Tags

, , , ,

KEMATIAN itu begitu jelas. Tak terbantahkan. Tubuh Mayor Alfredo Reinado terbujur kaku. Beberapa menit lalu nyawanya melayang. Sebuah peluru—mungkin dua—menembus batok kepalanya lewat mata sebelah kiri.

Sulit membayangkan kematiannya itu akibat tembakan serabutan pasukan pengawal Presiden Jose Ramos Horta.

Tangan kirinya terkulai, sementara tangan kanannya yang mengenakan gelang berwarna perak memegang dada.

Tubuhnya masih mengenakan baju loreng. Enam magazine senjata otomatis masih berada di kantong rompi hijau yang dipakai melapis baju lorengnya. Juga sebuah pulpen di salah satu kantong magazine itu.

Tas pinggang berwarna hitam pun masih melilit di pinggangnya. Tak jauh dari tubuhnya, tergeletak sebuah teropong militer. Sementara sebuah tas hijau tergeletak tak jauh dari kepalanya.

Darah tumpah membasahi tanah di bawah kepala pemimpin kelompok Petisioner—kelompok tentara Timor Leste yang memilih desersi Mei 2006 lalu.

Tulisan ini juga dimuat di myRMnews.

Foto yang diambil beberapa saat setelah Reinado ditembak mati ini saya peroleh dari seorang teman Timor Leste.

Mengapa Reinado menyerang rumah Horta? Begitu pertanyaan yang berputar di kepala kebanyakan orang Timor Leste. Bila dipertajam sedikit, maka pertanyaan itu akan menjadi, mengapa Reinado menyerang tokoh Timor Leste yang dipandang moderat dan bersikap “agak” lunak terhadap dirinya dan pasukan yang dipimpinnya?

Bukankah Horta yang beberapa waktu lalu meminta agar pasukan Australia—yang hadir di Timor Leste membawa bendera PBB—menghentikan pengejaran terhadap Reinado? Bukankah Horta yang percaya bahwa jalan dialog untuk menyeselesaikan sengketa antara kelompok Petisioner dan pemerintah masih dapat dilakukan?

Siapa yang memanfaatkan Reinado? Bila yang memanfaatkannya adalah pihak asing, negara mana? Australia-kah, yang dalam beberapa tahun terakhir berseteru dengan Timor Leste soal pengeboran minyak di Celah Timor? Indonesia-kah, yang lama menduduki Timor Leste dan mungkin masih penasaran? Amerika Serikat-kah? Atau faksi lain di dalam negeri yang sedang bertikai dengan sesama mereka? Kalau iya, siapa? Alkatiri-kah? Xanana Gusmao-kah?

Bukankah Gusmao juga diserang di saat yang hampir bersamaan dengan penyerangan di rumah Horta?

“Banyak orang yang tak percaya Reinado menyerang Horta. Karena dibandingkan tokoh-tokoh lain, Horta bersikap lunak terhadap Reinado,” kata seorang mahasiswa Timor Leste di University of Hawaii.

Ia membandingkan sikap Horta itu dengan sikap Perdana Menteri Xanana Gusmao. Beberapa waktu lalu Xanana yang dalam kabinet sebelumnya adalah presiden memang sempat menyatakan bahwa Alfredo Reinado dan pasukannya bukanlah ancaman yang serius bagi pemerintahan Timor Leste. Tetapi sekitar dua minggu sebelum itu, Xanana dan Alfredo sempat adu mulut lewat media. Sampai akhirnya Alfredo mengatakan bahwa kerusuhan Mei 2006 disebabkan oleh kebijakan Xanana.

Begitu juga dengan Mari Bim Amude Alkatiri, pimpinan oposisi Fretelin yang pada pemerintahan sebelumnya menduduki kursi perdana menteri. Adalah Alkatiri yang memecat ratusan anggota Falintil-Forças de Defesa de Timor Leste (F-FDTL), termasuk Reinado dan kelompoknya. Alkatiri juga yang menurut Reinado memerintahkan penembakan ke arah tentara yang melakukan demonstrasi April 2006—peristiwa yang menyulut kerusuhan besar di Dili dua tahun lalu.

Ketika pasukan Reinado tiba di depan rumah Ramos Horta, Senin pagi waktu Dili, sang presiden sedang tak berada di sana. Seperti biasa, ia sedang jogging. Kontak senjata pertama antara pasukan pengawal Ramos Horta dan pasukan Alfredo Reinado terjadi. Dalam baku tembak inilah konon kabarnya Reinado tewas diterjang peluru.

Tak lama, Horta bersama pengawalnya yang lain tiba di rumah. Segera mereka terkepung tembakan pasukan Alfredo Reinado. Dan Horta pun terluka dalam tembak menembak kedua ini.

Sekali lagi, mengapa?

Kisah di balik penyerangan rumah Horta ini masih diliputi misteri.

About these ads