Catatan: Tulisan-tulisan berikut diambil dari Situs Berita Rakyat Merdeka (www.rakyatmerdeka.co.id), diawali kabar kematian Susana Corry van Stenus pada hari Sabtu, 1 April 2006. Dia adalah salah seorang istri Kahar Muzakkar–seorang yang pernah dikenal sebagai salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, sebelum akhirnya “divonis” sebagai pengkhianat.

Istri Kahar Muzakkar Meninggal di Cinere Pagi Tadi
Sabtu, 01 April 2006, 10:25:25 WIB

Istri Kahar Muzakkar, Susana Corry Van Stenus, tadi pagi (Sabtu, 1/4) meninggal dunia di usia 85 tahun.

Corry yang akrab disapa Mami meninggal di kediamannya di Jalan Raya Parung Bingung, Cinere, Depok, beberapa saat usai menunaikan shalat shubuh sekitar pukul 05.00 WIB.

Selama hayatnya, Mami Corry setia mendampingi suaminya Kahar Muzakkar yang merupakan pimpinan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sulawesi Selatan.

Oleh para pengikut Kahar Muzakkar, si Mami dikenal sebagai Srikandi dari Sulawesi.

Kahar membentuk PRRI pada tahun 1950 karena ketidakpuasan kepada pemerintah pusat. Pemberontakan yang terjadi dimana-mana menyusul kesenjangan yang sangat mencolok antara pusat dengan daerah.

Tidak saja Kahar, saat itu pun meletus pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DII/TII) pimpinan SM Kartosuwiryo, di Jawa Barat.

Pemberontakan Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo berakhir dengan kematian. Kahar ditembak pasukan Siliwangi di hutan Sulawesi Selatan pada 3 Februari 1965.

Sedangkan pasukan Siliwangi menangkap Karto pada 4 Januari 1962 dan menembaknya hingga mati pada 16 Agustus 1962 di Ancol. [t]

15 Tahun Corry Dampingi Kahar di Hutan Sulawesi
Sabtu, 01 April 2006, 16:23:18 WIB

Jenazah Susana Corry van Stenus dimakamkan di TPU Parung Bingung, Depok, Jawa Barat, siang tadi (Sabtu, 1/4). Istri kedua Kahar Muzakkar itu meninggal dunia usai menunaikan shalat shubuh di kediamaannya.

Corry adalah blasteran Belanda-Klaten. Dia yang kerap dipanggil si Mami menikah dengan Kahar Muzakkar tahun 1947 di kota Klaten, Jawa Tengah. Di kota itu pula beberapa tahun sebelumnya Kahar muda yang lahir di Palopo, kota kecil di dekat Teluk Bone, Sulawesi Selatan, sempat menuntut ilmu di Madrasah Mualimin Mualimat.

Begitu menikah, dan masuk Islam, Corry memilih mengikuti kemanapun langkah Kahar Muzakkar. Tahun 1950 Kahar Muzakkar bergabung dengan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat, dan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PPRI), serta mengobarkan api pemberontakan terhdap pemerintahan. Bersama Kahar Muzakkar, Corry pun memilih masuk hutan.

Selama 15 tahun dia berjuang bersama Kahar di belantara Sulawesi. Corry memegang peranan penting selama masa gerilya itu, sebagai pemimpin Gerakan Wanita Islam (Gerwais), salah satu organisasi di bawah PRRI.

Seminggu sebelum pemberontakan PRRI berakhir, menurut kabar, Kahar Muzakkar menceraikan Corry. Dia meminta agar Corry keluar dari hutan menuju ke arah selatan. Sementara Kahar Muzakkar melanjutkan gerilya menuju tenggara.

Corry dan empat anak hasil perkawinannya dengan Kahar Muzakkar mengetahui kabar kematian Kahar dari pamflet yang disebarkan pemerintah Republik Indonesia.

Selain menyampaikan kabar kematian Kahar Muzakkar, dalam pamflet yang disebarkan dari udara itu pemerintah Republik Indonesia juga meminta agar para pengikuti Kahar meletakkan senjata dan kembali ke pangkuan republik.

Dalam wasiatnya, Corry yang oleh pengikut Kahar Muzakkar dijuluki sebagai Srikandi dari Sulawesi itu meminta agar jenazahnya digotong saat menju pemakaman. Dan begitulah, puluhan orang bergantian menggotong jenazah Corry menuju tempat peristirahatan terakhir, sekitar dua kilometer dari rumahnya.

Liang lahat Corry tertutup bersamaan dengan alunan azan yang terdengar dari masjid di dekat TPU Parung Bingung. [t]

Corry Sampaikan Surat Kahar Muzakkar untuk Sukarno
Sabtu, 01 April 2006, 18:35:39 WIB

Susana Corry Van Stenus, wanita blasteran Belanda-Klaten yang wafat di Parung Bingung, Depok, tadi pagi (Sabtu, 1/4) , memainkan peranan penting selama konflik antara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan pemerintahan Sukarno di kurun 1950-1965.

Selama kurun waktu tersebut, istri kedua Kahar Muzakkar ini ikut sang suami bergerilya di hutan-hutan Sulawesi. Dia adalah Ketua Gerakan Wanita Islam (Gerwais), sebuah organisasi di bawah PRRI.

Kahar Muzakar bukanlah sosok asing bagi pemerintahan Sukarno. Laki-laki kelahiran Palopo, sebuah kota kecil di dekat Teluk Bone, Sulawesi Selatan itu ikut mengawal kemerdekaan Republik Indonesia.

Kahar yang sejak usia muda merantau ke Pulau Jawa ikut mengawal pidato bersejarah Sukarno pada 19 September 1945 di Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (Ikada) yang kini dikenal sebagai Lapangan Banteng di seberang kompleks Departemen Keuangan.

Kahar Muzakkar juga berperan penting setelah pemerintahan Republik mundur ke Jogjakarta. Murid Panglima Besar Jenderal Sudirman ini ikut bertarung mengusir Belanda yang masuk ke Jogjakarta pada Agresi Militer Pertama (1947) dan Agresi Militer Kedua (1948). Dia juga berperan saat menghadapi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, September 1948.

Setidaknya ada dua alasan utama mengapa Kahar angkat senjata dan melawan Soekarno yang sebelumnya dia bela. Pertama, dia tidak bisa menerima perlakukan pemerintah terhadap anak buahnya yang tergabung dalam Brigade Hasanuddin. Tak semua dari mereka diterima sebagai anggota TNI, walau telah berjuang untuk republik.

Alasan kedua yang lebih fundamental adalah kecenderungan Sukarno menerima ideologi komunis.

Pada 7 Agustus 1953, saat Republik Indonesia masih berusia delapan tahun, Kahar menyatakan bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat. Dan 10 tahun kemudian dia mendeklarasikan dirinya sebagai Khalifah Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII).

Pada 1963, Kahar mengutus Corry menemui Sukarno di Jakarta. Dalam perjalanan itu, Corry yang ditemani anak bungsu mereka, Abdullah, membawa sepucuk surat dari Kahar untuk Sukarno.

Di dalam surat itu Kahar menyatakan dirinya bersedia menyerah dan kembali ke pangkuan republik dengan dua syarat. Pertama, Sukarno membubarkan PKI. Dan kedua, Soekarno menetapkan Ketuhanan sebagai asas negara.

Tetapi, Sukarno memilih tak memenuhi permintaan itu.

Corry pun kembali ke belantara Sulawesi. Dalam perjalanan pulang, dia sempat ditahan Pangdam XIV/Hasanuddin Kolonel Muhammad Jusuf di Makassar.

Hasan, putra sulung pasangan Kahar-Corry, berdiri di samping makam ibunya yang masih merah basah, siang tadi (Sabtu, 1/4).

“Ibu kami adalah wanita yang berjasa pada bangsa dan negara,” katanya.

Abdullah yang menyertai perjalanan Corry, 43 silam, juga tampak di sana. Seperti kakaknya, si anak bungsu ini pun tekun memanjatkan doa. [t]

Kahar Muzakkar Masih Hidup?
Sabtu, 01 April 2006, 20:29:49 WIB

Pemberontakan Kahar Muzakkar tumpas di tangan Operasi Kilat. Pada 3 Februari 1965, ia ditembak mati di tepi Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara.

Dalam situs resmi Pusat Sejarah TNI disebutkan bahwa sebelum memberontak, pemerintahan Bung Karno mengutus Letkol Kahar Muzakkar untuk menghadapi Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang terdiri dari bekas laskar yang ikut berperang sepanjang revolusi fisik.

Tetapi, Kahar belakangan menuntut agar KGSS dijadikan Brigade Hasanuddin di bawah pimpinannya. Tak lama, dia menyatakan bergabung dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Untuk menghentikan gerakan Kahar, pemerintah menempuh dua cara. Pertama melancarkan operasi militer, dan kedua menawarkan amnesti dan abolisi kepada anggota DI/TII yang mau menghentikan pemberontakannya.

“Sejak awal September 1961, akibat operasi-operasi militer yang dilancarkan TNI, kedudukan DI/TII semakin sulit,” tulis Pusrah TNI.

Pada 21 Oktober 1961 Kahar mengirim utusan untuk bertemu dengan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Muhammad Jusuf. Tak lama, kedua pihak yang bertikai menggelar pertemuan di Bonepute, sebelah selatan Palopo.

Juga disebutkan bahwa dalam pertemuan itu Kahar menyampaikan keikhlasan, keinsyafan dan kepatuhannya terhadap kebijaksanaan pemerintah dalam masalah penyelesaian keamanan dan penyaluran anggota DI/TII.

“Ternyata, Kahar Muzakkar mengingkari janjinya. Pertemuan itu tidak lebih dari suatu siasat untuk mencegah kehancuran DI/TII dengan taktik mengulur-ulur waktu,” demikian Pusrah TNI.

Tetapi kabar lain yang beredar beberapa tahun terakhir mengatakan, Kahar Muzakkar masih hidup. Benarkah? Wallahualam.

Adalah almarhum Muhammad Jusuf yang memegang kebenaran cerita ini. Jenderal Jusuf, bekas Panglima ABRI yang dikenal dekat dan menyayangi prajurit ini, adalah bekas ajudan Kahar di staf Komando Markas ALRI Pangkalan X Jogjakarta, di masa-masa awal kemerdekaan.

Jusuf lah yang dipasang pemerintah sebagai penguasa militer di kawasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara selama masa-masa pemberontakan Kahar Muzakkar. Untuk menangkap bekas komandannya, Jusuf menggelar Operasi Kilat.

Dalam situs resmi Pusrah TNI disebutkan bahwa Kahar Muzakkar ditembak mati Kopral II Sadeli, anggota Batalyon Kujang 330/Siliwangi, di tepi Sungai Lasalo, Sulawesi Tenggara. Hari itu, 3 Februari 1965.

Tetapi menurut cerita lain yang berkembang, saat mengetahui Kahar tertangkap, Jusuf segera menuju TKP. Lalu berdua mereka masuk hutan. Di dalam hutan itulah Jusuf melepas Kahar, dan membiarkannya menghilang.

Benarkah cerita itu? Sekali lagi, wallahualam.

Jusuf membawa mati cerita itu, bersama cerita lain yang juga menjadi kunci dalam sejarah republik ini: Supersemar.

Seperti Jusuf yang wafat di Makassar pada September 2004 lalu, Susana Corry van Stenus yang wafat di Parung Bingung, pagi tadi (Sabtu, 1/4) pun meninggalkan dunia fana ini dengan setumpuk cerita tentang sosok Kahar Muzakkar.[t]

Ikuti edisi lengkap kisah misteri Kahar Muzakkar ini:

Sakit Gula, “Kahar Muzakkar” Meninggal Dunia
Misteri Kahar Muzakkar
14 Bulan di Belantara, Ili Sadeli Menembak Kahar Tiga Kali
“Dia Bukan Kahar Muzakkar, Dia Orang Banjar”

Dan tulisan pembuka:
Sepenggal Kahar Muzakkar di Parung Bingung

About these ads