naik banding. Sementara Menlu AS Hillary Clinton menyatakan kecewa atas vonis pengadilan yang dilakukan secara tertutup ini.

About these ads