dr. Arif yang Ikut Mengotopsi Mayat Tujuh Pahlawan Revolusi 1965

INI sudah bulan September. Beberapa hari lagi saya ingin menuliskan hasil visum et repertum enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yang tewas dinihari 1 Oktober 1965. 

Jelas ini bukan barang baru. Beberapa tahun lalu, Benedict Anderson telah menggunakan hasil visum et repertum ini sebagai rujukan dalam artikelnya di jurnal Indonesia Vol. 43, (Apr., 1987), pp. 109-134, How Did the Generals Die?   

Saya mendapatkan copy visum et repertum itu dari Dandhy DL, jurnalis RCTI. Tahun lalu, dia juga menurunkan liputan mengenai dr. Arif dan visum et repertum ketujuh pahlawan revolusi korban, meminjam istilah Bung Karno, intrik internal Angkatan Darat dan petualangan petinggi PKI yang keblinger, serta konspirasi nekolim.

Tetapi sebelum menuliskan hasil visum et repertum itu, dalam kesempatan ini saya ingin menampilkan beberapa foto dr. Arif Budianto. Dia adalah satu dari lima dokter yang diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto selaku Pangkopkamtib untuk mengotopsi jenazah tujuh pahlawan revolusi itu.

Selain dr. Arif yang bernama asli Lim Joe Thay, empat dokter lain yang tergabung dalam tim forensik itu adalah dr. Brigjen Roebiono Kertopati, perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat; dr. Kolonel Frans Pattiasina, perwira kesehatan RSP Angkatan Darat; dr. Sutomo Tjokronegoro, ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK UI; dan dr. Liau Yan Siang, lektor dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman FK UI.

Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Namun dari hasil otopsi yang mereka lakukan sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang digosipkan oleh media massa yang dikuasai Angkatan Darat ketika itu.

Gosip mengenai pemotongan alat kelamin –bahkan ada gosip yang menyebutkan ada anggota Gerwani yang setelah memotong alat kelamin salah seorang korban, lantas memakannya– telah membangkitkan amarah di akar rumput.

Gosip-gosip ini, menurut Ben Anderson dalam artikelnya yang lain (saya sedang lupa judulnya) sengaja disebarkan oleh pihak militer. Dan ia bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar. Selanjutnya, pembantaian besar-besaran terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang dituduh menjadi anggota PKI atau memiliki relasi dengan PKI, terjadi di mana-mana. 

Catatan tidak resmi menyebutkan setidaknya 2 juta orang tewas dalam pembantaian massal yang terjadi dalam beberapa tahun itu.

Bulan Juni yang lalu, dr. Arif sempat dirawat di RS St. Carolus. Ketika menerima kabar itu dari salah seorang kerabat dr. Arif, saya dan Dandhy menyempatkan diri menjenguknya. Di RS. St. Carolus kami sama-sama mengabadikan dr. Arif. Bedanya, Dandhy menggunakan video kamera merek Panasonic, sementara saya menggunakan kamera saku digital merek Cannon.

Tadinya, informasi yang kami terima menyebutkan bahwa dr. Arif terkena serangan struk. Setelah kami bertemu dengan beliau di paviliun St. Carolus, dan berbicara dengan istrinya, Ny. Arif, barulah kami ketahui bahwa dr. Arif dirawat karena terjatuh saat hendak naik ke kursi rodanya.

Berita tentang dr. Arif dirawat di rumah sakit sudah di-upload di blog ini bulan Juni lalu.

Kumpulan tulisan mengenai peristiwa berdarah 1 Oktober itu, atau yang berkaitan dengannya, dapat dilihat di Malam Jahanam, Sukarno Corner, juga Soeharto Corner

Keterangan foto:

1. dr. Arif. Kini usianya 82 tahun.
2. Ny. Arif dan dr. Arif. 
3. Dandhy sedang mengambil gambar. Saya juga.
4. Pintu masuk pengunjung.
5. Beberapa saat sebelum kami pulang, dokter yang merawat dr. Arif tiba untuk mengecek perkembangan kesehatannya.

More pictures? Let me know. Send your comments.

6 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Membongkar Misteri Mayat Tujuh Korban G30S « timOEr
  2. iqbal febry ramadhan
    Oct 06, 2008 @ 00:57:11

    saya walaupun masih kelas 1 smp,saya jkagum sama anda……..saya juga tahu dr arif dari dr djahja waktu itu dia di TV one,saya kira dr arif masih muda, ternyata………sudah tua.

    Reply

  3. iqbal febry ramadhan
    Oct 06, 2008 @ 01:02:57

    MAAF2,saya kira itu dr arif?

    Reply

  4. Dimdim komara
    Apr 15, 2009 @ 14:45:36

    saya sebagai anak bangsa sangat berterima kasih kepada Dr.Arif yang telah membantu mengotopsi para pahlawan kami..saya mendoakan semoga amal dan kebaikan dibalas dengn pahala yang setimpal.

    Reply

  5. desinta
    Nov 05, 2009 @ 01:39:50

    kakek saya dulunya saksi hidup g 30 s pki dan gestok,, dulu saya kira betapa kejamnya PKI yang membunuh para petinggi indonesia, namun setelah mendengar kesaksian kakek saya, saya baru tahu bahwa pembalasan yang dilakukan militer pemerintah kala itu jauh jauh jauh lebih kejam, sampai PKI rasanya terdengar mulia.
    rakyat tak bersalah dibantai, bahkan kata-kata Pak Suharto “bersihkan PKI hingga ke akar-akarnya” diterjemahkan dengan membunuh bayi-bayi tak berdosa…
    sungguh masa-masa yang mencekam.

    Reply

    • hadiahnederland
      Nov 13, 2009 @ 23:04:49

      beste desinta, andaikan saya boleh menceriterakan kejadian yang mengecamkan itu, tahun 65/66 adalah tahun hitam untuk bangsa Ind. Dng terbunuhnya jendral2 kita ( yang mengerjakan adalah tentara2 cakrabirawa dng letkol untung sebagai komandannya.) Tapi pembalasan yang kita lakukan kepada orang2 PKI lebih dahsyat, lebih hebat dan lebih tidak berperikemanusiaan. Kita seperti binatang buas, membunuh mereka2 yang tidak berdosa. Mereka yang sudah menyerah, tanpa perlawanan, kita giring ke penjara dan kalau malam kita ambilin (bon) untuk kita habisin nyawanya. Padahal saat itu, kita di brainwash untuk membunuh/menghabisin orang2 tsb adalah jihad. Pengertian ini sekarang yang agak saya ragukan,kalau mereka tidak kita bunuh, nantinya kita yang dibunuh. Jihad adalah perang membela agama, dan ber hadap2an. Tapi kala itu mereka kita tangkapin, mereka menyerah tidak mengerti apa2, toh kita sunamikan.Keluarganya kita jahuin,Kita harus bersih lingkungan kalau masih mau dianggap penduduk Ind. Hebat toh ! Ceritera2 itu lebih banyak lagi yang belum terungkapkan yang intinya kalau istilah sekarang genocide. Kesuseccesan cia/amerika mengalahkan komunis, tanpa satu tentara amerika yang terbunuh,dan tak ada satu mesiu yang terletup dari big brother. Lain dng amerika memerangi vietnam.Banyak korban amerika yang berjatuhan, banyak biaya untuk perang toh. Inilah kehebatan Bapak Suharto sebagai pemimpin,sebagai presiden RI yang kedua. Dan saya adalah salah satu pengagumnya, walaupun tangan bapak berlumuran darah.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>