Ya Ganyang Malaysia, Ya Ganyang Indonesia

Posted on October 10, 2007

32


SULIT BENAR. Tadinya saya sudah “berjanji” dalam hati tidak akan mengirim posting apapun di milis manapun. Janji ini terutama setelah saya membaca (lagi) tulisan Kang Jalal yang saya hormati, yang diposting oleh Bu Ida beberapa waktu lalu. Terima kasih Bu Ida.

Tetapi beberapa hari lalu dan kemarin, terkirim jugalah dua cerita dari masa silam, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan konteks apapun saat ini (kecuali kalau mau disambung-sambungkan).

Biasanya, dan mestinya, dalam etika permilisan ditulis kata “OOT:” atawa out of topic sebagai pembuka subject e-mail atau posting. Sehingga pembaca, anggota milis, dapat mengerti sifat dari e-mail itu, dan tak perlu repot membukanya kalau memang merasa sedang tak membutuhkan sesuatu yang OOT. Tetapi, kata beberapa aktivis permilisan di banyak milis, e-mail yang bersifat OOT kadang berguna juga.

Agaknya saya pun menerima pandangan ini, walau saya tak cukup yakin apakah OOT yang saya kirim, khususnya dua yang terakhir, ada gunanya atau tidak.

Tadinya, saya hanya ingin mengirim OOT sekali saja, atau melanggar janji saya sekali saja, yakni dengan mengirimkan OOT pertama tentang Abu Kamal, kota kecil di perbatasan Syria-Iraq yang sungguh eksotik untuk ukuran saya dan karena itu menawan hati saya sampai ke bagian paling dalam.

Saya masih ingat, kabut belum lagi pergi meninggalkan bumi ketika saya berhenti sebentar di tepi sungai Euphrates, menuruni tebingnya ekstra hati-hati, lalu jongkok dan membasuh wajah saya dengan airnya yang dingin itu. Ini adalah sungai yang menghidupi Mesopotamia sejak ribuan tahun lalu, sungai yang juga memberi kehidupan pada peradaban manusia sesudahnya.

Tetapi, karena Bu Rini bertanya mana kelanjutannya, maka saya kirim tentang Anne Frank di Bergen Belsen. Belakangan saya sadari bahwa OOT yang kedua juga bersifat OOT terhadap OOT yang pertama.

Selain di milis kita, saya juga melanggar janji di milis Mediacare. Menyambut peringatan malam jahanam 1965, saya kirim tulisan (sebenarnya mengutip saja) pernyataan Bung Karno tentang berita-berita yang menyebutkan bahwa kemaluan para jenderal disilet oleh Gerwani, yang beredar luas di awal Oktober dan disebarluaskan pertama kali oleh harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha yang memang dimiliki tentara.

Dalam tulisan itu saya juga mengutip pandangan Ben Anderson tentang mengapa dan untuk maksud apa berita-berita pemotongan alat kelamin para jenderal itu disebarkan Angkatan Darat, khususnya klik Soeharto. Saya juga mengutip sedikit tentang laporan teman dari RCTI yang mewawancarai dr. Arief, salah seorang anggota tim forensik yang memeriksa jenazah para jenderal, dan menyerahkan laporannya ke Bung Karno dan Angkatan Darat. Dr. Arief yang punya nama Tionghoa (saya sedang lupa) masih hidup dan tinggal di Salemba. Selama ini dia tiarap. Tetapi 20 tahun dia bekerja sebagai kepala forensik di RSCM, sebelah PPB UI.

Lalu, janji juga saya langgar di milis Jurnalisme, kemarin. Saya akhirnya bereaksi terhadap seruan untuk menghapuskan hukuman mati. Kalaulah saya berada di Jakarta hari ini, pastilah saya ikut bergabung dalam aksi damai yang digelar kawan-kawan Kontras bersamaan dengan kunjungan mereka ke Kejaksaan Agung. Tadi pagi saya mendapatkan SMS tentang kegiatan ini dari Jakarta.

Saya mendukung seruan menghentikan hukuman mati ini bukan baru sekarang, dan bukan karena Amrozi cs yang akan berdiri di depan regu tembak. Saya masih ingat pada suatu tengah malam, pulang kerja, di atas ranjang, istri saya bercerita tentang eksekusi mati bagi Tibo cs. Ia, wanita yang perkasa itu, bercerita sambil mengucurkan airmata… Kalaulah ada yang dapat kami lakukan untuk menghentikan hukuman mati itu…

Janji itu sudah jebol. Tetapi saya akan coba berhati-hati. Saya tak mau menyakiti. Bukan karena Idul Fitri sebentar lagi. Tetapi karena–saya baru ingat lagi sekarang–betapa saya membenci komunikasi model begini, komunikasi yang didimediasi, yang diberi jarak oleh piranti. Membenci karena dalam komunikasi model begini seringkali A jadi A aksen, dan sebagainya dan seterusnya. Yah, agak inkonsisten bila ditilik dari pekerjaan saya sebagai media-man…

Kini soal Indonesia dan Malaysia. Benar bahwa Malaysia kini bukanlah Malaysia dulu di era Bung Karno. Ketika memperingati Hari Buruh 1 Mei 1965, BK berkata:

SAUDARA-SAUDARA, kita mengatakan bahwa Malaysia adalah proyek neo-kolonialis. Aku berkata, Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis, dan aku berkata, Malaysia adalah juga suatu proyek imperialis.

Neo-kolonialis karena Inggris mengkonsolir, menjajah Malaysia itu, atau lebih tegasnya Malaya, Singapore, Brunei, Serawak, Sabah dengan cara-cara baru, dengan cara neo—neo itu artinya baru—bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu Belanda disini mengatakan bahwa Hindia adalah Hindia-Nederland, mengatakan bahwa semua pemerintahan disini, di Indonesia ini, adalah di dalam tangan negeri Belanda.

Tidak, Inggris mengatakan bahwa Malaya, Singapore, Sabah, Brunei ini, oo, untuk mereka sendiri. Pemerintahannya dalam bentuk baru. Tetapi pada hakikatnya masih Inggris yang memegang tampuk pemerintahannya, oleh karena itu dinamakan neo-kolonialisme baru, bukan kolonialisme biasa.

Hari ini konteksnya jauh berbeda. Indonesia kini juga bukan Indonesia yang disuarakan BK ketika itu.

(Saya minggu lalu menyelesaikan tugas midterm untuk POLS 600, tentang nasionalisme Orde Baru dan nasionalisme Sukarno, juga kritik atas nasionalisme seperti yang disampaikan Ben, dan pemikiran nasionalisme oleh sejarawan Yahudi Hans Kohn. Setelah kurang tidur selama berhari-hari, akhirnya selesai dalam 13 halaman, satu spasi. Sempat ada niat juga mengirimkannya ke Ibu Mira. Tapi nanti-nantilah.)

Tengah terjadi perdebatan di sebuah milis (yang saya malas menimpali, karena satu dan lain hal) mengenai wajah kapitalisme Indonesia di zaman Soeharto (yang menurut saya masih berlangsung hingga kini, bahkan dalam tingkat keparahan yang lebih tinggi).

Satu pihak mengatakan bahwa premis kapitalisme yang dilahirkan oleh individualisme dan liberalisme tidak terpenuhi. Uang dan kekuasaan berada di tangan nyaris hanya satu pihak (Cendana dan cronies). Toh Indonesia bangkrut juga. Di sisi lain, masih kata orang yang sama, bukankah terapi neo-liberalisme yang ditawarkan oleh IMF, World Bank, CGI berusaha untuk memperbaiki keadaan.

Privatisasi, liberalisasi dan seterusnya itu, masih kata dia, mestinya dipandang sebagai antitesa untuk melawan pendekatan ekonomi dan politik Soeharto yang merugikan itu.

Tetapi ada baiknya saya tak berpanjang-panjang mengurai perdebatan ini.

Tahun 2002 lalu, saya sempat mengunjungi Nunukan. Kala itu, ribuan TKI dipulangkan secara paksa dari Malaysia (terutama yang bekerja di perkebunan sawit dan karet di negara bagian Sabah). Mendengar cerita mereka, geramlah hati saya pada banyak pihak yang memeras tenaga mereka, dan pada praktiknya menjual mereka untuk kepentingan sendiri.

Mereka bukan lagi diperkosa. Tetapi di “sum kuning”. Istilah ini ditujukan pada aktifitas memperkosa seseorang (ketika itu kebetulan korbannya wanita) secara beramai-ramai.

Sum Kuning adalah kisah nyata. Ia disebutkan sebagai seorang gadis penjual telur yang jelita dari Godean, Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1970, Sum Kuning diperkosa beramai-ramai oleh anak seorang pejabat dan teman-temannya. Dia sempat disuap agar tak melaporkan pemerkosaan itu. Ketika ia mengadukan nasib sial yang diterimanya, para pelaku menyerang balik dan menuduh Sum Kuning memberi keterangan palsu. Sum Kuning yang malang itu pun dibawa ke pengadilan. Untunglah, sang hakim tak menjatuhkan hukuman pada Sum Kuning. Tahun 1978 kisah Sum Kuning diangkat ke layar lebar. Disutradarai Slamet Rahardjo Frank Rorimpandey dan dibintangi Yatty Surachman.

Ya, para TKI ini diperkosa beramai-ramai oleh pemerintah Indonesia berikut aparaturnya, pemerintah Malaysia berikut aparaturnya, PJTKI, rekanan PJTKI di Malaysia, pengusaha perkebunan di Malaysia, dan seterusnya. Ini adalah peristiwa sum kuning paling massif yang terjadi di muka bumi. Tidak di tempat gelap, tetapi di pertontonkan di atas panggung, dan kita semua bisa menyaksikannya. Gila.

Jalanan di depan dermaga Nunukan itu dipenuhi oleh TKI yang luntang lantung. Tidak tahu mau kemana. Mau pulang ke kampung halaman tak ada pekerjaan. Mau bertani, harga pupuk sudah melambung tinggi sementara harga jual gabah kering dan basah anjlok. Irigasi tak dibangun.

Kalau kembali ke rimba sawit di Sabah, ya mereka akan kembali dikerjai oleh banyak pihak sana. Pengusaha Malaysia menahan passport mereka, dan gaji mereka. Dan kalau mereka menuntut haknya, pengusaha Malaysia dengan gampang memanggil pasukan Rela dan mengatakan kepada pasukan Rela bahwa mereka adalah pekerja illegal.

Tak cukup makian mengalir dari mulut saya ketika itu untuk memperbaiki keadaan.

Tuhan, kita butuh lebih dari sekadar ganyang Malaysia. Maksud saya, jargon ganyang Malaysia pastilah tak akan cukup untuk menyelamatkan nasib mereka. Kita juga harus ganyang Indonesia!

Saya masih bisa makan di warung kaki lima di mulut dermaga. Warung ini berada agak ke bawah trotoar. Dari tempat saya duduk, yang tampak adalah ribuan pasang kaki orang-orang yang sungguh tak beruntung dalam hidupnya. Kalaulah bisa saya membagi keberuntungan saya selama ini kepada mereka…

Mereka mandi di got, sebagian tidur di rumah-rumah kosong. Ada juga yang nginap di kantor PJTKI yang berjejer di sepanjang Jalan Tien Suharto. Tak sedikit yang membawa anak-anak mereka. Ada yang katanya kehilangan anak ketika sedang terburu-buru meninggalkan Sabah. Ada yang menitipkan anak pada kerabat yang ada di sana.

Saya datang ke tempat penampungan mereka yang baru di bangun yang letaknya beberapa kilometer dari pusat Nunukan. Tak banyak yang mau tinggal di penampungan itu, karena mereka merasa lebih nyaman tinggal di pusat Nunukan yang dekat dengan kantor imigrasi.

See, mereka masih mau kembali ke Sabah.

Saya juga sempat ke Tawau, kota pelabuhan milik Malaysia di seberang sana. Dari Tawau saya pulang bersama 13 wanita muda yang semuanya mengaku terjebak bekerja sebagai pelacur di KK (Kota Kinabalu), ibukota Sabah. Seorang wanita yang saya wawancarai, dan keesokan harinya wawancara itu mengudara di Radio Ramako Jakarta, mengaku mesti melayani 10 laki-laki setiap hari.

Saya ditertawakan kawan di Jakarta, karena ketika bertanya tentang berapa laki-laki yang harus dilayani wanita itu, saya memulainya dengan kata-kata, “Maaf Mbak. Ini pertanyaan tidak sopan…”

Dan ada di antara mereka, yang paling muda dan paling bening dan karenanya paling diplototi orang di kantor polisi Nunukan itu, mengaku dulu mondok di pesantren sebelum direkrut “Sang Mami” jadi “Ayam”.

Begitulah sedikit gambaran keadaannya, mengapa saya sepakat bila kita ganyang Malaysia dan ganyang Indonesia Soeharto yang memusatkan pembangunan hanya di tangan sekelompok orang di Jawa, lalu memiskinkan daerah-daerah.

Ah… Cukuplah sampai disini e-mail saya ini.