BEBERAPA hari lalu aku mengirimkan sebuah e-mail kepada beberapa kawan. Isinya sekadar meminta saran dan pendapat mereka mengenai apa yang harus aku teliti selama studiku di Hawaii sini. Setidaknya ada tiga hal yang sedang menarik perhatianku: ketegangan antara Islam dan Barat, Sukarnoisme, dan nasionalisme.

Secara pribadi aku memang berdiri tak terlalu jauh dari ketiga tema itu. Peristiwa 9/11 lima tahun silam di New York telah mengubah relasi antara Islam dan Barat, dan telah memberi kesempatan kepada kita (atau setidaknya aku) untuk mengenal dan mempelajari berbagai wajah di masing-masing kubu serta motif-motif yang menggerakkan perubahan relasi itu.

Adapun Sukarnoisme menurut hematku adalah gagasan yang sebenarnya bisa dipahami secara lebih akademis dan praksis. Universitas Bung Karno telah memulai upaya ke arah itu. Di universitas yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Sukarno (YPS) ini, setidaknya ada tiga mata kuliah yang berangkat dari sosok Sukarno, ketiganya adalah Sukarnografi, Sukarnoisme dan Sukarnologi, dan ketiganya merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap mahasiswa di kampus itu.

Sementara nasionalisme adalah tema besar yang akan tetap menarik di sebuah negara multi-nations seperti Indonesia. Pembahasannya bisa berupa relasi antara elit-elit politik terhadap berbagai isu, relasi antara negara dan apa yang oleh negara dan segelintir elitnya disebut sebagai kelompok separatis, juga relasi antara negara dan masyarakat lokal. Wacana nasionalisme selamanya memang akan up and down, bergerak kesana kemari bagai pendulum yang tak kenal lelah.

Nah, dua orang kawan memberikan masukan soal yang satu ini. Menurut yang satu ada baiknya aku fokus pada isu nasionalisme. Sementara yang lain mendorong aku agar fokus pada isu Sukarnoisme.Berikut e-mail kedua kawan itu… :)

E-mail pertama:

USULAN ni berangkat dari bayanganku atau katakanlah sebuah pengamatanku atas sosok dirimu yang kukenal. Ini penting, karena dari sanalah aku diperoleh sebuah jawaban kamu itu intim dengan topik tertentu atau topik lain lagi. Sepanjang aku bergaul dengan kamu, topik nasionalisme jauh lebih mendarah daging pada dirimu. Topik Islam-Barat memang menjadi perhatian kamu, diberi fakta empiris dengan perjalananmu ke negara konflik Afganistan dan negeri-negeri di Timur Tengah.

Tapi, feelingku mengatakan, kau memiliki jarak dengan Islam, kendatipun kita memasukkan elemen emosional bahwa kamu Muslim. Mungkin ada faktor tertentu yang tak bisa aku teropong soal perhatianmu terhadap Islam dan relasinya dengan Barat. Tapi, intonasi dan artikulasi politik yang kudengar darimu perihal Islam jauh lebih landai ketimbang perbincangan soal nasionalisme dan sejenisnya.

Terakhir, kau sering membincang Islam moderat yang diaksentuasi unsur Muhammadiyah, NU dan sebagian Islam Hudhori di Malaysia. Namun, simpulku sama: Cara kau membicarakan Islam (sebagai petunjuk kau intim dengan tema itu) tak seintensif cara kau membahas nasionalisme.

Alasan kedua, kenapa hubungan Islam-Barat kurang “menjual” untuk dipreteli dan dibahas, adalah karena sudah banyak sarjana di tanah air yang melakukannya. Entah mereka di komunitas Utan Kayu (JIL), barisan intelektual di UIN Syarif Hidayatullah dan UIN-UIN lain di daerah serta di poros-poros fundamentalis (HTI) atau bahkan di kelompok PKS. Jika, kamu memaksakan topik ini, harus ada satu hal yang lebih mengguncang untuk kau tawarkan. [Sorry aku mewajibkan kamu membukukan tesis kamu di Hawaii ini. Aku bersedia membantu editing lah…he5x].

Kita pindah ke topik Soekarnoisme. Tak bisa dibantah jika proklamator itu menyimpan banyak “permata” dalam setiap pemikiran-pemikirannya. Kau hafal marhaenisme hingga persilangan nasionalisme, agama dan komunisme. Namun, sekali lagi, topik Soekarnoisme kuperkirakan tak bakal menyita selera intelektual di dalam negeri. Aku mencatat, ada semacam “keletihan” membicarakan Soekarno. Tidak tahu jika kamu memiliki semacam “cara pandang” baru dalam menilik Soekarno yang semakin hari kian ditinggalkan ajaran-ajarannya.

Nasionalisme! Ini topik yang bakal terus gagah dalam beberapa tahun mendatang… Tak bisa disangsikan inilah topik yang memicu perubahan-perubahan di bangsa-bangsa terjajah sepanjang abad 19 hingga 20. Masa depan nasionalisme di tanah air, terus digerogoti oleh etno-nasionalisme. Aceh, Papua, Maluku selalu menghantui sebuah negara bangsa bernama Indonesia ini.

Pasca-Helsinki, 15 Agustus 2005, ada pola baru hubungan Indonesia dengan Aceh. Memang ada pernyataan bahwa Aceh akan menyimpan motif merdeka dengan mengakui NKRI. Bersamaan dengan itu, ada reintegrasi eks kombatan dan simpatisan GAM lainnya kepada NKRI. Dalam waktu bersamaan ada kepentingan korporatokrasi (dari AS yang paling besar) ikut serta dalam rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh.

Saya menduga, pasti ada yang tertinggal di benak eks-GAM itu: apakah begitu mudah mencerabut ekspresi-ekspresi etno nasionalisme yang menghunjam 30-an tahun, dan mengubahnya dengan nasionalisme Indonesia. Apakah kehadiran korporasi-korporasi di Aceh malah “MENGINDONESIAKAN” orang Aceh atau justru sebaliknya menggerus “KEINDONESIAAN” mereka?

Aku pernah membaca tesis etno nasionalisme ini dari seorang eks Hubungan Internasional Unpad. Kini, ia mengajar di UKI Jakarta. Tapi, dia mengudar etno nasionalisme yang melingkupi Pakistan dan Kanada (kasus spesifiknya aku lupa lagi…). Jadi, belum menukik ke persoalan yang menghinggapi Indonesia. Menurutku, lumayan menarik mencari jawaban apakah “NASIONALISME INDONESIA” masih bertahan di benak orang Aceh? Bagaimana pula dengan etno nasionalisme Aceh? Bagaimana pula tegangan antara keduanya terjadi di ranah Aceh yang kini menjadi “test case” penyelesaian konflik-konflik yang didorong oleh semangat separatisme, tak hanya bagi Indonesia, juga bagi regional Asean dan internasional.

Satu lagi, kukira masih sedikit yang membahas soal ini. Akan jauh lebih objektif jika orang luar Aceh yang mengudar topik ini. Tapi, di lain pihak, kamu banyak berinteraksi dengan topik ini. Topik ini sangat aktual, dan saya yakin akan ada temuan-temuan menarik dari penelitianmu nanti.

Salam manis X di Y.

E-mail kedua:

DARI daftar yang lu pampang praktisnya mengambil tema Islam, karena betul akan terpakai minimal dalam lima tahun ke depan. Tapi kalau lu mau jadi pakar yang betul-betul pakar, ambil yang Sukarno. Seperti Harry Poeze.

Nasionalisme, udah usang.

Buat gue, kalo jadi lu, yang gue tekankan yang nomor dua. Karena lu berbakat di situ. Biar label itu ada di elu.

Masuk ke sini, membawa lu juga ke pemikiran negara berkembang dan maju secara strategis, ekonomi sampai militer. Nah dari militer ini lu bisa dapat nilai lebih, apalagi kalau punya referensi tambahan tentang segi praktis alat-alat persenjataan dan gunanya buat postur pertahanan negara. Seperti maritim pakai apa, dsb. Di sini juga lu bisa belajar pemikiran untung ruginya pakai nuklir seperti yang diributin orang sekarang.

Selebihnya, kalau soal Islam-Kristen biar lu belajar sambil menjalin koneksi dengan orang-orang di sana. Di sana kan gudangnya koneksi.

Salam manis Y di X.

About these ads