2007: Orang Miskin Indonesia Makin Banyak
July 2, 2007 in BERITA, JALAN BARU
JUMLAH penduduk miskin dan jumlah pengangguran adalah dua indikator fundamental yang dibutuhkan untuk mengukur apakah proses pembangunan di sebuah negara berhasil, atau tidak.
Dua bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat pengangguran di Februari 2007 adalah sebesar 9,75 persen. Angka ini lebih rendah dibanding pada Februari 2006 (10,4 persen). Artinya, menurut BPS yang kini bekerja di bawah koordinasi pemerintah via Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas, telah terjadi pengurangan jumlah pengangguran di tanah air dalam satu tahun terakhir. Benarkah?
Banyak pihak, antara lain Tim Indonesia Bangkit (TIB) telah mengkritisi laporan BPS ini. Menurut TIB yang dimotori oleh sekelompok ekonom seperti Rizal Ramli, Fadhi Hasan, Hendri Saparini, dan Drajad H Wibowo, hasil penelitian BPS itu layak dicurigai, karena faktanya kehidupan masyarakat semakin sulit dan jumlah angkatan kerja menurun drastis.
Dalam waktu dekat ini, giliran perhitungan mengenai jumlah penduduk miskin yang akan diumumkan oleh BPS. Mendahului BPS, Tim Indonesia Bangkit lebih dahulu menyampaikan pandangan mereka tentang tingkat kemiskinan penduduk di Indonesia dalam satu tahun terakhir. Kesimpulannya, jumlah penduduk miskin Indonesia di tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu.
Menurut TIB mudah untuk menyimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan, terutama kalangan bawah, semakin merosot selama setahun terakhir. Lihat saja berbagai kasus gizi buruk, wabah penyakit akibat kualitas makanan dan lingkungan yang buruk, sampai kasus bunuh diri satu keluarga karena himpitan ekonomi, atau kasus anak sekolah bunuh diri karena malu akibat orang tua tak lagi mampu membayar uang sekolah. Kesemua hal ini memberikan gambaran yang jelas bahwa kualitas hidup masyarakat semakin buruk.
TIB juga menggarisbawahi beberapa hal yang mendorong peningkatan jumlah penduduk miskin itu.
Pertama, daya beli rakyat kecil terus merosot. Disebut merosot bila kenaikan pendapatan lebih rendah daripada kenaikan harga barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Salah satu indikator yang sangat gamblang untuk mengukur hal ini adalah upah riil atau upah nominal yang telah disesuaikan dengan inflasi. Ternyata, meskipun inflasi yang tercatat oleh BPS selama setahun terakhir telah cukup rendah, antara 6-7 persen, namun upah riil yang diperoleh masyarakat masih terus mengalami penurunan. Penurunan tersebut bahkan terjadi hampir di semua sektor dan kegiatan ekonomi yang tercatat dalam laporan BPS.
Antara Maret 2006 sampai Maret 2007, upah riil petani, misalnya, mengalami penurunan sekitar 0,2 persen. Pada periode yang sama, upah riil buruh bangunan, pembantu rumah tangga dan potong rambut wanita masing-masing mengalami penurunan sekitar 2 persen, 0,5 persen, dan 2,5 persen. Demikian juga dengan untuk upah riil buruh industri yang mengalami penurunan sekitar 1,2 persen selama tahun 2006.
Penurunan upah riil untuk kelompok rakyat kecil di atas semakin menunjukkan bahwa nilai tambah yang diciptakan ekonomi melalui pertumbuhan GDP sekitar 5,5 persen selama tahun 2006 hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas, yang semakin memperbesar kesenjangan (gap) antara Si Kaya dan Si Miskin. Dari fakta ini saja, sulit untuk membantah bahwa jumlah rakyat miskin akan semakin meningkat pada tahun 2007.
Kedua, penghapusan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pada tahun 2006, keluarga miskin yang dianggap layak untuk mendapatkan BLT sebanyak 19,2 juta keluarga dengan alokasi masing-masing Rp 100 ribu per bulan per keluarga. Terlepas dari kontroversi program tersebut, BLT selama ini agak sedikit membantu mengurangi beban belasan juta rakyat miskin dan bahkan jutaan di antaranya tidak lagi dikategorikan sebagai keluarga miskin akibat BLT.
Dengan dihapusnya program BLT, keluarga-keluarga yang berhasil masuk kategori tidak miskin (mendekati miskin/near poor) pada tahun 2006 praktis akan kembali masuk kategori miskin pada tahun 2007. Pencabutan BLT tanpa program pengganti yang sepadan, jelas akan menambah beban ekonomi keluarga miskin. Fakta ini lagi-lagi semakin meyakinkan bahwa angka kemiskinan akan semakin bertambah pada tahun ini.
Memang pemerintah telah mencanangkan program pengganti BLT yaitu program Bantuan Tunai Bersyarat (BTB). Namun program tersebut hingga saat ini belum dijalankan dan diperkirakan baru dimulai sekitar bulan Juli 2007. Selain itu, jumlah target program BTB tidak sebesar program BLT yaitu hanya diberikan kepada 500.000 keluarga. Itupun masih sangat terbatas pada keluarga yang memiliki ibu hamil dan anak sekolah.
Ketiga, kenaikan harga bahan kebutuhan pokok tak terkendali, sehingga inflasi yang dihadapi orang miskin relatif lebih besar. Beban ekonomi kelompok miskin semakin bertambah dengan kegagalan pemerintah menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng. Harga beras medium pada Maret 2007 telah meningkat sekitar 16 persen dibanding Maret 2006 dan harga minyak goreng pada Juni 2007 juga telah meningkat 60 persen dibanding Juni 2006.
Kenaikan harga bahan pokok ini praktis akan menurunkan daya beli masyarakat miskin, karena bobot beras dan minyak goreng dalam keranjang belanja rakyat miskin relatif lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Dari hasil Susenas 2002, bobot beras dalam keranjang belanja rakyat miskin sekitar 24 persen, sementara bobot beras yang menjadi acuan perhitungan inflasi hanya sekitar 6 persen.
Demikian juga bobot minyak goreng dalam keranjang belanja rakyat miskin sekitar 3,35 persen, sementara bobot minyak goreng yang menjadi acuan perhitungan inflasi hanya sekitar 1,3 persen. Dengan kata lain, akibat kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut, inflasi yang dihadapi kelompok miskin menjadi relatif lebih tinggi dari inflasi yang tercatat oleh BPS. Hasil studi yang dilakukan oleh ADB dan BPS juga mendukung kesimpulan tersebut yaitu inflasi yang ditanggung oleh kelompok miskin mencapai lebih dari dua kali lipat inflasi rata-rata nasional.
Keempat, pelaksanaan program Raskin (Beras Miskin) ternyata tidak efektif untuk mengurangi beban rakyat miskin. Dalam program Raskin, beras seharusnya dibagikan sebesar 20 kilogram per bulan per keluarga miskin. Akan tetapi faktanya di lapangan, dari hasil Susenas 2005, beras miskin hanya dibagikan rata-rata 5,8 per kilogram per bulan per keluarga. Di samping itu terdapat perbedaan antara harga yang ditetapkan pemerintah dengan harga yang dibayar rakyat di lapangan. Seharusnya biaya transportasi ditanggung oleh Bulog sampai Ibu Kota Kecamatan, sedangkan biaya distribusi hingga ke desa-desa akan menjadi tanggung jawab Pemda. Tetapi faktanya banyak Pemda yang tidak menyediakan anggaran untuk Raskin sehingga rakyat miskinlah yang harus menanggung biayanya. Akhirnya Raskin yang semestinya dijual seharga Rp 1,000 per kilogram, dalam kenyataannya rakyat harus membayar Rp 1,650 per kilogram.
Dengan berbagai fakta di atas, hampir dapat dipastikan bahwa angka kemiskinan 2007 yang akan diumumkan BPS dalam waktu dekat ini akan kembali meningkat dari tahun sebelumnya. Angka kemiskinan hanya akan bisa turun dengan dua kemungkinan: (1) melakukan perubahan dan rekayasa metodologi perhitungan, (2) melakukan perubahan atau ”pembersihan” sampel data, yang merupakan cara-cara yang sangat vulgar dan manipulatif, serta sangat memalukan baik secara moral maupun intelektual.
Rekayasa tersebut dapat terjadi karena pemerintah dan tim ekonomi dengan sengaja memilih kebijakan ekonomi monetaris dan neoliberal yang sangat tidak pro-rakyat dan menjadi penyebab meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.
(Diambil dari rilis Tim Indonesia Bangkit, 1 Juli 2007)
-
1
Setan Duit Gentayangan lagi… !! « Clusternic’s Weblog
Pingback on Dec 27th, 2007 at 3:07 pm
[...] lupa ato mereka yang sudah pikun. Negara yg tercinta ini termasuk negara yang melaratnya bukan main. Dah gitu masih masuk pula sebagai kandidat top scorer negara terkorup. Benar -benar ga tau [...]
Leave a Comment
-
Pages
DON'T MISS IT!
2001 UZBEKISTAN 2003 NORTH KOREA 2003 SYRIA 2005 GERMANY 2005 TURKEY 2007 HAWAI'I AMERICAN ELECTION BERITA CATATAN CHATROOM FROM THE CORNERS ISLAM MODERAT JALAN BARU KALABENDU MALAM JAHANAM ON TRIAL PRESS FREEDOM PUISI RELEASE REVIEW REVIEW ON BOOKS REVIEW ON MOVIES RUMAH KACA SOEHARTO CORNER SUKARNO CORNER TOKOH WAWANCARA YouTube!-
Love Stories
- Hidayatullah.Com Membajak “Daftar Dosa Vatikan”
- Tari Perut Kok di Padang Rumput (Bukan Tari Telanjang)
- Detik-detik Menjelang Kematian Bung Karno
- Catatan tentang Pelanggaran HAM oleh A.S.
- Masih Ada yang Percaya Barack Obama Orang Islam
- Foto-foto yang Menjawab Misteri di Ruang Operasi
- Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto
- Amrozy Cs Boleh Mati, Tetapi Mereka Masih Meninggalkan Misteri
- Hikayat Tongkat Musa
- SMS Ulang Tahun yang Kecepatan Satu Hari
- Carut Marut Krisis Global 2008
- Si Djanggo Dibawa Hujan
-
Recent Comments
On-Line Friends
- A. Supardi
- Adhie Ken Zidane
- Agung Nugroho
- Agus Mupla Santoso
- Agusti Anwar dari LA
- Amerika Kampungan
- Anggara
- Asep Manusia Biasa
- Barry
- Bayu Wicaksono
- Bisaku
- Blog Indonesia
- Catra “RangMudo”
- Dedy Ardiansyah
- Djoko Edhi S. Abdurrahman
- Ega Vedder
- Eling Handayani
- Ibu Sekjen SIF-Ind Alumni
- Iman Brotoseno
- Iman Brotoseno (2)
- Indonesian Good News
- Iwan Jakartaku
- Jarar Siahaan (BatakNews)
- Journalist’s Adventure
- Kapas Merah
- Lt. Watada
- Machmud Mubarok
- Muhammad AS Hikam
- Muhsin Labib
- Musa Kazhim
- Ninik Wafiroh
- Nirwan Syahputra
- PJV
- PJV: Politisi-Musisi
- Pramoedya Ananta Toer
- Raihan Lubis
- Ratri Istania
- Reza
- Rindu
- Rizal Icenk Gra Sumbawa Corner
- Robert Manurung (Ayo Merdeka)
- Sabbah about Palestine
- Sri Megawati
- Tuah a.k.a. Hujan
- wa3ad.org
- Yayat R Cipasang
Webs
-
Meta
Archives
- December 2008 (7)
- November 2008 (65)
- October 2008 (65)
- September 2008 (47)
- August 2008 (27)
- July 2008 (12)
- June 2008 (37)
- May 2008 (46)
- April 2008 (71)
- March 2008 (90)
- February 2008 (109)
- January 2008 (36)
- December 2007 (19)
- November 2007 (36)
- October 2007 (31)
- September 2007 (44)
- August 2007 (27)
- July 2007 (28)
- June 2007 (6)
- May 2007 (13)
- April 2007 (10)
- March 2007 (11)
- February 2007 (7)
- January 2007 (11)
- December 2006 (6)
- November 2006 (10)
- October 2006 (8)
- September 2006 (27)
- August 2006 (19)
- July 2006 (11)
- June 2006 (7)
- May 2006 (7)
- April 2006 (11)
- March 2006 (9)
- February 2006 (17)
- December 2005 (4)
- November 2005 (2)
- July 2005 (4)
- June 2005 (2)
- May 2005 (8)
- April 2005 (3)
- March 2005 (5)
- February 2005 (2)
- January 2005 (4)
- October 2004 (7)
- August 2004 (1)
- July 2004 (1)
- April 2004 (1)
- March 2004 (1)
- February 2004 (1)
- December 2003 (1)
- June 2003 (4)
- April 2003 (8)
- March 2003 (17)
- February 2003 (17)
- November 2002 (1)
- November 2001 (19)
- October 2001 (11)
- September 2001 (1)
- June 2001 (5)
- May 2001 (17)
- April 2001 (7)























July 2, 2007 at 8:25 am
aku yakin, bahwa aku masuk dlam kategori penduduk miskin
July 2, 2007 at 10:11 pm
Apalagi aku…
July 3, 2007 at 4:27 am
aku juga..
July 3, 2007 at 8:34 am
@ teguh
GM koq ngaku miskin wakakakakakak
July 3, 2007 at 10:08 am
GM ecek-ecek… Hihihi
September 23, 2007 at 11:47 pm
org kaya kok ngaku miskin seh????????
December 27, 2007 at 3:09 pm
kayaknya perlu bikin organisasi kere nasional ni
April 1, 2008 at 6:04 am
OK juga…
April 6, 2008 at 8:40 am
orang-orang miskin makin banyak apalagi saya. bubarkan barisan sbg orang miskin.
May 9, 2008 at 4:24 pm
Simple aja deh, banyak rakyat miskin karena pembagian jatah mereka tidak terpenuhi alias dikuras oleh sepihak. jadi sebenarnya negara kita negara kaya akan sumber daya alamnya, tapi sayang sumber daya manusianya memprihatinkan, ada yang memiliki skill yang bagus, ehhh…malah mengabdi di luar negeri, karena mereka tidak mendapatkan kenyaman bekerja baik penghasilan maupun secara moral……..jadi menurut saya yang utama diperbaiki adalah Pola pemerintahan atau Politik dalam negeri mesti di berendel habis…..just that …salam dari makassar
May 26, 2008 at 5:42 am
saya rasa kalo jadi orang harus yo lebih baik merasa malu bila ngaku orang miskin tapi naik mobil pribadi
July 30, 2008 at 11:16 am
Miskin tapi kalau pergi pakai pesawat?
R
July 30, 2008 at 11:20 am
Miskin itu tak cukup makan, kurang pakaian.
Tapi kalau pergi pakai pesawat apa itu miskin?
R
October 23, 2008 at 9:01 am
Waduch…….Sampai kapan kita membahas tentang kemiskinan??? Selain akibat kesalahan individu yang tidak mau keluar dari kemiskinan dan akibat struktur yang menindas,,,khan ada banyak orang pintar? yang bertitel diploma sampai profesor, banyak ahlinya tapi koq kenapa kemiskinan belum dapat teratasi juga?? kesimpulan saya banyak yang masih menjadikan kemiskinan rakyat untuk keuntungan pribadi, kelompok dan kepentingannya. jadi kemiskinan akan selalu ada karena yang pintar dan ahlinya juga terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan….!!! Salam