Ini Lembah Srigala, Bukan Film Rambo

Posted on August 6, 2007

5


Lembah Srigala Irak.

FEBRUARI 2006 tentara Amerika yang sedang bertugas di Eropa, khususnya di negara-negara yang didiami banyak keturunan Turki, seperti Jerman, Perancis dan Inggris, disarankan untuk tidak menonton film “Kurtlar Vadisi Irak” alias “Lembah Srigala Irak”.

Dalam rilis yang diterima pangkalan militer Amerika di Hofenfels, sebelah timur Jerman, tentara Amerika yang sedang bertugas di Eropa juga diminta untuk tidak mendatangi kerumunan yang terlihat seperti aksi protes di bioskop-bioskop yang menayangkan film itu. Bahkan, mereka diminta untuk tidak terpancing mendiskusikan isi film itu.

“Force protection advice is to avoid theaters or movie plexes showing the film and to avoid getting into discussions about the movie with persons you don’t know,” tulis dinas militer Amerika seperti dilaporan Stars and Stripes, media massa yang diperuntukkan bagi komunitas militer Amerika Serikat.

Jurubicara dinas militer Amerika di Eropa, Bob Purtiman, masih menurut Stars and Stripes, mengatakan bahwa peringatan serupa disampaikan ke seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di seantero Eropa.

Mengapa Amerika bereaksi seperti itu? Apa yang salah dengan film thriller buatan Turki yang biaya produksinya menelan tak kurang dari $10,2 juta itu?

Bagi saya yang menonton film itu di “layar tancap” Hale Manoa, East West Center, Honolulu, Hawaii, setahun setelah ketegangan ini berlalu, tidak ada yang salah sepanjang 122 menit film itu. Seperti layaknya sebuah cerita, apapun mediumnya, film itu punya alur cerita yang bagus lagi jelas, ada tokoh antagonis, tokoh protagonis, juga tokoh abu-abu. Memadukan otak dan otot, dipenuhi adegan daer-der-dor, darah yang tumpah dan kejutan demi kejutan.

Tapi, di sisi lain, saya dapat memahami mengapa Amerika jadi begitu waswas sampai memperingatkan semua tentaranya di Eropa agar tak menonton film itu apalagi mendiskusikannya dengan orang yang tidak dikenal.

Film ini sungguh anti-Amerika. Ia bukan buatan Hollywood, serta tidak satu genre dengan film sejenis Rambo yang menceritakan kehebatan Amerika seberapapun parah keadaan medan tempur dan menggambarkan kebaikan hati tentara Amerika di banyak medan tempur. Film ini juga tidak dibanjiri stripes and stars, bendera Amerika. Namun, walau buatan Turki, hanya dua kali bendera Turki tampil di film itu—hanya satu kali lebih banyak dari penampilan bendera Amerika.

Sebaliknya, “Kurtlar Vadisi Irak” menelanjangi aksi polisional Amerika di Irak dengan merangkai beberapa kejadian nyata. Mulai dari pembantaian yang dilakukan tentara Amerika di sebuah pesta pernikahan, pelecehan yang dilakukan oleh sekelompok tentara Amerika di penjara Abu Ghraib, sampai penyerangan terhadap masjid yang dengan mudahnya dinyatakan sebagai markas teroris.

Film ini pun dibuka oleh sebuah kisah nyata yang direkonstruksi ulang. Tanggal 4 Juli 2003, pasukan Amerika menangkap 11 tentara Turki yang sedang bertugas di markas mereka, di kota Sulaymaniyah, di perbatasan Turki dan Irak. Peristiwa ini semakin memperuncing hubungan Amerika dan Turki yang sejak lama memang tidak begitu akur.

***

Menjelang perang di Irak enam tahun lalu saya mengunjungi Turki dan mengamati dari dekat keterlibatan Turki dalam perang yang digagas sepihak oleh Amerika dan sekutu utamanya, Inggris, itu. Amerika menawarkan bantuan ekonomi dalam bentuk pinjaman lunak dan hibah yang cukup menggiurkan pemerintahan Abdullah Gul—yang beberapa hari kemudian digantikan oleh temannya Recep Tayyep Erdogan. Abdullah Gul berkali-kali berusaha meyakinkan parlemen Turki untuk mau menerima bantuan Amerika itu demi memperbaiki kondisi ekonomi yang memang sedang tak menguntungkan.

Saat itu tingkat inflasi di Turki sedang menggila. Pecahan uang kertas terbesar yang dimiliki Turki senilai 20 juta Lira Turki. Baru setelah bantuan ekonomi itu diterima, akhir 2003 Turki bisa melakukan sneering dan memotong enam nol di belakang setiap pecahan mata uang mereka.

Bila sebelumnya, di tahun 2003, untuk buang air kecil di WC umum saya harus merogoh 1 juta Lira Turki, maka di tahun 2005 ketika kembali mengunjungi negeri itu, saya hanya menghabiskan 1 Lira Turki Baru di WC umum terminal utama bus di Ankara.

Menjalin hubungan baik dengan Amerika adalah sebuah dilema bagi Turki. Hubungan baik itu tidak hanya berguna untuk mendongkrak ekonomi Turki yang sedang carut marut, namun juga memberikan kesan betapa Turki bersahabat dengan Barat; sebuah kesan yang dibutuhkan di tengah keinginan mereka menjadi anggota Uni Eropa.

Namun di sisi lain, Turki paham bahwa there is no free lunch. Mereka tahu bahwa menjalin hubungan baik dengan Amerika sama artinya dengan mengundang maling masuk ke rumah. Itu sebabnya, di samping sikap pemerintah Turki yang menyambut Amerika dengan tangan terbuka, ada juga kelompok masyarakat, termasuk di tubuh militer, yang menyambut kehadiran Amerika itu dengan kebencian membara. Bagi kelompok militer Turki ini, Amerika bukan hanya merongrong dari pintu belakang di kawasan timur yang dikuasai orang-orang Kurdi, namun juga menggedor-gedor pintu utama rumah mereka dengan memberikan bantuan penuh terhadap Yunani yang menjadi seteru abadi Turki di Cyprus.

Dalam perjalanan darat dari Damaskus, Syria, menuju Ankara, saya bermalam di Antakya dan keesokan harinya melintasi pangkalan militer Turki di kota Iskandereun di pinggir laut Mediterania yang bagaikan hamparan permadani hijau. Pangkalan itu dihijaukan oleh begitu banyak kendaraan lapis baja Amerika yang mendarat untuk memperkuat pasukan Amerika di Inclirik, di utara Antakya dekat Adana. Untuk selanjutnya pasukan Amerika ini bergerak menuju Diyarbakir, kota yang berada di mulut wilayah utara Irak yang dikuasai kaum Kurdi.

Bagi Amerika, Turki, terutama wilayah timur yang dikuasai oleh orang-orang Kurdi adalah titik yang paling tepat untuk mengontrol Timur Tengah. Dari titik ini Amerika dapat mengendalikan Irak dan Syria, juga Iran, dan “sedikit” wilayah yang masih dipengaruhi Rusia, yakni Armenia dan Georgia. Untuk menguasai kawasan ini, sejak beberapa dekade lalu Amerika memberi angin segar pada suku Kurdi. Mereka mendukung kemerdekaan yang dicita-citakan suku Kurdi, baik yang berada di wilayah Turki, Irak maupun Iran. Amerika juga melatih tentara khusus suku Kurdi yang disebut Peshmerge.

Dalam perang Iran-Irak di era 1980-an, Amerika tidak hanya memberikan senjata untuk Irak dan Saddam Hussein, namun juga untuk suku Kurdi. Dan belakangan setelah skandal Iran-Contra terbuka, Amerika diketahui juga memberikan bantuan senjata untuk Iran.

***

Kembali ke film yang dibintangi oleh Necati Sasmaz, Billy Zane, Ghassan Massoud, Gary Busey dan Diego Serrano itu.

Semua peristiwa kunci dalam film ini dikendalikan oleh seorang tokoh bernama Sam William Marshall yang diperankan aktor Amerika Billy Zane. Sam Marshall bagaikan penjelmaan dari kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah. Dia mengakui bahwa dirinyalah yang mengatur semua pertikaian di antara orang Arab, Kurdi dan Turki di kawasan itu, untuk kepentingan Amerika Serikat. Politisi dari ketiga bangsa itu mendapat perlindungan abadi dari Marshall, dan sebagai imbalannya mereka mengabdi untuk Marshall.

Marshall juga yang memerintahkan pembantaian terhadap keluarga Arab-Turki yang sedang menyelenggarakan pesta pernikahan pada suatu malam. Pembantaian di pesta pernikahan itu adalah reka ulang dari kejadian nyata di Mukaradeeb, kota Irak di dekat perbatasan dengan Syria pada tanggal 19 Mei 2004. Sebanyak 42 orang tewas dalam pembantaian itu, termasuk 13 anak-anak.

Untuk menjalankan semua aksinya Marshall memelihara seorang tentara sadis. Dia juga yang memerintahkan mengangkut tahanan-tahanan Arab-Turki ke penjara Abu Ghraib, dan menyerahkan mereka kepada seorang dokter Yahudi-Amerika yang mengambil organ tubuh tahanan-tahanan itu untuk selanjutnya diperdagangkan entah dimana.

Pendeknya, di film itu, Marshall adalah perwujudan paling sempurna dari semua ambisi-ambisi politik luar negeri Amerika.

Film ini juga menampilkan adegan bom bunuh diri di sebuah pasar ketika Marshall bertemu dengan pimpinan ketiga bangsa di kawasan itu. Si pelaku bom bunuh diri adalah seorang laki-laki yang hendak membalas dendam karena anaknya tewas dalam “pembantaian Mukaradeeb”.

Laki-laki ini tewas bersama beberapa tentara Amerika di dekatnya dengan tubuh terkoyak-koyak. Tetapi Marshall selamat, dan karenanya semakin menggila.

Tokoh lain dalam film ini adalah seorang ulama sepuh berpengaruh, Syeikh Abdurrahman Helis Kerkuki yang diperankan oleh Ghassan Massoud. Pemimpin kelompok tasawuf ini menentang segala aksi kekerasan yang dilakukan oleh warga untuk membalaskan dendam mereka kepada pasukan Amerika. Dia menentang bom bunuh diri. Dia juga menghentikan upaya kelompok pemuda radikal memenggal kepala seorang jurnalis berkulit putih beberapa saat sebelum pedang mengayun ke leher sang jurnalis.

Hanya Allah, kata Helis Kerkuki, yang berhak menentukan ajal seseorang. Dan aksi kekerasan seperti bom bunuh diri dan memenggal kepala itu, menurut dia, hanya akan menjadikan tudingan terhadap Islam sebagai agama yang menganjurkan jalan kekerasan terbenarkan, dan selanjutnya memperburuk citra umat Islam. Memilih jalan kekerasan, masih kata Helis Kerkuri, sama artinya dengan menyediakan diri menjadi boneka Amerika dan kelompok-kelompok yang menginginkan kehancuran dunia Islam.

Nasib Helis Kerkuri dan jemaatnya berakhir tragis. Di suatu subuh, masjid mereka yang seperti kebanyakan bangunan di kawasan itu dibangun dari tanah lempung, dihancurkan oleh pasukan Amerika Serikat. Pengungsi, jemaat tasawuf dan Helis Kerkuri tewas dalam serangan itu.

Tokoh utama di film ini, Polat Alemdar yang diperankan Necati Sasmaz, bersama tiga rekannya dari pasukan khusus Turki, tampaknya hanya sekadar menjadi pengantar cerita. Mereka berempat dan seorang wanita yang gagal menjadi pengantin baru karena laki-laki yang baru dinikahinya di siang hari tewas diterjang peluru Amerika di malam hari, bagaikan merajut berbagai kisah yang menggambarkan kepongahan Amerika di Timur Tengah.

Di akhir cerita, wanita malang itu mengikuti jejak suaminya ke alam baqa setelah tubuhnya ditembus peluru yang ditembakkan Marshall.

Adapun Marshall akhirnya tewas di tangan Alemdar dengan satu tusukan belati di jantung.

Advertisement