Islam Moderat di Asia Tenggara: Tantangan dan Peluang

Posted on December 8, 2006

10


Pascatragedi WTC September 2001, ketika Amerika Serikat (AS) menuduh gerakan Al Qaeda sebagai pelaku dan menangkapi orang-orang Islam yang diduga terkait dengan jaring Al Qaeda, posisi Islam moderat di Asia Tenggara tak luput dari tuduhan. Namun, seiring waktu berjalan, Islam moderat berhasil membuktikan diri sebagai kaum Muslim yang sangat tidak menyetujui adanya radikalisme dan terorisme.

Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, memiliki pandangan, dunia internasional perlu mengetahui kondisi Islam moderat di Asia Tenggara. Untuk itu perlu upaya komunikasi dengan dunia luar secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. “Makin banyak dan intens komunikasi maupun kontak dan dialog ormas-ormas moderat dengan internasional dan AS, itu akan makin positif,” ujarnya.

Hasyim menjadi salah satu tokoh yang mendapat tempat diundang pemerintah AS untuk memberi penjelasan tentang pemahaman masyarakat Islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Ia cukup gamblang menjelaskan peta dan struktur Islam Indonesia. AS beruntung mendapat gambaran langsung dari pemuka ormas Muslim terbesar Indonesia.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Tarmizi Taher, menambahkan bangsa Melayu di Asia Tenggara dengan kekayaan budayanya berpeluang mempraktikkan wajah Islam yang moderat dan toleran. Apalagi, budaya Arab yang ‘maskulin’ sering tidak kompatibel dengan wajah Islam yang toleran. “Islam memang lahir di Arab, dan ilmunya dikembangkan di Al-Azhar Mesir, tapi ingat Islam yang damai itu dipraktikkan di Asia Tenggara,” ujarnya.

Dari segi jumlah penganut saja, menurut Tarmizi, penduduk beragama Islam di Asia Tenggara lebih besar dibandingkan dengan Timur Tengah. “Itu sebabnya, pakar-pakar agama Islam dari Melayu dapat mengajarkan pemahaman keIslaman yang moderat dan hidup berkembang di Asia Tengara,” jelasnya.

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) sekaligus pengamat politik Islam Dr Syafii Anwar, menambahkan, ia optimistis akan masa depan Islam moderat di Asia Tenggara. Pertama, kata dia, Islam moderat mempunyai prospek yang baik dan menjanjikan. Alasannya, pada dasarnya sikap dan watak mayoritas umat Islam di seluruh dunia adalah ramah, damai, dan tidak suka kekerasan. “Mereka sadar betul akan konsep Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Penggunaan tindak-tindak kekerasan, baik dalam arti simbolik maupun yang bersifat fisik, tidak disukai mayoritas masyarakat Muslim,” ujarnya.

Kedua, kata Syafii, jika melihat dinamika yang terjadi dalam tubuh umat Islam sendiri, dapat terlihat bahwa cepat atau lambat, pemikiran kelompok-kelompok moderat akan lebih bisa dipahami. “Tapi, meski lambat, paling tidak dalam konteks globalisasi sekarang ini, emikiran-pemikiran yang mencerahkan akan mendapatkan respons yang lebih positif,” jelasnya.

Menurut Syafii, organisasi pengusung Islam moderat, seperti NU dan Muhammadiyah, yang selama ini menjadi pilar civil society, berperan sangat dominan dan sampai sekarang tetap eksis. “Bahkan, seperti yang dikatakan teman saya, Prof Dr Azyumardi Azra, kaum moderat tampak secara diskursus sangat mengemuka. Dia engistilahkannya sebagai bentuk nyata kembalinya kaum moderat,” tegasnya.

Memang, kata Syafii, masih juga terlihat adanya rasa sentimen yang cukup kuat terhadap gagasan-gagasan Islam moderat. Namun demikian, ingat dia, ternyata pemikiran-pemikiran Islam moderat juga disambut di kampus-kampus, dan terutama di kalangan kelas menengah.

“Bahwa ada kritik mendasar, cemoohan, dan sebagainya, itu sah-sah saja. Tapi, saya tetap menyaksikan bahwa dinamika intelektual kaum muda Islam dari kelompok moderat, seperti yang terlihat di media internet, tetap menang dalam sisi diskursus intelektual,” jaminnya.

Advertisement
Posted in: ISLAM MODERAT