Sepuluh Kriteria Aliran Sesat Versi MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) curiga intelijen asing dan eks Negara Islam Indonesia (NII) ikut bermain di balik fenomena aliran sesat yang marak belakangan ini di tanah air dengan tujuan memecah belah bangsa. “Ada indikasi ke arah sana,’’ kata Sekretaris Umum MUI Ichwan Sam usai penutupan Rakernas MUI 2007, di Hotel Sari Pan Pacific, kemarin di Jakarta, seperti dikutip myRMnews. Namun Ichwan enggan membahas lebih lanjut sinyalemen yang disampaikannya itu. Menurut Ichwan, semua kemungkinan masih dibahas di tingkat internal MUI. Sedangkan tindak lanjutnya, menurut dia, bukan wewenang MUI.

“Bisa saja BIN (Badan Intelijen Negara) yang melakukan itu karena jangankan menyelidiki keterlibatan intelijen asing, daun kering jatuh saja mereka tahu,” katanya setengah berkelakar. Meski demikian, lanjut Ichwan, MUI bakal menggandeng BIN untuk mengklarifikasi temuan tersebut. “Saya nggak bisa sebut kapan tabayyunnya (klarifikasi).’’

Menurut Ichwan, dari investigasi MUI, ditemukan skenario terpola di balik penyebaran aliran se­sat tertentu. Pola-pola tersebut selalu sa­ma. “Sebagian polanya kok hampir mirip ketika terjadinya G30S pada 1965 silam. Dari pola pe­nyebaran yang sama, jangan-jangan aliran itu disusupi intelijen (asing).’’

Dia menambahkan, jika ditemukan titik te­rang, MUI nantinya pasti mengumumkan pihak asing tersebut.

Dalam Rakernas itu MUI juga menetapkan 10 kriteria aliran sesat sebagai berikut:

Pertama, mengingkari salah satu dari rukun iman dan rukun Islam.
Kedua, meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Alquran dan Assunah).
Ketiga, meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran.
Keempat, mengingkari otensitas dan kebenaran Alquran.
Kelima, menarsirkan Al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
Keenam, mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
Ketujuh, menghina, melecehkan, dan/atau merendahkan nabi dan rasul.
Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
Kesembilan, mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syar’iah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardlu tidak lima waktu, dan sebagainya.
Kesepuluh, mengafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s