Antara Saeful Badar, “Malaikat” dan Malaikat

Posted on August 15, 2007

10


MALAIKAT//Mentang-mentang punya sayap/Malaikat begitu nyinyir dan cerewet/Ia berlagak sebagai makhluk baik/Tapi juga galak dan usil/Ia meniup-niupkan wahyu/Dan maut/Ke saban penjuru//2007

SAEFUL Badar sedang jadi buah bibir. Puisi “Malaikat” di atas, karya pengelola Sanggar Sastra Tasik (SST) yang dimuat di rubrik Khazanah harian Pikiran Rakyat edisi 4 Agustus itu telah memicu protes keras kelompok Islam.

Dewan Dakwah Islamiyah Indoneisa (DDII) Jawa Barat mengecam puisi itu, yang menurut mereka jauh dari nilai estetika seni dan sastra, sekaligus tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama, khususnya Islam.

“Oleh karena itu, sajak tersebut dapat dikategorikan menghina agama, khususnya agama Islam,” tulis Wakil Ketua Umum DDII Jawa Barat, H.M. Daud Gunawan, dalam surat protes mereka.

Masih tulis Daud Gunawan, bila tidak ada maksud menghina agama Islam, tentulah sajak itu menggambarkan “kebodohan” penulis dan redaktur tentang konsep malaikat dalam agama-agama samawi, khususnya Islam.

“Jika penulisan dan pemuatan sajak tersebut dilakukan dengan sengaja untuk memancing amarah umat Islam dan menista ajaran Islam, tindakan tersebut serupa dengan apa yang dilakukan para penista Islam, seperti kasus Salman Rushdie dengan novel “Ayat-ayat Setan”, koran Jylland-Posten Denmark dengan karikatur Nabi Muhammad saw., dan kasus-kasus lainnya yang dinilai melecehkan Islam dan kaum Muslimin.”

Walau mengapresiasi permintaan maaf yang disampaikan pihak PR, namun DDII Jabar menilai kasus tidak dapat ditutup begitu saja. Mereka menuntut tindakan yang lebih jauh, termasuk mengklarifikasi sosok malaikat yang sebenarnya, sekaligus meng-counter opini yang dibangun penulis sajak lewat judul sajak “Malaikat” yang telanjur dipublikasikan.

Mereka juga menuntut agar PR mencekal Saeful Badar.

Adapun pihak PR menyampaikan permintaan maaf sehari setelah memuat puisi itu, menyusul protes yang dialamatkan kepada mereka. Dan di hari yang sama dengan pemuatan surat dari DDII itu, menyampaikan permintaan maaf, menyadari perbuatannya dan mencabut puisinya itu.

“Saya telah dibuat merenung dan kemudian menyadari bahwa saya telah melakukan suatu kekhilafan dengan membuat puisi seperti itu,” tulis Saeful. “Ini adalah kekhilafan dan kesalahan besar yang saya lakukan sepanjang karier kepenyairan saya.”

Sikap Saeful ini juga dikecam oleh sementara kalangan. Permintaan maafnya yang dinilai terlalu pagi dinilai justru merusak dunia sastra, dan menjadi preseden buruk. Bukan tidak mungkin, setelah ini setiap kali ada karya sastra yang dinilai menghina agama dan diprotes keras oleh kelompok agama, si penyair dengan gampang menyampaikan permintaan maaf sebagai tanda takluk atas tekanan kelompok yang membawa-bawa nama agama.

Mestinya, hal pertama yang dilakukan Saeful menyusul protes itu adalah membedah karya sastranya, dan melakukan klarifikasi dari sisi sastra.

Tetapi yang jelas dari permintaan maafnya itu, Saeful memang telah mengibarkan bendera putih. Dia berkata tidak mau berkilah lebih lanjut atas pemahamannya terhadap malaikat.

“Apa yang telah saya tulis di puisi tersebut merupakan bentuk kedhaifan saya sebagai manusia dalam menginterpretasikan gagasan dan imajinasi tentang malaikat. Sama sekali, tak terbersit niatan untuk menghina apalagi melecehkan. Sebetulnya sebagai umat Islam, saya yakini pula bahwa malaikat itu sebagai makhluk Allah SWT yang sangat suci dan mulia. Saya tidak hendak berkilah lebih lanjut tentang hal ini, sebab kesalahan itu memang nyata telah saya lakukan. Oleh karenanya, saya merasa menyesal telah melakukan itu.”

Selesaikan kasus ini? Belum. Berbagai kelompok diskusi demokrasi dan sastra, hari Selasa lalu (14/8) di Bandung mengeluarkan pernyataan sikap menentang tekanan yang dilakukan kelompok Islam terhadap Saeful dan PR.

Para penandatangan pernyataan sikap itu antara lain adalah Komunitas Azan, Tasikmalaya; Sanggar Sastra Tasikmalaya (SST); Teater Bolon, Tasikmalaya; Komunitas Malaikat, Ciparay Institut Nalar, Jatinangor; Aliansi Jurnalis Independen, Bandung; Forum Studi Kebudayaan ITB; Masyarakat Antikekerasan; Gerbong Bawah Tanah, Bandung; dan BPK 0I, Tasikmalaya.

Menurut mereka, setiap individu berhak mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tulisan. Mereka menentang dan menyesalkan segala bentuk pemutlakan tafsir atas karya sastra oleh individu dan golongan tertentu, serta menentang dan menyesalkan segala bentuk sikap yang tidak toleran terhadap karya sastra.

“Kami juga menentang dan menyesalkan sikap dan tindakan yang cenderung membawa-bawa agama, atau menekankan pertimbangan bernada keagamaan, sebagai tameng bagi pemutlakan dan pemaksaan sikap dan pandangan individu dan golongan tertentu. Janganlah mempermain-mainkan agama demi tujuan-tujuan yang sempit, picik, dan pendek.”

Kelompok ini juga meminta agar media massa sebagai salah satu institusi sosial yang mengelola ruang ekspresi kolektif, sepatutnya dapat menjaga integritas sehingga tidak mudah dipermainkan oleh individu dan kelompok tertentu.

Dalam surat protesnya, DDII juga menyampaikan konsepsi malaikat dalam ajaran Islam. Malaikat, tulis organisasi ini, adalah satu dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah SWT yang mendapat keistimewaan tersendiri. Mereka merupakan makhluk rohani bersifat gaib, tercipta dari cahaya (nur), selalu tunduk patuh, taat, dan tak pernah ingkar kepada Allah SWT. Malaikat menghabiskan waktu siang-malam untuk mengabdi kepada Allah SWT. Mereka tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah mengerjakan apa pun atas inisiatif sendiri, selain menjalankan titah kuasa perintah Allah SWT semata. Mereka diciptakan Allah SWT dengan tugas-tugas tertentu.

DDII juga mengatakan bahwa bagi umat Islam, percaya (iman) kepada Malaikat, adalah bagian dari rukun Iman yang enam, di samping iman kepada Allah, Rasul-rasul Allah, Kitab-kitab Allah, takdir, dan hari akhir.

“Iman kepada Malaikat menjadi bagian terpenting dari tauhid (mengesakan Allah) dan membebaskan manusia dari syirik (menyekutukan Allah).”

Dengan demikian, sambung DDII, bagi umat Islam, Malaikat bukan sosok yang bisa dipermainkan atau diolok-olok, baik oleh ucapan, kalimat, maupun tindakan, oleh seorang penyair, sekalipun atas nama kebebasan berekspresi.

Posted in: CATATAN