Musnah, Karena Tak Ada PKI Setelah G-30-S

SAYA percaya bahwa sejarah adalah cerita yang mengalir rapi dari mulut sang pemenang. Cerita yang berbunga-bunga, yang bila difilmkan segera menjadi box office, bila dibukukan menjadi best seller, bila disinetronkan menempati rating teratas. Cerita yang gemilang.

Sementara Anda yang kalah, siapapun Anda: apakah Anda korban atau Anda memang lemah dari sana, tak punya kesempatan untuk menceritakan sejarah Anda. Di sekolah-sekolah, sang pemenang lah yang akan menceritakan bagaimana jalan cerita kekalahan Anda sesuai dengan jalan cerita yang mereka inginkan. Sementara Anda, sang tertakluk, hanya dapat bertutur dari mulut ke mulut dan mewariskan kisah-kisah itu pada generasi-generasi setelah Anda.

Dan, bila ada yang tertarik dengan cerita Anda, then you will get your chance to come up with your stories. But if there is no one cares with your stories, then you will rest in peace forever. Or, will be a looser up to the hell. That’s it.

Berikut ada berita yang saya kutip dari Koran Tempo, Sabtu, 21 Juli 2007. Judulnya, Depok Musnahkan 1.247 Buku Sejarah.

KEJAKSAAN Negeri Kota Depok memusnahkan 1.247 buku sejarah kurikulum 2004, yang isinya antara lain tidak memuat tulisan G-30-S/PKI, tapi hanya menulis G-30-S, di depan kantor Kejaksaan Depok kemarin.

Pemusnahan buku sejarah dengan cara dibakar dilakukan secara simbolis oleh Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda.

Buku sejarah yang dimusnahkan itu disita dari lima sekolah menengah pertama negeri dan tiga sekolah menengah atas di Kota Depok, yakni SMPN 1 Depok sebanyak 737 buku, SMPN 11 (243 buku), SMPN 3 (152 buku), SMPN 6 (80 buku), SMPN 10 (2 buku), SMAN 5 (24 buku), SMAN 6 (6 buku), serta SMAN 3 (3 buku).

Bambang Bachtiar menjelaskan pihaknya akan terus melakukan penyisiran dan menyita buku sejarah kurikulum 2004 sampai buku tersebut tidak lagi beredar di Depok.

Menurut dia, penyitaan dan pemusnahan buku sejarah kurikulum 2004 mengacu pada Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor 019/A-JA/10/ 2007 tertanggal 5 Maret 2007 tentang penarikan buku sejarah kurikulum 2004.

Selain itu, penyitaan berdasarkan instruksi Kejaksaan Agung Nomor 003/A-JA/03/ 2007 tertanggal 3 Maret 2007 tentang tindakan penarikan buku sejarah kurikulum 2004 dan Surat Perintah Kejaksaan Agung Nomor Ins.003/A-JA/ 03/2007 tentang penarikan buku sejarah kurikulum 2004. “Kami akan terus mencari (buku sejarah) ke sekolah-sekolah di Depok,” kata Bambang seusai acara pemusnahan buku sejarah itu.

Sejarawan Asvi Warman Adam menilai pembakaran buku sejarah kurikulum 2004 di Kota Depok adalah tindakan antiperadaban. “Itu tindakan brutal dan keterlaluan, ” ujar Asvi ketika dihubungi Tempo kemarin.

Asvi, yang sejak awal tidak setuju dengan penyitaan buku sejarah, menilai tindakan pembakaran semakin mencoreng dunia pendidikan nasional. Apalagi dilakukan di awal tahun ajaran baru.

Menurut dia, sebaiknya buku itu dibiarkan saja. “Toh, memang sudah tidak dipakai lagi,” katanya. Sebab, kini sekolah menggunakan buku dengan kurikulum 2006.

Asvi menilai buku kurikulum 2004 lebih baik daripada kurikulum 2006, 1994, dan 1999. Pada 2004 dibuat kurikulum baru yang lebih bersifat nasional. “Jadi pemberontakan itu dilihat dalam perspektif nasional,” ujarnya.

Ada empat indikator penilaian yang digunakan, menurut Asvi, yakni standar kompetensi, materi, dan tolok ukur. “Pada kurikulum 2006 guru lebih bebas menyampaikan materi sejarah,” katanya.

Dia meminta larangan terhadap buku kurikulum 2004 dicabut. Dengan adanya larangan itu, kata Asvi, penerbit buku mengalami kerugian secara materi dan psikologi. “Mereka (penerbit) diperlakukan seperti terlibat narkoba.”

About these ads

4 thoughts on “Musnah, Karena Tak Ada PKI Setelah G-30-S

  1. hegemoni itu, kata gramschi barangkali, melintas batas: ya di dunia fana, ya di dunia maya. “kontrol” dan hegemoni tidak selamanya dilakukan oleh “hard power” atau kekuasaan yang nyata. “kontrol” dan hegemoni yang dilakukan oleh “soft power” kelihatannya jauh lebih “mematikan”.

    bagaimana bung timur? speak up…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s