Dok. RM.BUNG KARNO donder. Dalam 1 x 24 jam ia dua kali donder. 

Bung Karno donder mendengar kabar dan berita yang mengatakan bahwa para perwira Angkatan Darat yang menjadi korban dalam peristiwa di subuh 1 Oktober 1965 mengalami penyiksaan mahahebat sebelum nyawa mereka dihabisi. Kabar seperti ini, menurut si Bung, sengaja disebarluaskan untuk membakar emosi rakyat dan mendorong “gontok-gontokan” di kalangan rakyat yang akhirnya menjelma menjadi “sembelih-sembelihan”.

Donder pertama saat Bung Karno berbicara di depan wartawan di Istana Bogor, malam hari, 12 Desember 1965. Donder kedua, keesokan harinya, saat Bung Karno berbicara di depan gubernur se-Indonesia, di Istana Negara, 13 Desember 1965.

Kepada para wartawan, cerita Bung Karno di depan para gubernur, dia bertanya darimana media massa mendapat cerita tentang kronologi pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yang diculik kelompok Untung.

Tak ada seorang wartawan pun yang menjawab. Menteri Penerangan Achmadi, Kepala Dinas Angkatan Darat Brigjen Ibnu Subroto dan Letkol Noor Nasution yang mengawasi Antara pun tak bisa mengatakan darimana mereka mendapat kabar itu.

“Saya tidak tahu apakah gubernur-gubernur tadi malam menyetel radio atau televisi. Maka ada baiknya saya ceritakan sedikit pendonderan-pendonderan saya tadi malam. Begini, tatkala sudah terjadi Lubang Buaya, jenazah-jenazah daripada jenderal dibawa kesana dan dimasukkan ke dalam sumur. Ooh, itu wartawan-wartawan suratkabar menulis, bahwa jenderal-jenderal itu disiksa di luar perikemanuiaan. Semua, katanya, maaf. Saudari-saudari, semuanya dipotong mereka punya kemaluan.”

“Malahan belakangan juga ada di dalam surat kabar ditulis bahwa ada seorang wanita bernama Djamilah, mengatakan bahwa motongnya kemaluan itu dengan pisau silet. Bukan satu pisau silet, tetapi lebih dahulu 100 anggota Gerwani dibagi silet. Dan silet ini dipergunakan untuk mengiris-ngiris kemaluan. Demikian pula dikatakan, bahwa di antara jenderal-jenderal itu matanya dicungkil.”

“Saya pada waktu itu memakai saya punya gezond verstand, Saudara-saudara. Dan dengan memakai saya punya gezond verstand, itu saya betwiffelen, ragukan kebenaran kabar ini. Tetapi saya melihat akibat daripada pembakaran yang sedemikian ini. Akibatnya ialah, masyarakat seperti dibakar. Kebencian menyala-nyala, sehingga di kalangan rakyat menjadi gontok-gontokkan, yang kemudian malahan menjadi sembelih-sembelihan.”

“Saudara-saudara mengetahui, bahwa saya sejak mulanya berkata, jangan, jangan, jangan, jangan sembelih-sembelihan, jangan gontok-gontokkan, jangan panas-panasan.”

“Nah, Saudara-saudara, waktu belakangan ini saya dapat bukti, bahwa memang benar sangkaan saya itu, bahwa jenderal-jenderal yang dimasukkan semua ke Lubang Buaya tidak ada satu orang pun yang kemaluannya dipotong. Saya dapat buktinya darimana? Visum repertum daripada team dokter-dokter yang menerima jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal yang dimasukkan ke dalam sumur Lubang Buaya itu.”

“Visum repertum oleh dokter dituliskannya pro justitia. Bahwa sumpah pro justitia tidak boleh bohong, tidak boleh menambah, tidak boleh mengurangi. Apa kenyataan itu, harus dimasukkan dalam visum repertum itu harus jadi pegangan, sebab ini satu kenyataan, bukan khayalan. Tetapi visum repertum adalah satu kenyataan menurut apa yang didapatkan oleh dokter itu.”

****

Benedict Anderson, dalam “Indonesian Nationalism Today and in the Future” (1999) menggarisbawahi bagaimana dan dengan maksud apa berita pemotongan alat kelamin itu disebarkan.

“On 4 October 1965, Soeharto and his group received a detailed autopsy carried by military and civilian forensic experts on the bodies of the generals killed on 1 October. The report made it quite clear that the generals had been shot to death, and their corpses further damaged and being dumped down a deep well at Lubang Buaya. But on 6 October, the mass media, wholly controlled by Soeharto forces, launched a campaign to the effect that the generals had had their eyes gouged and their genitals severed by sadistic Gerwani women.”

“This lying campaign was carried out in cold blood by people who knew exactly what they were doing. If one whishes an extraordinary fictional portrait of these icy sadistic, one can do no better that read Putu Wijaya’s extraordinary novel Nyali.”

“The propaganda campaign did more than anything to create the atmosphere of hysteria across Indonesia which made it possible, in the following months, for more than half a million members of the common project to be murdered in the most horrible ways, completely outside the law, and with not a single murderer ever being brought before a court of law. One could put it bluntly this way: that the original foundation of the so-called New Order was a mountain of skeletons.”

***

Tanggal 1 Oktober waktu Jakarta yang lalu, teman di RCTI memutarkan hasil investigasi mereka mengenai visum et repertum jenazah para jenderal yang tewas di malam jahanam itu. Dandhy Dwi Laksono, jurnalis RCTI, menemui Profesor Arief Budiyanto atau Liem Joe Thay, satu dari lima anggota tim dokter yang mengotopsi jenazah para jenderal. Usianya kini 82 tahun. Ia adalah profesor pertama di Indonesia untuk bidang otopsi, dan mengabdikan dirinya selama 20 tahun sebagai kepala bidang otopsi di Universitas Indonesia/RSCM.

Selain Prof Arief, masih ada satu lagi anggot tim dokter yang masih hidup. Namanyanya Liauw Yang Siang, dan kini bermukim di Amerika. Tiga anggota tim dokter lainnya telah wafat, dan mereka adalah Brigjen dokter Roebiono Kertopati, Kolonel CPM dokter Frans Pattiasina, dan Profesor dokter Sutomo Tjokronegoro.

Saya tak menyaksikan tayangan itu. Tetapi dari posting yang disampaikan Dandhy pada sebuah milis dapat diperoleh ketegasan sekali lagi dari Prof Arief, bahwa cerita pemotongan alat kelamin (apalagi sampai menelannya) adalah bohong belaka.

“Hasil wawancara sebenarnya hanya mengonfirmasi apa yang tertera dalam dokumen visum et repertum, bahwa 6 pahlawan revolusi tewas akibat luka tembak, dan satu orang (Mayjen M.T Haryono) akibat luka tusuk. Ada sejumlah luka lebam yang diragukan apakah akibat pemukulan atau akibat jenazah dijatuhkan ke dalam sumur sedalam 12 meter.”

“Tapi sama sekali tidak ada luka sayatan (silet), bekas-bekas pencongkelan di organ mata, apalagi mutilasi pada alat vital para perwira TNI AD itu. Karena masalah komunikasi, dalam wawancara, Prof Arief didampingi dr Djaja Admadja, bekas muridnya yang kini adalah dokter forensik di RSCM (ahli DNA). dr Djaja yang lebih banyak mengurai detil, sementara Prof Arief sesekali menimpali.”

***

Begitulah, cerita tentang pemotongan alat kelamin yang membuat Bung Karno donder alias marah malam itu terus bergema hingga hari ini. Fakta-fakta lain yang memperoleh hak hidup setelah Soeharto mengundurkan diri 1998 lalu, membuat kisah ini semakin terang benderang.

About these ads