KABAR tentang Prabowo Subianto, mantan komandan jenderal Kopassus, mantan Pangkostrad, dan juga mantan menantu Soeharto, ingin maju dalam pemilihan presiden 2009 jelas bukan barang baru.

Kekalahan dalam konvensi Partai Golkar menjelang pilpres 2004 tampaknya tak mengubur mati keinginan Prabowo yang lulus dari Akabri tahun 1974 untuk jadi orang nomor satu di republik ini.

Hari Senin siang waktu Indonesia (28/1) di saat perhatian publik sedang tersita para proses pemakaman Soeharto di Astana Giri Bangun, Solo, para pedagang yang mangkal di depan kantor Komnas HAM di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat dikagetkan oleh kalender bergambar Prabowo dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Menurut laporan Rakyat Merdeka, kalender yang didominasi warna merah-putih itu dilempar oleh pengendara Xenia cokelat. Di antara foto Prabowo dan Sri Sultan terselip gambar burung garuda. Sementara di bagian bawah tertulis kalimat “Putra Terbaik Bangsa Indonesia”. Tak ditemukan nama organisasi atau kelompok yang mencetak kalender itu.

Spekulasi kembali merebak. Apakah ini pekerjaan tim sukses Prabowo untuk memanaskan suasana menuju pemilihan presiden? Apakah Prabowo sedang diandaikan akan bergandengan tangan dengan Sri Sultan dalam pilpres 2009?

Masih menurut Rakyat Merdeka, kubu Prabowo membantah berada di balik aksi penyebaran kalender itu. Achmad Muzani dari Institute for Policy Studies (IPS), lembaga yang didirikan Prabowo, mengatakan pihaknya juga sama sekali tidak tahu siapa yang mencetak kalender itu. Dia juga yakin, HKTI pun tidak berada di balik aksi itu, walau belakangan ini iklan layanan masyarakat HKTI yang menampilkan Prabowo kerap di putar stasiun televisi di tanah air.

Rakyat Merdeka
memperoleh informasi akurat tentang niat Prabowo (kembali) mencalonkan diri dalam pemilihan presiden nanti. Untuk maksud itu, Prabowo konon sudah menyiapkan partai politik. Tidak dijelaskan apakah Prabowo mendirikan partai politik baru, atau akan mencalonkan diri dari salah satu partai politik yang sudah ada, seperti upaya yang dilakukannya tahun 2004 lalu.

Di sela pemilihan gubernur Jakarta pertengahan tahun lalu saya juga mendengar tentang niat kuat Prabowo mengikuti pemilihan presiden tahun depan. Pihak Prabowo melalui adik kandungnya, Hasyim Djojohadikusumo, dikabarkan mendukung pencalonan salah seorang tokoh.

Langkah ini dimaksudkan sebagai test drive, paling tidak untuk menciptakan basis dukungan, sebelum mengikuti pertarungan yang sesungguhnya: pilpres 2009. Segala upaya sudah dilakukan, mulai dari penggalangan basis dukungan sampai pengerahan dana dalam jumlah besar. Bahkan, konsultan asing juga sudah dipanggil untuk membantu pencalonan sang tokoh ini.

Tetapi belakangan test drive itu berantakan. Sang tokoh mendadak mengundurkan diri di detik-detik terakhir. Kata orang dalam yang mengetahui persis pencalonan itu, si tokoh kesal karena dimintai uang Rp 100 juta–yang terbilang kecil untuk ukuran dana politik di arena pemilihan gubernur Jakarta–oleh salah seorang pentolan partai X di Jakarta.

“Mestinya dia kasih aja. Toh bukan uang dia juga. Yang penting pencalonan ini lancar dulu,” kata si orang dalam yang tampaknya ikut kesal dengan keputusan si tokoh mengundurkan diri.

Seperti dia, masih kata si orang dalam, keluarga Prabowo pun kesal. Tapi dia yakin, mengingat niat kuat Prabowo, keluarga Djojohadikusumo pasti akan menemukan jalan lain.

Baru beberapa menit lalu saya membaca e-mail tentang Penerbit Galang Press yang akan membedah buku “Prabowo Titisan Soeharto?” di Gramedia Jogjakarta, hari Sabtu, 2 Februari mendatang. Buku karya Femi Adi Soempeno itu terbit seminggu sebelum Soeharto wafat. Selain buku itu, Galang Press juga akan membedah buku “Membongkar Supersemar” karya Baskara T Wardaya.

About these ads