Kali Ini Tak Ada Wanita Berbikini yang Menonton Shalat Idul Fitri

Posted on October 3, 2008

3



TAK seperti tahun lalu, kali ini tak ada wanita berbikini yang menonton shalat Idul  Fitri. Tahun lalu  shalat Idul Fitri digelar di kawasan pantai Magic Island. Tahun ini shalat Idul Fitri dilaksanakan di Manoa Park, persis di kaki bukit Manoa. 

1 Oktober 2008/1 Syawal 1429H. Ratusan umat Islam memadati lokasi shalat, sebuah pelataran parkir di bangunan utama di Manoa Park, sejak pagi hari. Karpet dan kain tebal dibentangkan sebagai alas duduk jemaah. Beberapa meja  disusun memanjang di taman. Donat dan minuman untuk sarapan seusai shalat telah disiapkan. Begitu juga bounce house tempat anak-anak bermain sudah mulai ditiup.

Takbir bergema bersahut-sahutan. Sebelum shalat dimulai, nazir masjid kembali mengingatkan agar jemaah membayar zakat fitrah. Sebuah kotak karton berwarna hijau disiapkan di salah satu meja.

“Idul Fitri adalah saat kita memperbaharui kontrak yang kita buat dengan Allah SWT,” kata Imam Muhammad Abdullah yang seperti tahun lalu, juga menjadi khatib dalam shalat Idul Fitri kali ini.

Pria kelahiran Palestina yang kini menetap di Brisbane, Australia, itu sudah beberapa tahun terakhir mengunjungi Honolulu setiap bulan Ramadhan hingga beberapa hari di bulan Syawal. Ia menjadi khatib dalam setiap kesempatan di satu-satunya masjid di kota ini, mulai dari shalat Jumat, khutbah usai shalat Isya, juga memimpin tadarus Al Quran.

“Mari jadikan Idul Fitri sebagai hari untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama, dengan orangtua, dengan anak, kaum kerabat dan tetangga, jauh maupun dekat,” katanya lagi.   

Lalu dia mengutip salah satu sunah Rasul (atau ayat Al Quran?) yang artinya kira-kira begini: 

“Dan melayani Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berbuat baik pada orangtua dan kaum kerabat, juga anak yatim, orang-orang yang membutuhkan bantuan, tetangga jauh maupun dekat, teman seperjalanan, juga musafir. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang angkuh lagi sombong.”

Di penutup bagian pertama khutbahnya, Ustad Abdullah mengingatkan bahwa Islam melarang kekerasan dan terorisme. “Apakah yang dilakukan secara individual atau orang perorang, organisasi atau negara.”

Sambungnya, “nyawa manusia sangat mulia. Dan Allah menyatakan bahwa siapapun yang membunuh seorang manusia, dia seakan telah membunuh seluruh kemanusian (humanity). Dan yang menyelematkan hidup seorang manusia seakan menyelamatkan seluruh kemanusiaan.”

Bagian kedua khutbahnya dimulai dengan mengingatkan agar semua jamaah menjaga shalat wajib lima waktu. “Karena hal itu adalah hal pertama yang akan diperhitungkan di hari pembalasan.”

Islam, sebut dia lagi, mengajarkan manusia menjalani kehidupan yang suci. Karenanya hindari minuman beralkohol, narkoba, merokok, berjudi dan semua kegiatan yang merugikan. “Kegiatan seperti ini merusak hati, mengacaukan pikiran, merusak badan, dan bisa menghancurkan keluarga dan masyarakat, serta sudah barang tentu tidak disukai Allah.”

Bagian kedua khutbah ditutup Ustad Muhammad Abdullah dengan mengingatkan agar suami dan istri saling menjaga kehormatan diri dan keluarga.

Usai shalat, semua jamaah berkumpul di taman, saling bermaaf-maafan. Juga jepret-jepretan.

Kalimat “Ied mubarak” terdengar dimana-mana. Jemaah juga menikmati donat dan jus jeruk yang disediakan volunteer. Anak-anak kecil mulai bermain di taman dan dua bounce houses yang disediakan untuk mereka. 

Setelah puas berbagai cerita dengan sesama masyarakat Indonesia, saya dan teman-teman kembali ke Hale Manoa. Kembali menenggelamkan diri dengan berbagai tugas, reading dan reaction papers.

Lagi, satu Ramadhan telah dilalui.

Advertisement
Posted in: CATATAN, HAWAI'I