APAKAH Habib Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), menantang Gus Dur melakukan sumpah pocong untuk membuktikan siapa yang benar diantara mereka: Habib Rizieq yang meminta agar Ahmadiyah dibubarkan, atau Gus Dur yang membela Ahmadiyah.

Berita ini juga dimuat di www.myrmnews.com.

Cerita tentang Habib Rizieq menantang sumpah pocong berkembang kemarin siang (Selasa, 10/6) setelah Habib Rizieq bertemu dengan beberapa habib dan ulama pendukungnya di ruang tahanan Mapolda Metro Jaya.

Dalam pertemuan itu, Habib Rizieq antara lain menyampaikan keputusannya mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sudah ditandatanganinya. Dia juga memprotes penahanan atas dirinya yang dinilai tidak berdasar, dan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya yang dinilai mengada-ada. Hal-hal di atas disampaikan Habib Rizieq secara tertulis-tangan dan diserahkan kepada para penjenguknya.

Hal lain yang dikatakan Habib Rizieq adalah keinginannya mengajak Gus Dur ber-mubahalah. Di satu sisi Gus Dur bersama istri dan anak-anaknya, dan di sisi lain Habib Rizieq bersama istri dan anak-anaknya.

Nah, kata mubahalah inilah yang diartikan oleh sebagian orang, termasuk beberapa tamu yang mengunjunginya, sebagai ajakan sumpah pocong. Dalam pembicaraan sehari-hari di tengah masyarakat, kata ini memang kerap diartikan sebagai sumpah pocong.

Benarkah mubahalah sama dengan sumpah pocong?

Mubahalah, dalam beberapa literatur diartikan sebagai ujian kebenaran melalui doa. Ia merupakan satu dari kaedah hukum yang disebut dalam Quran. Kaedah lain adalah qisas atau hukuman balasan sama, ta’zir, atau budi bicara hakim mengikut dua prinsip universal hukuman, diat atau bayaran ganti-rugi, li’an atau sumpah laknat, dan kaffarah atau penebusan dosa.

Salah satu ayat dalam Al Quran yang menyebut soal mubahalah ini adalah ayat 61 Surat Al Imran, yang berbunyi, ”Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu, maka katakanlah: “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita ber-mubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Kata mubahalah dalam ayat ini lebih tepat bila diartikan menguji kebenaran dan berharap petunjuk dari Allah SWT atas persoalan-persoalan pelik yang tak mudah dipecahkan. Termasuk, dalam ayat itu, berkaitan dengan Nabi Isa AS.

Entah mengapa, menurut penstudi Islam Muhammad Rusmadi, di kalangan masyarakat Islam Jawa Timur, kata mubahalah diartikan sebagai sumpah pocong. Padahal, kata pemimpin redaksi Tabloid Haji yang juga pimpinan Majelis Taklim dan Dzikir Pengantin Sakaratul Maut itu, minimal kata mubahalah dapat diartikan dengan ”perang doa.”

Dalam mubahalah, pihak-pihak yang berbeda pendapat, bertemu di satu tempat dan saling memanjatkan doa kepada Allah agar ”menimpakan laknat kepada salah satu dari dua pihak yang berdusta.”

Sementara dalam praktik mubahalah yang dikembangkan sementara kalangan masyarakat Islam di Jawa, pihak-pihak yang berbeda pendapat dikafani, umumnya di dalam masjid dan disaksikan jamaah, lantas bersumpah bahwa mereka tidak berdusta.

”Itu mungkin pengaruh dari keyakinan yang lebih dahulu ada dan berkembang di kalangan masyarakat lokal,” kata Rusmadi kepada myRMnews, Rabu malam (11/6).

Demikianlah, Habib Rizieq tak menyampaikan ajakan sumpah pocong kepada Gus Dur. Dia hanya mengajak Gus Dur ber-mubahalah mengenai status Ahmadiyah. Adalah pemaknaan secara awam bahwa mubahalah sama dengan sumpah pocong, yang kemudian melahirkan cerita tentang Habib Rizieq menantang Gus Dur sumpah pocong.

Wallahualam bi sawab.

About these ads