
“JELASLAH bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.” Pangkostrad Mayjen Soeharto, 4 Oktober 1965.
“Matanya dicungkil.” Angkatan Bersendjata, 6 Oktober 1965.
“Deru mesinnya yang seperti harimau haus darah.” Angkatan Bersendjata, 7 Oktober 1965.
“Ada yang dipotong tanda kelaminnya.” Berita Yudha, 10 Oktober 1965.
“Belakangan ini saya dapat bukti bahwa jenderal-jenderal yang dimasukkan semua ke Lubang Buaya tidak ada satu orang pun yang kemaluannya dipotong. Saya dapat buktinya darimana? Visum repertum daripada team dokter-dokter yang menerima jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal yang dimasukkan ke dalam sumur Lubang Buaya itu.” Presiden Ir. Sukarno, 13 Desember 1965
Tulisan berikut ini dimuat secara berseri di Jakartabeat.net [bag. 1 dan bag. 2], merupakan “penyempurnaan” dari tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini, dilengkapi dengan beberapa kutipan dari mock proposal di kelas POLS 780, juga foto-foto dari Lubang Buaya, dan pemberitaan dari beberapa media massa di tahun 1965. Kalau Anda tak selesai membacanya, istirahat dulu, lalu kembali lagi. Selamat mambaca.
***

Di atas kursi roda, mengenakan kaos oblong putih dan sarung biru bergaris-garis, Lim Joe Thay duduk terdiam. Bibirnya mengatup, sering kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada dan sekali-sekali diletakkan di atas paha. Rambutnya telah memutih sempurna. Dia tak banyak bicara. Kalau pun bersuara, kata-katanya terdengar sayup dan samar.
Sekali waktu laki-laki yang kini berusia 83 tahun itu bergumam. Mumbling. Saya mencoba menangkap isi ceritanya. Tidak jelas. Terpotong-potong, patah-patah. Kalau disambungkan seperti cerita tentang sepasukan tentara yang bergerak di sebuah tempat, entah di mana. Tapi cerita itu tak tuntas. Dia menutup sendiri ceritanya, mengalihkan pandangan mata ke sembarang arah, sebelum kembali menenggelamkan diri dalam diam.
Di saat yang lain, dia kembali menanyakan nama saya. Dan kalau sudah begini, saya memegang tangannya, menyebutkan nama saya sambil menatap matanya. Setelah itu senyumnya sedikit mengembang.

Dikenal dengan nama dr. Arief Budianto, tak banyak yang menyadari Lim Joey Thay adalah tokoh penting. Sangat penting, bahkan. Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945.

Pagi hari 4 Oktober 1965 pasukan yang dipimpin Pangkostrad Mayjen Soeharto menemukan tujuh mayat perwira Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh Gerakan 30 September dinihari 1 Oktober. Ketujuh perwira naas itu adalah Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani, Deputi II Menpangad Mayjen R. Soeprapto, Deputi III Menpangad Mayjen MT. Harjono, Deputi IV Menpangad Brigjen DI. Panjaitan, Oditur Jenderal/Inspektur Kehakiman AD Brigjen Soetojo Siswomihardjo, Asisten I Menpangad Mayjen S. Parman, dan Lettu P. Tendean (Ajudan Menko Hankam/KASAB Jenderal AH Nasution).



Mayat enam jenderal dan seorang perwira muda Angkatan Darat ini ditemukan di dalam sebuah sumur tua sekitar 3,5 kilometer di luar Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusumah
Lim Joey Thay yang ketika itu adalah lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) merupakan satu dari lima ahli forensik yangberdasarkan perintah Soeharto memeriksa kondisi ketujuh mayat tersebut sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, siang hari 5 Oktober.
Empat dokter lain di dalam tim ini adalah dr. Brigjen Roebiono Kertopati, perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat; dr. Kolonel Frans Pattiasina, perwira kesehatan RSP Angkatan Darat; dr. Sutomo Tjokronegoro, ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK-UI; serta dr. Liau Yan Siang, rekan Lim Joey Thay di Ilmu Kedokteran Kehakiman FK-UI.
Kini dari lima anggota tim otopsi itu, tinggal Lim Joey Thay dan Liu Yang Siang yang masih hidup. Lim Joey Thay kini sakit-sakitan, sementara sejak beberapa tahun lalu, Liu Yan Siang menetap di Amerika Serikat dan tidak diketahu pasti kabar beritanya.
Berpacu dengan waktu dan proses pembusukan, mereka berlima bekerja keras selama delapan jam, dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober, hingga pukul 12.30 tengah malam 5 Oktober, di kamar mayat RSP Angkatan Darat.
***
Pagi di bulan Juni tahun lalu saya dihubungi Dandhy Dwi Laksono, kawan jurnalis yang ketika itu masih bekerja sebagai kordinator liputan sebuah stasiun televisi.
“Dr. Arif jatuh. Sekarang dirawat di St. Carolus. Gua mau ke sana. Lu nyusul ya,” begitu pesan pendeknya.
Satu jam kemudian kami bertemu di kantin RS St. Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Setelah sarapan dan membeli buah-buahan di kantin untuk dr. Lim Joey Thay, kami berjalan menuju kompleks rawat inap Ignatius-II tempat ia dirawat.
Di teras Ignatius-II, Lim Joey Thay duduk sendirian menghadap taman kecil di depannya. Istri dan beberapa kerabatnya yang berada di bagian dalam paviliun itu menyambut kami.
Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa dr. Lim Joey Thay terjatuh karena serangan struk. Namun Ny. Arif menjelaskan bahwa dr. Lim Joey Thay terjatuh saat hendak naik ke kursi roda di rumahnya. Mungkin karena terlalu lelah. Keadaannya tidak mengkhawatirkan, kata Ny. Arif. Dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi dr. Lim Joey Thay lebih baik, sambungnya.
Dandhy menemukan kembali visum et repertum ketujuh Pahlawan Revolusi dan kisah tentang dr. Lim Joey Thay saat menyiapkan sebuah program liputan khusus untuk menyambut peringatan peristiwa Gerakan 30 September yang oleh Bung Karno dianggap sebagai resultan dari konflik internal Angkatan Darat, petualangan pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) dan operasi kaum nekolim di tanah air. Tim liputan yang dipimpin Dandhy melakukan riset ekstensif mengenai penyiksaan yang dialami ketujuh Pahlawan Revolusi itu. Dalam liputan khusus itu, wawancara Dandhy dengan dr. Lim Joey Thay juga disertakan.
Saya tak menyaksikan liputan khusus yang diputar Oktober 2007 itu. Tetapi dari e-mail yang disampaikan Dandhy pada sebuah milis ketika dia mengumumkan penayangan program tersebut saya menangkap penegasan sekali lagi dr. Lim Joey Thay bahwa cerita tentang alat kelamin Pahlawan Revolusi yang disilet —apalagi dipotong dan ditelan—juga cerita tentang mata mereka yang dicungkil adalah bohong belaka. Sayangnya, kebohongan ini sudah kadung dianggap sebagai fakta sejarah dan diajarkan di sekolah-sekolah.
Tulis Dandhy dalam e-mailnya, “Hasil wawancara sebenarnya hanya mengonfirmasi apa yang tertera dalam dokumen visum et repertum, bahwa enam Pahlawan Revolusi tewas akibat luka tembak, dan satu orang (Mayjen M.T. Haryono) akibat luka tusuk. Ada sejumlah luka lebam yang diragukan apakah akibat pemukulan atau akibat jenazah dijatuhkan ke dalam sumur sedalam 12 meter.”
“Karena masalah komunikasi, dalam wawancara, Prof Arief [Lim Joey Thay] didampingi dr. Djaja Admadja, bekas muridnya yang kini adalah dokter forensik di RSCM (ahli DNA). dr. Djaja yang lebih banyak mengurai detil, sementara Prof Arief sesekali menimpali,” demikian tulis Dandhy.
***

Visum et repertum jenazah Pahlawan Revolusi ini jelas bukan barang baru. Benedict Anderson dari Cornell University telah menyalin ulang visum et repertum itu dalam artikelnya, How Did the Generals Die? di jurnal Indonesia edisi April 1987. Artikel Ben Anderson ini membuat pemerintahan Soeharto marah besar, dan sejak itu Ben Anderson diharamkan menginjakkan kaki di Indonesia.
Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Dan pembunuhan dengan cara apapun jelas di luar nilai-nilai kemanusiaan. Namun dari hasil otopsi yang dilakukan dr. Lim Joey Thay dan teman-temannya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang dilaporkan media massa yang dikuasai Angkatan Darat, Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, dan beberapa media cetak lain yang diperbolehkan beredar selagi mengikuti aturan main dan kemauan pihak militer. Sumber berita lain di masa itu adalah RRI, TVRI dan Kantor Berita Antara yang seperti dua koran sebelumnya juga dikontrol militer.
Dalam artikelnya ini, sebelum menyalin ulang visum et repertum ketujuh mayat Pahlawan Revolusi untuk komunitas akademik, Ben Anderson lebih dulu mengutip beberapa pemberitaan media massa mengenai detil pembunuhan para perwira.
Bila dibandingkan dengan semua laporan-laporan yang dipublikasikan media-media massa yang dikontrol tentara itu, kata Ben Anderson, hasil visum et repertum itu memberikan deskripsi yang paling pas dan objektif mengenai nasib mereka setelah diculik oleh kelompok Letkol Untung, Komandan Batalion I Resimen Kawal Presiden Cakrabiwara.
Mata Jenderal Ahmad Yani dicungkil, tulis Angkatan Bersendjata edisi 6 Oktober. Berita Yudha menegaskan sekali lagi soal pencungkilan mata ini dua hari kemudian sambil menambahkan bahwa saat ditemukan mayat para perwira Angkatan Darat terbungkus kain hitam.
Sehari kemudian, 7 Oktober, Angkatan Bersendjata mempublikasikan cerita tentang detail pembunuhan Brigjen Panjaitan di depan rumahnya. Setelah dihujani tembakan, mayat Brigjen Panjaitan dilemparkan ke dalam truk yang kemudian membawanya ke Lubang Buaya. Sebegitu mengerikannya kekuatan pasukan penculik Panjaitan ini, sampai-sampai deru mesin kendaraan yang mereka pakai saja seperti “suara harimau yang haus darah.”
Sementara, walaupun wajah Suprapto dan tengkoraknya dihantam oleh “penteror2 biadab” namun dia masih dapat dikenali, begitu tulis Berita Yudha edisi 9 Oktober. Sehari kemudian koran yang sama menurunkan berita yang disebut bersumber dari saksi mata yang berada di lokasi pembantaian. Menurut pengakuan saksi ini, biji mata beberapa korban dicungkil keluar, sementara kemaluan beberapa lainnya dipotong.
Edisi 11 Oktober Angkatan Bersendjata menuliskan laporan yang lebih detil tentang pembunuhan Lettu Tendean. Ajudan Jenderal Nasution ini disebutkan menjadi sasaran latihan tembak anggota Gerwani.
Cerita-cerita mengenai alat kelamin yang disayat, dipotong dan dimakan telah membangkitkan amarah di akar rumput. Cerita-cerita imajinatif ini, menurut Ben Anderson dalam artikelnya yang lain, Indonesian Nationalism Today and in the Future (1999), sengaja disebarkan oleh pihak militer.
Ia bagian dari dalih untuk melakukan pembantaian massal, tulis John Roosa (2006). Dan ia bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar. Selanjutnya, yang terjadi adalah pembantaian besar-besaran di mana-mana terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang dituduh menjadi anggota PKI dan/atau memiliki relasi dengan PKI.
Benedict Anderson, menggarisbawahi bagaimana dan dengan maksud apa berita pemotongan alat kelamin itu disebarkan.
“Soeharto dan kelompoknya telah menerima hasil otopsi detil yang dilakukan ahli forensik sipil dan militer terhadap tubuh korban, para jenderal yang dibunuh 1 Oktober. Laporan itu memperjelas bahwa para jenderal ditembak mati dan mayat mereka dibuang ke sebuah sumur dalam di Lubang Buaya. Tetapi tanggal 6 Oktober, media massa yang dikontrol Soeharto melancarkan sebuah kampanye yang menyebutkan bahwa mata para jenderal dicongkel dan alat kelamin mereka dipotong,” tulis Ben Anderson.
Propaganda pihak militer ini, yakin Ben Anderson, dilakukan untuk menciptakan atmosfer histeria di seluruh Indonesia yang telah mendorong pembantaian lebih dari setengah juta orang dengan cara paling mengerikan, tanpa melalui proses pengadilan.
Tidak keliru bila ada yang menyebut bahwa pemerintahan Orde Baru didirikan di atas tumpukan tengkorak dan tulang belulang, demikian Ben Anderson.
Tidak ada catatan yang meyakinkan tentang berapa jumlah rakyat yang tewas dalam pembantaian massal itu. Jumlah yang sejauh ini dianggap sebagai kebenaran berkisar antara 500 ribu hingga 1,5 juta. Dalam artikelnya tahun lalu, Exit Soeharto: Obituary for a Mediocre Tyrant yang ditulis khusus untuk mengenang Soeharto yang meninggal tiga bulan sebelumnya, Ben Anderson mengutip pengakuan Jenderal Sarwo Edhie tentang jumlah orang yang tewas dalam pembunuhan massal 1965-1966.
“On his deathbed, the by-then marginalized General Sarwo Edhie, who led the Red Berets in 1965-66, even said he had been responsible for the death of three million people.”
***

Begitulah. Sejarah, kata sementara orang, adalah catatan para pemenang. Dus arti sebaliknya adalah: orang yang kalah tak punya hak untuk ikut menuliskan sejarah. Di bawah rezim otoriter, pemerintah pusat adalah satu-satunya pihak yang punya hak untuk menentukan mana yang dapat disebut sebagai fakta sejarah dan mana yang tidak. Dengan menggunakan stabilitas politik sebagai dalih pembangunan nasional, pemerintahan Orde Baru mempabrikasi versi mereka tentang konstruksi sejarah nasional, termasuk dalam hal ini, sejarah mengenai peristiwa G30S yang menjadi pondasi rezim berusia tiga dasawarsa itu. Pokoknya, sejarah versi penguasa adalah satu-satunya dogma yang harus diingat dan dipercaya.
Bagi pemerintahan otoriter, cerita dan interpretasi yang berbeda dari versi penguasa mengenai apa yang terjadi di masa lalu adalah upaya untuk mensabotase kedaulatan negara dan proses pembangunan nasional. Karena itu, cerita-cerita yang tak dikehendaki penguasa ini diharamkan, dan pihak-pihak yang membawa dan menyebarkannya dinyatakan sebagai musuh negara. Sensor pun adalah aksi yang biasa dilakukan pemerintahan Orde Baru untuk mengontrol informasi publik dan dunia akademi yang berpotensi menggugat kebenaran versi penguasa.
Tidak boleh ada fakta yang bertentangan dengan “fakta” yang diproduksi penguasa mengenai peristiwa G30S dan tidak boleh ada penjelasan lain yang berbeda dari penjelasan versi pemerintah yang boleh hidup di ruang publik. Kalau pun ada, selama Soeharto berkuasa, ia hanya hidup dalam ruang bisik-bisik. Bagi pemerintahan Soeharto, cerita dan sejarah mengenai peristiwa itu datar dan sederhana: ia diotaki oleh PKI dan klik kiri yang berada di dalam tubuh Angkatan Darat, serta G30S dinyatakan sebagai gerakan yang berusaha untuk menggantikan Pancasila yang pro-Tuhan dengan komunisme yang anti-Tuhan.
Sejak awal, Soeharto dan kelompoknya di Angkatan Darat mengaitkan kelompok G30S dengan PKI. Untuk mempertajam imajinasi publik di tahun 1984 pemerintah Orde Baru merilis film Pengkhianatan G30S/PKI. Selama beberapa tahun di setiap tanggal 30 September film itu diputar ulang. Tidak cukup sampai situ, sebuah monumen yang diberi nama Pancasila Sakti didirikan di Lubang Buaya. Semua hal ini melengkapi ritual suci hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.
Di masa Orde Baru, tulis John Roosa dalan Pretext for Mass Murder (2006), anti-komunis seakan menjadi agama resmi negara dengan dengan tempat suci, ritual dan hari perayaan.
Setahun setelah gelombang pembantaian besar-besaran itu dihentikan, di depan DPRS, 16 Agustus 1967, Soeharto yang sudah menjadi pejabat presiden memberikan justifikasi bagi pembantaian yang disponsori militer dan didukung oleh kelompok-kelompok non-komunis terhadap siapa saja yang disebut punya hubungan baik langsung atau tidak langsung dengan partai komunis dan peristiwa 30 September di Jakarta.
“Komunis yang berdasarkan pada dialektika materialisme sesunggunya adalah anti-Tuhan, sementara Pancasila mengakui Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya. Di sisi lain, dia juga menyerang politik Nasakom Sukarno yang menurut Soeharto mustahil dan bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.
***
Bung Karno donder, marah, mendengar kabar dan berita yang mengatakan bahwa para perwira Angkatan Darat yang menjadi korban dalam peristiwa di subuh 1 Oktober 1965 mengalami penyiksaan mahahebat sebelum nyawa mereka dihabisi. Kabar seperti ini, menurut si Bung, sengaja disebarluaskan untuk membakar emosi rakyat dan mendorong “gontok-gontokan” di kalangan rakyat yang akhirnya menjelma menjadi “sembelih-sembelihan”.
Donder itu terjadi dua kali dalam 24 jam. Pertama saat si Bung berbicara di depan wartawan di Istana Bogor, malam hari, tanggal 12 Desember 1965. Donder kedua, keesokan hari, saat Bung Karno berbicara di depan gubernur se-Indonesia, di Istana Negara.
Kepada para wartawan, cerita Bung Karno di depan para gubernur, dia bertanya darimana media massa mendapat cerita tentang kronologi pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yang diculik kelompok Untung.
Tak ada seorang wartawan pun yang menjawab. Menteri Penerangan Achmadi, Kepala Dinas Angkatan Darat Brigjen Ibnu Subroto dan Letkol Noor Nasution yang mengawasi Antara pun tak bisa mengatakan darimana mereka mendapat kabar itu.
“Saya tidak tahu apakah gubernur-gubernur tadi malam menyetel radio atau televisi. Maka ada baiknya saya ceritakan sedikit pendonderan-pendonderan saya tadi malam. Begini, tatkala sudah terjadi Lubang Buaya, jenazah-jenazah daripada jenderal dibawa kesana dan dimasukkan ke dalam sumur. Ooh, itu wartawan-wartawan suratkabar menulis, bahwa jenderal-jenderal itu disiksa di luar perikemanuiaan. Semua, katanya, maaf, saudari-saudari, semuanya dipotong mereka punya kemaluan.”
“Malahan belakangan juga ada di dalam surat kabar ditulis bahwa ada seorang wanita bernama Djamilah, mengatakan bahwa motongnya kemaluan itu dengan pisau silet. Bukan satu pisau silet, tetapi lebih dahulu 100 anggota Gerwani dibagi silet. Dan silet ini dipergunakan untuk mengiris-ngiris kemaluan. Demikian pula dikatakan, bahwa di antara jenderal-jenderal itu matanya dicungkil.”
Kisah Djamilah yang disebut Bung Karno ini dimuat oleh koran Api Pantjasila, edisi 6 November 1965. Koran ini berafiliasi dengan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesian (IPKI), sebuah partai politik yang didukung tentara. Di tahun 1973, bersama empat partai lain, PNI, Partai Murba, Partai Parkindo, dan Partai Katholik, partai ini difusikan menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Dalam laporan Api Pantjasila, Djamilah digambarkan sebagai seorang wanita muda, 15 tahun, yang tengah hamil tiga bulan. Anggota Gerwani ini dikatakan berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Ia mengaku, di Lubang Buaya dinihari itu, dia dan teman-temannya dipersenjatai silet oleh anggota kelompok Gerakan 30 September, dan setelah itu mereka diperintahkan untuk menyayat dan memotong kemaluan para perwira Angkatan Darat yang jadi korban.
Sebelumnya pada edisi 20 Oktober, Api Pantjasila menurunkan laporan yang menyebutkan bahwa kelompok pemuda yang menyerang markas komunis di Harupanggang, di sekitar Garut, Jawa Barat, menemukan alat yang digunakan untuk mencungkil bola mata Ahmad Yani. Sama sekali tidak ada penjelasan bagaimana alat itu, kalau memang benar digunakan untuk mencungkil mata Ahmad Yani, bisa berada di Harupanggang, ratusan kilometer dari Pondok Gede.
Antara edisi 13 Desember 1965 menurunkan berita yang tak kalah sensasionalnya. Menurut Antara, sebelum membantai korban penculikan anggota Gerwani yang telah dipersenjatai silet terlebih dahulu menarikan tarian cabul yang dikenal dengan nama Harum Bunga, meliuk-liukkan tubuh mereka sampai banyak di antaranya yang hilang kesadaran dan telanjang.
Menurut peneliti dari Universitas Amsterdam, Belanda, Saskia E. Wieringa dalam artikelnya di tahun 2003, pemerintahan Orde Baru secara sistematis menghancurkan moral Gerwani dan lebih dari itu, wanita Indonesia pada umumnya. Cerita kebinalan anggota Gerwani di Lubang Buaya semakin dianggap sebagai kebenaran setelah tokoh agama dan media massa yang berafiliasi dengan kelompok agama ikut angkat bicara.
Sinar Harapan edisi 9 Oktober mengutip pernyataan Dewan Gereja Indonesia yang mengatakan tidak habis pikir bagaimana mungkin di sebuah negara Pancasila yang mempercayai Tuhan tindakan amoral seperti itu bisa terjadi. Edisi 12 Oktober koran Duta Masyarakat yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di Indonesia dan lawan lawas PKI dalam politik segitiga Nasakom, menurunkan berita yang menggambarkan anggota Gerwani menari sambil telanjang di depan korban yang sudah sekarat dan tewas. Tarian mereka, tulis Duta Masyarakat, mengingatkan pada upacara kaum kanibal masyarakat primitif ratusan tahun lalu.
Angkatan Bersenjata edisi 3 November menurunkan laporan tentang pengakuan seorang anggota Pemuda Rakyat yang menyaksikan anggota Gerwani berteriak-teriak sambil bernyanyi-nyanyi dan mempermainkan Jenderal Ahmad Yani yang sudah sekarat tak sadarkan diri.
Berita Yudha edisi 4 November kembali menurunkan berita tentang Gerwani. Kali ini disebutkan tentang kelompok Kancing Hitam yang terdiri dari wanita-wanita cantik anggota Gerwani yang merelakan tubuhnya digunakan sebagai pemuas nafsu petinggi-petinggi partai politik. Anggota Kancing Hitam, demikian kata Berita Yudha, berusaha sebisa mungkin merayu petinggi partai-partai itu untuk mendukung PKI.
Tidak sampai di situ. Gambaran tentang anggota Gerwani yang binal dan bermoral rendah diabadikan Orde Baru pada relif di bagian bawah monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Bulan Januari lalu saya menyempatkan diri mengunjungi monumen itu dan mengamati relief tersebut. Tiga orang anggota Gerwani sedang menari sambil tersingkap belahan dada mereka, sementara tak jauh dari mereka seorang korban penculikan yang mungkin sudah dibunuh dimasukkan ke dalam sumur tua Lubang Buaya.
Itulah agaknya sedikit dari banyak berita yang membuat Bung Karno donder. Dan ia masih melanjutkan pendonderannya.
“Saya pada waktu itu memakai saya punya gezond verstand, Saudara-saudara. Dan dengan memakai saya punya gezond verstand, itu saya betwiffelen, ragukan kebenaran kabar ini. Tetapi saya melihat akibat daripada pembakaran yang sedemikian ini. Akibatnya ialah, masyarakat seperti dibakar. Kebencian menyala-nyala, sehingga di kalangan rakyat menjadi gontok-gontokkan, yang kemudian malahan menjadi sembelih-sembelihan.”
“Saudara-saudara mengetahui, bahwa saya sejak mulanya berkata, jangan, jangan, jangan, jangan sembelih-sembelihan, jangan gontok-gontokkan, jangan panas-panasan.”
“Nah, Saudara-saudara, waktu belakangan ini saya dapat bukti, bahwa memang benar sangkaan saya itu, bahwa jenderal-jenderal yang dimasukkan semua ke Lubang Buaya tidak ada satu orang pun yang kemaluannya dipotong. Saya dapat buktinya darimana? Visum repertum daripada team dokter-dokter yang menerima jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal yang dimasukkan ke dalam sumur Lubang Buaya itu.”
“Visum repertum oleh dokter dituliskannya pro justitia. Bahwa sumpah pro justitia tidak boleh bohong, tidak boleh menambah, tidak boleh mengurangi. Apa kenyataan itu, harus dimasukkan dalam visum repertum itu harus jadi pegangan, sebab ini satu kenyataan, bukan khayalan.”
***

Lim Joey Thay dan empat anggota tim forensik lainnya yang memeriksa mayat Jenderal Ahmad Yani sama sekali tak menemukan tanda-tanda kanibalisme seperti yang diberitakan media massa yang telah dikuasai militer dan Soeharto. Begitu juga dengan mayat enam korban lainnya.
Pada tubuh Ahmad Yani, misalnya, tim dokter menemukan delapan luka tembak dari arah depan dan dua luka tembak dari arah belakang. Juga ditemukan dua luka tembak yang tembus di bagian perut dan sebuah luka tembak yang tembus di bagian punggung. Matanya masih utuh walau sudah kempes, begitu juga dengan kemaluannya, masih ada pada tempatnya walau sudah membusuk.
Mayat Ahmad Yani diidentifikasi oleh ajudannya, Mayor CPM Soedarto, dan dokter pribadinya, Kolonel CDM Abdullah Hassan. Tanda di tubuh Jenderal Ahmad Yani, berupa parut pada punggung tangan kiri dan pakaian yang dikenakannya serta kelebihan gigi berbentuk kerucut pada garis pertengahan rahang atas diantara gigi-gigi seri pertama, juga masih dapat dikenali.
Dokumen visum et repertum ketujuh Pahlawan Revolusi ini ditulis dalam format yang sama. Di pojok kanan atas halaman depan terdapat tulisan “Departmen Angkatan Darat, Direktortat Kesehatan, Rumah Sakit Pusat, Pro Justicia”.
Sementara di pojok kiri atas halaman depan tertulis “Salinan dari salinan.”
Bagian kepala laporan bertuliskan “Visum et Repertum” diikuti nomor laporan pada baris bawah yang dimulai dari H.103 (Letjen Ahmad Yani) hingga H.109 (Lettu P. Tendean).
Bagian awal dokumen ini dimulai dengan penjelasan mengenai dasar hukum pembentukan tim dokter untuk mengotopsi mayat ketujuh perwira Angkatan Darat. Disebutkan bahwa tim tersebut dibentuk berdasarkan perintah Panglima Kostrad selau Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban kepada Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat di Jakarta, tanggal 4 Oktober. Selanjutnya Kepala RSP-AD meneruskan perintah itu kepada kelima ahli forensik tadi, termasuk Lim Joey Thay.
Berikutnya adalah bagian yang menjelaskan waktu dan tempat visum. Tertulis pada bagian ini: “maka kami, pada tanggal empat Oktober tahun seribu sembilan ratus enam pulu limam mulai jam setengah lima sore sampai tanggal lima Oktober tahun seribu sembilan ratus enam puluh lima jam setengah satu pagi, di Kamar Seksi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, telah melakukan pemeriksaan luar atas jenazah yang menurut surat perintah tersebut di atas adalah jenazah dari pada…” diikuti bagian yang menjelaskan jatidiri mayat dimulai dari nama, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, bangsa, agama, pangkat, dan terakhir jabatan.
Setiap dokumen visum et repertum itu juga menjelaskan bahwa mayat yang diperiksa adalah “korban tembakan dan/atau penganiayaan pada tanggal satu Oktober tahun seribu sembilan ratus enam pulu lima pada peristiwa apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”
Mayat-mayat ini diidentifikasi oleh orang-orang yang mengenal mereka, serta disebutkan apa saja tanda-tanda tubuh atau tanda-tanda lain yang melakat di mayat yang menjadi ciri utama mayat.
Selesai dengan bagian pengantar ini, barulah tim dokter membeberkan hasil pemeriksaan luar yang mereka lakukan, dan menutupnya dengan kesimpulan dan pernyataan bahwa hasil pemeriksaan itu dituliskan dengan mengingat sumpah jabatan.
Bagian paling akhir dari dokumen ini mengenai autentifikasi keaslian dokumen. Karena dokumen yang kami peroleh ini merupakan “salinan dari salinan” maka ada dua penanda autentifikasi dalam bagian dokumen ini.
Pengesahan pertama bertuliskan “disalin sesuai aslinya” dan ditandatangani oleh “Yang menyalin” yakni Kapten CKU Hamzil Rusli Bc. Hk. (Nrp. 303840) selaku panitera. Dan pengesahan kedua bertuliskan “disalin sesuai dengan salinan” dan ditandatangani oleh “panitera dalam perkara ex LKU” Letnan Udara Satu Soedarjo Bc. Hk. (Nrp. 473726). Tidak ditemukan petunjuk waktu kapan dokumen ini disalin dan disalin ulang.
***

Saat mengunjungi dr. Lim Joey Thay di paviliun RS St. Carolus bulan Juni tahun lalu, saya tak menangkap guratan emosi di wajahnya. Ia tampak begitu tenang. Ia mengikuti kami yang mengabadikan gambarnya. Sesekali istrinya datang untuk membenarkan sarung dr. Lim Joey Thay. Atau memberikan minum. Kami juga sempat bertemu dengan dokter yang menangani dr. Lim Joey Thay. Kepada dokter muda ini dr. Lim Joey Thay mencoba menjelaskan keadaannya. Sepintas tidak ada yang mengkhawatirkan. Ia hanya butuh istirahat setelah kelelahan dan terjatuh.
Tetapi Dandhy bercerita kepada saya pengalamannya saat mewawancarai dr. Lim Joey Thay dua tahun lalu. Beberapa kali dr. Lim Joey Thay menitikkan airmata saat berbicara dengan terpatah-patah tentang kebohongan yang disebarkan mengenai kondisi mayat ketujuh Pahlawan Revolusi.
Beberapa hari lalu, Dandhy kembali menulis pesan di inbox Facebook saya. Dia barusan mengunjungi dr. Lim Joey Thay. Kali ini bersama Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Djoko Utomo. Pihak Arsip Nasional kelihatannya ingin memastikan keaslian dokumen visum et repertum itu.
Kepala ANRI merasa perlu bertemu langsung dengan dr. Lim Joey Thay, satu dari dua anggota tim otopsi Pahlawan Revolusi yang tersisa. Dr. Djadja, murid dr. Lim Joey Thay ikut menemani gurunya dalam pertemuan itu.
Menurut Dandhy dalam pesan singkatnya, konsisi terakhir dr. Lim Joey Thay “benar-benar sudah sulit bicara.” []















Johny
July 26, 2009
Congratulations on a very thorough piece of reporting.
Hopefully the years of living dangerously are now just history, and
the future will continue to improve.
aminah
August 5, 2009
ko……………..ngga ada video nya sich…………………………………………….
Djaka Rubijanto
October 20, 2009
Ketika peristiwa G30S ( 1 Oktober) meletus, saya masih di Jayapura, Irian Jaya. Kemudian datang dari Jakarta, Sekretaris KOTI, Brigjen Sutjipto, SH
Beliau memberikan ceramah umum di depan civitas academica Universitas Tjendrawasih, khusus menjelaskan perihal prolog dan epilog dari peristiwa tersebut. Beliau mengungkapkan pula perihal “kekejaman Gerwani terhadap Jendral A. Yani dkk di Halim Perdana Kusuma”, sama dengan yg diungkapkan di atas. Terus terang kami yang mendengarnya menjadi bergidik.
Maka bila ternyata ada fakta lain yang tidak seperti penggambaran diatas, saya mendukung pengungkapannya untuk mencari kebenaran sejarah. Terimakasih.
Pendukung pembangunan Indonesia
December 29, 2009
bagaimanapun juga,peristiwa G30S-PKI merupakan awal sejarah dari pembangunan Indonesia,..dengan bgitu pak harto berkuasa dan Indonesia mampu mandiri sendiri dan pembangunan nasional menjadi lebih baik…Hidup Pak Harto!!!Hidup SBY!!!
pembenci orde baru
January 11, 2010
bukan awal sejarah pembangunan, tapi awal drama panjang yg menorehkan getah untuk orde penerusnya….
semua yg terjadi di orde baru adalah sebuah pembohongan publik….SEMUA, tidak terkecuali….
sepertinya kita makmur, tapi jumlah hutang semakin menggunung…
sepertinya serba murah, tapi subsidi telah memperosokkan masyarakat dalam kemanjaan…ujung2nya ke arah hutang juga…
“Dukung apapun gerakan untuk membuka tabir kepalsuan fakta…”
eka
March 31, 2011
mungkin aneh ya mas…biarpun banyak orang selalu bilang ORDE BARU itu luar biasa jelek!! sumber kehancuran, tapi koq..saya selalu rindu sama kondisi orde baru, padahal saya ga mendapatkan apa-apa dari Orde baru. Kecuali rasa aman, dan bisa jajan banyak dengan 1000 rupiah, he..he..maklum wktu itu sy msih SD.
Bangsa Kita Bukan Bangsa Tempe
May 29, 2011
BUKA MATA ANDA BUNG(EKA)!!!!!!!!!!!!!
INDONESIA JAMAN SUKARNO JAUH LEBIH MAKMUR!!!!!!
BUNG KARNO BANYAK MEMBANGUN INDUSTRI, CONTOH: KRAKATAU STEEL. PT. PUSRI.
SIAPA YANG BILANG ZAMAN BUNG KARNO HIDUP SUSAH!!!!?????
mahasiswa indonesia
March 30, 2011
pembangunan nasional yg menjadi baik bagaimaina??? klu anda bisa buat kesimpulan begitu dimana kemajuan nya bung,,ngk lo lihat negara indonesia ini subur dengan korupsi,,rakyat miskin dimana2,,,coba anda terjun langsung ketempat kami rakyat miskin,anda pasti jijik dengan kehidupan kami krn anda hidup mewah,,,
eka
March 31, 2011
korupsi sepertinya memang sudah menjadi budaya. Terus siapa yang bisa kita salahkan?? paling gampang ya…Orde Baru…simpel kan…tap[i jika kita mau sedikit..saja berpikir lebih jauh, ternyata budaya korupsi sudah ada jauh sebelum orde baru ada.
INDONESIA MERDEKA
May 29, 2011
Bung Eka, semoga hati anda dibukakan oleh Allah SWT. Agar cepat mengetahui sejarah yang benar dan tidak mengikuti hawa nafsu hanya karena 1000 rupiah.
Amiin.
janna.s
October 1, 2011
bung eka, sepertinya anda korban dari propaganda ORBA, dimana sisi amannya ORBA?.
aman ndasmu itu ?, penculikan, penghilangan orang2, teror terhadap orang yang kritik memperjuangkan nasibnya, itukah yg loe sebut aman?.
preet soeharta preet beye, prettt orba….
Jonathan aw
January 18, 2010
Semoga jendral-jendral diterima di sisi tuhan
rifdah
January 26, 2010
hi………….. ngeri nya sadja melihat korban itoe
may
January 29, 2010
ungkap fakta sejarah yang sebenarnya…..
Murid SMA
February 3, 2010
Revisi semua buku sejarah… sampai kapan mau membohongi anak2 SD dengan imajinasi kanibalisme…
But through whatever
Semoga para jenderal,, para tim otopsi,, serta siapapun yang pernah berjuang untuk RI,, diterima di sisi Tuhan YME… Amin…
penyimak
February 10, 2010
stelah era orde baru berkuasa orang2 idealis udah musnah dikalahkan akan ketamakan ingin kekuasaan.. harta… dan tahta.. sekarang beginilah jadinya negeri ini, korupsi bukan tabu berkat didikan orde baru
hendra
February 17, 2010
wah..ini baru ilmu yang baru.
mas..bisa nggak foto2 pahlawan revolusi yang baru diangkat dari lubang buayanya diatas di gede-in..dan diperbaiki mutunya?..soalnya foto diatas agak nggak jelas?..
Yudi Bandung
May 13, 2010
Thanks to Allah SWT
Terima Kasih untuk semua Pihak-pihak yang bersimpati & berempati untuk mencari pembuktian sebuah kebenaran…
Mungkin sekarang pelaku sejarah & pembuat kebodohan massal tersebut telah terkubur di Bumi…
Tapi kebusukan apapun yang ditutup-tutupi pada akhirnya akan terbongkar dengan sendirinya..
Salut saya buat penulis yang berhasil mengungkap fakta
TEX
May 14, 2010
Mau pendukung orde baru mau bukan, yang pasti cuman 1, setiap penguasa punya sisi gelap dibelahan dunia manapun, Amerika dengan gencida suku Sioux sehingga sistematika pengkerdilan dan pengurangan polpulasi suku Indian serta penghilangan kekuatan militer negara negara di dunia. Inggris dengan kolonialisnya, Belanda dengan pembantaian penduduk Indonesia dengan sistem rodi dan genocida di muara angke, Australia apa lagi.
Kejelasan sejarah tidak boleh sepotong sepotong harus ada berita dari dua sisi dan bukti otentik. Kini kita memiliki 2 versi, versi orde baru dan versi sipil, tinggal membuktikan mana yg benar dan apa bukti otentiknya.
Kalau saya lihat disini baru berdasarkan salinan dari surat otopsi utama, dan untuk langkah awal bisa di periksa sejarah surat salinan tersebut dari material kertas, tinta, dan jenis mesin tik yg digunakan.
Ada juga yg dilupakan, pembantaian simpatisan PKI itu sangat akurat, dari mana TNI dalam waktu singkat dapat melakukan pengakapan secara sistematis, sedangkan kerja intelejen tidak cukup dalam waktu 2 -3 tahun untuk sebuah operasi besar besaran, maka pasti ada bantuan intelejen dari pihak – pihaK tertentu ini adalah sumber yang harus d ungkap.
Masih ingat kita di perdebatkan dengan SUPERSEMAR yang konon katanya surat tugas utama hilang entah kemana maka yang ada hanya berupa salinan yg isinya berbeda dengan surat utama. Bila benar seperti itu maka keaslian surat salinan otopsi pun patut di pertanyakan dan mesti dikaji dengan extra hati hati, karena banyak yang bermain demi kepentingan masing – masing pada waktu itu. Oleh karena itu pengujian materi sangat diperlukan.
Saatnya Indonesia cerdas dan tidak mudah termakan hasutan dan tipuan, gunakan pikiran terbuka, berimbang, netral dan yg paling utama melakukan tes terhadap barang bukti agar berita tersebut menjadi valid dan dapat dipertanggung jawabkan sejelas jelasnya
hary
May 15, 2010
Umur saya sekarang 32 tahun tapi walalupun begitu saya termasuk pengidola dari Jenderal A Yani, berita tentang beliau saya ingin ketahui, saya sangat ingin mendapatkan foto ataupun video tentang beliau, terima kasih
Achmad Allam
May 19, 2010
Fakta sejarah seputar G 30 S PKI memang masih membingungkan bagi generasi saat ini. Yang jelas informasi yang diperoleh masih menganggap Soeharto berperan besar dalam membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik dibanding Soekarno. Benarkah!
mahasiswa indonesia
March 30, 2011
yang benar soekarno…kebusukan soeharto telah terbongkar. apakah anda dh lihat sejarah
INDONESIA MERDEKA
May 29, 2011
benar, dari milist2 luar negeri yang saya baca, penyebab turunnya Alm. Presiden Sukarno adalah Suharto.
Kita mesti melihat dampak akibat suharto naik seperti banyak tambang indonesia dimiliki asing 100% seperti freeport,newmont,
sebelumnya zaman sukarno tambang itu belum ada.
Netral
June 21, 2010
Kalo pki yang memenangkan revolusi ini……apa keadaan semakin baik? apa tidak seperti korut…..dimana agama akan diberangus…..semua milik negara……pentolan pki akan ongkang ongkang kaki menikmati harta negara secara misterius….demontrasi akan dihadapi denga tank spt di cina….meskipun ndak sepenuhnya benar….ya mungkin ndak akan jauh seperti itu…….kominis dimana mana sama….ok
cinta tanah air
June 21, 2010
bukan masalah sapa memenangkan sapa, ini tentang suatu kebenaran yg perlu diungkap, history not hisstory (cerita dia),
Kita generasi muda perlu pengungkapan ini secepatnya, karena byk dari kita juga keturunan dari pihak yg telah direnggut nyawanya demi ambisi pribadi, sudah banyak darah,luka juga lara yg tercurah,pengungkapan ini sangat perlu agar kebenaran dapat kembali ditegakkan sekaligus mendepak pihak-pihak yg terus menjajah, menghisap kekayaan bumi indonesia tercinta ini dgn cara terselubung.
Itulah satu2nya cara membasmi korupsi yg bagai kanker sekarang ini, keluarkan kankernya baru diobati agar tidak menjalar !!Ungkap kebenarannya, luruskan sejarah & tumbuhkan lagi nasionalisme generasi muda..
FAUZAN SUBKHI
June 23, 2010
Tragedy pulau Jawa, ini lah gambaran buruk perebutan kekuasaan di Pulau Jawa sejak Ken Arok membunuh tunggul amtung dan menggempur kediri lalu berdiri singasari, bunuh membunuh antar saudara berdirinya majapahit, demak, pajang dan mataram selau bersimbah darah.
ROWEN
July 23, 2010
dari opini/pemberiataan/cerita diatas, saya coba ambil kesimpulan seolah- olah orang-orang zaman soekarno(orang rata rata jadi pahlawan nasional semua) telah dibohongi sama soeharto di th 1966 sangat mustahil rasanya. dan yang ada 2 peristiwa pemberontakan PKI, Penumpasan,
srigala tw
August 26, 2010
BUKTI KEMENANGAN ORDE-BARU ADALAH KEMENANGAN KAUM KAPITALIS-IMPERIALIS.. UU Penanaman Modal Asing no. 1 tahun 1967 adalah ‘HADIAH” pemerintah
pusat kepada Gangster Dunia KAPITALISME-IMPERIALISME AMERIKA SERIKAT
karena telah BERSENGKONGKOL / MENDUKUNG SKENARIO G 30 S (PKI =KAMBING
HITAM) / KUDETA / MEMBUNUH / PENGHANCURAN PEMERINTAHAN SUKARNO +
AJARAN2NYA DAN PARA PENDUKUNG2NYA dari rakyat biasa hingga PEJABAT SIPIL
MAUPUN MILITER.
huangz
September 28, 2010
Apa bukti PKI yg melakukan ny???
tolong jelaskan smua
tidak pernah ada pelaku yg d sidang maupun d selidiki smua langsung d hukum mati tanpa ada ke jelasan.
JADUL
October 1, 2010
Semua itu berpulang pada kejujuran masing-masing dari kalian wahai para pelaku sejarah gerakan satu oktober, benar atau tidak,cepat atau lambat ALLAH SWT akan mengungkap apa yang sebenarnya yang terjadi waktu itu bagi kita semua generasi penerus karena bangsa ini harus selalu belajar dari sejarah untuk selalu berinstropeksi diri dengan terus menelusuri jejak dan bukti sejarah sepanjang masa sampai pada akhirnya kejanggalan2 yang ada dlm peristiwa itu terungkap dg sendirinya oleh ALLAH SWT, Perlu diketahui salah satu yang berhubungan dengan itu adalah “profil Jend. A. Yani sbg perwira cerdas kesayangan Bung karno dengan prestasi tinggi yang konon menurut kasak kusuk di lingkungan protokoler kepresidenan RI waktu itu, Oleh Bung Karno kelak pak Yani dijadikan salah satu kandidat Capres masa depan” namun sejarah membuktikan lain,ternyata Soeharto satu2nya perwira teras TNI AD yang selamat kemudian menjadi presiden secara sistematis dan pada akhirnya nasib Bung Karno sendiri diisolasi fisik layaknya seperti seorang tahanan setelah lengser…..Mengapa demikian?!!!! …..bagi para pelaku sejarah yang membohongi kita sebelum kalian menghadapi sakratul maut… jujurlah dan katakan apa yang terjadi sebenarnya waktu itu supaya kita kelak “mengelola negara ini” tidak salah langkah
chigi28
October 3, 2010
Lim Joe Thay diajak ngomong aja ngga bisa, koq masih dipercaya untuk membeberkan sejarah? apa dikira ceracauan orang yang sakit mental bisa memutihkan sejarah dan menafikan dosa penganut komunis di Indonesia…
yang saya tahu dari sumber yang resmi dan dibeberkan oleh orang yang sehat dan korban (dalam hal ini TNI AD) PKI bersama seluruh ormasnya itu biadab ngga ketulungan,
1000 nyawa komunis-pun belum sanggup untuk menukar nyawa 1 jenderal pancasilais
teguhtimur
October 3, 2010
materi paling penting dari tulisan di atas adalah hasil visum et repertum ketujuh jenazah. ketika melakukan visum itu, dr. liem dan empat dokter lainnya dalam keadaan sehat bugar.
hadiah
May 30, 2011
Kita memang lupa yng membunuh 7 general kita itu bukan komunis/sukarnois, tapi tentara2 dibawah komandannya Untung,teman dekatnya pak Harto. Hanya lucunya orang2 kiri, komunis, sukarnois ditempelkan disitu sebagai otak pembunuh general2 kita itu. Lebih tidak masuk akal lagi, orang 2 komunis menyerahkan lehernya tanpa ada perlawanan sedikitpun. Oleh karena itu dlm hal ini kehebatan pak Harto dan intelegennya yang canggih itu. Perintah ketuanya Aidit, kejadian itu adalah intern angkatan darat, dan anggauta2nya disuruh diam saja. Banggakah kita menghancurkan mereka2 itu ( padahal komunis/sukarnois membentuk RI dng besar pengorbannanya. ) ? Dimana kebanyakan mereka adalah anti imperialis/ kapitalis.
doncakra
October 28, 2011
kenapa demikian???karena Lim Joe Thay merupakan salah satu dokter yang memeriksa para korban.dimana beliau tahu banyak mengenai keadaan korban dan detailnya luka2,apakah sesuai dengan publisitas ketika itu atau tidak..sebab apakah anda tau bahwa dengan berita2 yang salah mengenai korban,maka di Indonesia saat itu terjadi pembantaian besar2an..Lim Joe Thay dalam hal ini tidaklah memutihkan saudara,beliau hanya meluruskan..apa yang seharusnya benar dan apa yang seharusnya salah..satu lagi catatan untuk anda, apabila anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai apapun suatu peristiwa janganlah mendengar hanya dari satu sumber saja…begitulah saudara.
valentino
October 3, 2010
fakta kebenaran pasti ada..tp apakah kebenaran bs terungkap…?
krn kebenaran berdasarkan fakta dibumi indonesia tdk bs “hidup”,,,disaat ada yg tau kebenaran…baru berniat aja jika tercium oleh yg berkepentingan langsung aja di culik & disekap….APA KATA DUNIA…
tp bgmnpun jg saya ttp dukung pengungkapan sebuah kebenaran..GOODLUCK INDONESIA…!!!!
agus setyobudi
November 17, 2010
Bener kata orang bahwa”(Pelaku)Politik itu kejam”
Demi jabatan mereka bisa tega membunuh saudaranya yg tak berdoda dan memutar balikkan Fakta.
Trima kasih mas atas pencerahannya.
Truslah berkarya demi Bangsa kita tercinta.
Sukses sll mas,Amiiiiiin.
agus setyobudi
November 17, 2010
THANK’s,,,,,,!
Wahyu
December 8, 2010
Usaha pengungkapan fakta yang sebenar-benarnya harus terus dilakukan…!!! namun peristiwa G30S yang dilakukan oleh pki atau siapapun tetap itu melanggar hak hidup dan merupakan kebiadaban yang tak termaafkan juga merupakan pembunuhan brutal terlepas dari caranya.. yang jelas peristiwa itu jangan sampai terlupakan apalagi dilupakan dan dihapuskan yang akan menumbuhkan kembali faham-faham komunisme… jadi WASPADALAH.. WASPADALAH..!!!
Julian
March 14, 2011
Untuk dokumen yang ditampilkan hanya visum Jenderal Ahmad Yani saja Kang Teguh? Mungkin boleh ditampilkan untuk yang 6 lagi?
Terima kasih.
eka
March 31, 2011
sejarah Indonesia sepertinya memang sejarah kekerasan. Dari Singasari, Majapahit, Mataram,orde lama, orde baru, bahkan reformasi.
Aneh di negeri yang katanya ramah tamah ternyata budaya kekerasan begitu subur. Dinegara yang katanya religius ternyata hujat menghujat jadi hal biasa.
DIANA SASA
April 13, 2011
Reportase yang panjang,berisi dan perlu dibaca. Thx.
Rojo Gandul
April 14, 2011
itu namanya kutukan ROJO GANDUL ….
dan sejarah akan tetap berulang…makanya jangan sampai gak belajar sejarah.
mulai zaman dulu kala, memang di indonesia ini dalam hal kekuasaan….manusia-manusianya mempunyai sifat menelikung, memberontak dan menduduki posisi kuasa dengan cara-cara yang tidak seharusnya…..lihat aja sejarahnya kerajaan-kerajaan tempo dulu.
mahasiswi jakarta
April 16, 2011
apa benar ini adalah pembodohan sejarah ?
tapi saya sebagai bangsa indonesia menunggu fakta yag sebenarnya..
karna saya tidak rela jika sejarah yang sebenarnya harus di putar balikan fakta dan kebenarannya
hadiah
April 19, 2011
Memang ada pembodohan sejarah, setelah orde baru dng Gen Suharto sebagai pemimpin kita.
Pengertian pembodohan adalah kita secara disengaja oleh penguasa bhw apapun yang telah diperjuangkan oleh kaum kiri/komunis/sukarnois semua dianggap salah semua.Dan tulisan sejarah dihilangkan, atau harus dilarang. Tidak hanya itu saja, jiwa raga dan femikirannya harus kita habisin. Tapi kita lupa bhw sejarah perjuangan untuk membentuk republik indonesia ini, mereka2 itu sudah tercatat dlm sejarah indonesia. Lebih dari itu di archief2 belanda atau amerika juga sudah tercatat semua.Kita tidak bisa ungkirin itu semua. Seperti genoside pada thn 65/66 juga sudah dicatat di archief internasional.Kesimpulannya , kita sebagai komponen orde baru seharusnya harus malu untuk merubah tulisan/kejadian2/sejarah yang sudah ada sebelum orde baru terbentuk.kita dibentuk sebagai bangsa yang gampang memanipulasie sejarah.
Novian
May 1, 2011
bila memang seperti itu, maka biarlah. namun orang2 Indonesia tidak akan sampai hati berbuat kanibalisme itu, kecuali dalam keadaan terancam. apalagi ramai-ramai menyiksa gini, nggak mungkin ada yang tega melakukannya. aku tahu karena aku juga orang Indonesia. rezim Suharto sudah tumbang. tidak perlu takut lagi untuk berpendapat. jadi kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan dari pemerintahan sebelumnya. tujuan berikutnya : menumbangkan para koruptor.
rangga
May 23, 2011
podo ngomong opo to iki…mbok uwis..lha orang pikun kok dtanyain…hidup pak harto!!!! GO TO HELL PKI dan antek2nya
ARIK
May 28, 2011
Mari kita semua merenung dan mengingat semua jasa pahlawan – pahlawan kita, semua orang sekarang di sibukkan dengan fanatisme membabi buta mengapa kita tidak mengenang semua pahlawan2 kita??????
susah majunya negara ini karena begitu gampangnya kita melupakan sejarah bangsa ini, seperti salah satu pahlawan idola saya I.R Soekarno pernah berpidato : “jas merah”…..
jangan sekali – kali melupakan sejarah.
pernahkah semua anggota dewan kita berkunjung ke keluarga pahlawan2 kita???
mereka sibuk study banding ke negara2 lain
sungguh mengherankan.
kepada bapak Teguh Timur saya ucapkan terima kasih karena berbagi info yang mengingatkan orang pada sejarah dan pahlawan2 nasional kita.
kalo boleh saya sarankan kepada bapak , Bagaimana kalau mengulas tentang jendral soedirman terutama tentang sejarah perjuangan beliau yang terus terang infonya sangat sulit saya dapatkan.
terima kasih
Robert
August 18, 2011
Mas Teguh yg saya Hormati terimakasih atas penulisan dan empati anda terhadap Sejarah bangsa indonesia, saya menilai anda cukup berani mengunkap sejarah hitam negeri ini, tetap semangat ya Mas semoga semakin banyak fakta sejarah yang bisa anda unkap. G30 S PKI adalah secuil cerita kelam dari pengambil-alihan kekuasaan di negeri ini dan di rancang sangat rapi dan sangat rahasia, semoga Allah tetap melindungi serta membimbing perjuangan anda dan teman-teman, karena anda harus menyusun puzzle 60 thn sejarah indonesia yang sebagian besar adalah teka teki yang tidak mudah untuk di unkap
merdeka
August 21, 2011
G30 S PKI adalah saksi bisu dari aksi-aksi pejabat negeri kita yang gagap dengan kekuasaan seperti para peajabat koruptor yang merupakan bahaya laten negara kita.
Buat para pahlawan yang meninggal dari korban G 30 S pki semoga diterima disisinya…aminnn
argya
August 29, 2011
gerakan 30 s memang sangat kejam dan serakah
bimaSakti85
September 2, 2011
JASMERAH… Jangan sekali-kali melupakan sejarah
sejarah versi yg mana ?
amita
September 5, 2011
kalau seseorang sudah jelas dibunuh bagai ayam, yang goblok dan tolol adalah mempersoalkan bagian apa yang setelah dibunuh lalu diapakan bagian tubuhnya, ……
agus
September 23, 2011
Astaghfifullah …. kalian yang cemooh pemerintah orde baru pasti kalian bukan orang Indonesia yang ber-Pancasila, saya tidak yakin kalian tidak beragama . Sejarah dimanapun pasti meminta korban baik harta maupun nyawa. Saat anda bisa menulis di sini pasti anda pernah merasakan jaman orde baru, kalaupun Pak Harto punya cacat pribadi pasti dia juga memiliki kelebihan …. kalian merasa manusia atau bukan. Apakah saat kalian nanti mati.. kalian mau selalu dibicarakan hanya kejelekan kalian saja.. sadarlah dan do’akanlah Pak Harto diterima oleh Allah SWT…. Amin
janna.s
October 1, 2011
aku malah menyangsikan keislamannya soeharto, karena dia sering melakukan ritual sesajen, bukannya itu dosa??, jadi untuk apa dia di doakan??
hadiah
November 19, 2011
Beliau betul2 islam, lebih dari itu beliau memakai kendaraan islam dan bergandengan tangan dng big brother ( kapitalis,imperialis ) menghancurkan orang2 kiri/komunis/sukarnois se akar2nya. Hebat kan ? Sampai sekarang ini.
anak tk belajar ngomong
October 1, 2011
Saya ikut prihatin
hasrah atih
October 5, 2011
kenapa ya, film G.30.S/PKI, tidak pernah lagi ditayangkan di TV????… Padahal itu dapat mengingatkan kita pada sejarah bangsa kita…… supaya generasi muda bangsa lebih dapat menghargai sejarah dan pahlawan bangsa kita…..
hadiahnederland
October 6, 2011
Karena film tsb sama sekali berbeda dng kenyataan.
Toh kita achirnya tahun sendiri siapa yang pegang scenario.
Sayangnya kita harus dipaksa untuk melihatnya,agar kita tahu bengisnya komunis,yang kemudian kita berhak untuk mengulitinya. Film sebabgai mesin propaganda.
pak guru
November 15, 2011
waduh..waduh saya sebagai pengajar anak2 sangat khawatir sekali kalau generasi kita sampai tidak tahu akan sejarah bangsa dan perjuangan dengan segala susah payahnya. indikasi dari itu semua sudah terlihat di jaman sekarang ini.
marilah kita sadar diri, pondasi untuk membentuk suatu bangsa yang kuat adalah pendidikan moral yang kokoh dan juga pandidikan akhlak mulia.
kalau itu semua sudah menjadi karakter bangsa saya yakin bangsa kita akan sangat makmur aman dan tentram. semoga jayalah Indonesiaku.
John Lennon
January 24, 2012
Kelahiran bung Karno adalah karunia tak terkira bagi bangsa Indonesia, kelahiran Soeharto adalah azab tak terkira bagi bangsa Indonesia, semoga ke depan kita sbg bangsa semakin kuat, makin baik dan jaya, Amin.
tedy lutfi
January 25, 2012
saya tidak menyalahkan siapapun yang menjadi pemimpin di negara ini. termasuk peristiwa tahun 1965 yang semua itu terjadi karena ada gesekan-gesekan politik. dalam arti kata siapa pun yang kuat ialah yang berkuasa. hal ini pun tampak pada zaman orde baru. orang-orang yang ketika itu menentang kebijakan Suharto langsung disikat atau di penjara. dan saya akui pada masa suharto memimpin memang kondisi rakyat stabil termasuk perekonomian. dan jika dibandingkan dengan situasi dan kondisi saat ini, jauh dari harapan kita sebagai rakyat indonesia dan bisa diakatakan orde baru lebih baik dari zaman sekarang. namun bila kita mencermati lagi, suharto yang memimpin selama tiga puluh dua tahun baru bisa membuat indonesia ini maju dan merasakan kesetabilan. bayangkan sekarang, masa kepemimpinan seorang presiden yang hanya di beri jatah paling lama sepuluh tahun. dan adalam jangka waktu itu, apa yang bisa ia lakukan. sementara kalau masa kepemimpinannya habis otomatis ada kebijakan baru yang merubah dari kebijakan lama, sehingga dengan adanya kebijakan-kebijakan itulah yang membuat negara ini tak akan bisa maju. boro-boro mau menghukum korupsi, orang pejabat sendiri masih ada yang melkuakan tindakan korupsi. jadi sekali lagi kita harus kritis dengan keadaan yang tiba. hidup indonesia!