Perang Korea

Posted on April 30, 2003

36


TAHUN 1932, pemimpin spritual dan inspirator perjuangan rakyat Korea menghadapi kaum penjajah, Kim Il Sung meresmikan berdirinya Tentara Rakyat Korea atau Korean People’s Army (KPA). Sejak hari itu, perjuangan rakyat Korea mengusir Jepang yang sudah puluhan tahun menjajah mereka, semakin terorganisir dengan rapi dan baik.

Dari arah utara, arah selatan, arah barat dan arah timur, tentara Korea menggempur pasukan Dai Nippon. Perlawan dan gempuran KPA memberi sumbangan berarti pada melemahnya armada perang Jepang di seluruh dunia saat itu, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

Akhirnya, Agustus 1945 setelah dihajar Amerika Serikat dengan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mengaku kalah.

September 1945, Jepang mesti angkat kaki meninggalkan Semenanjung Korea untuk selama-lamanya. Tetapi, cerita damai belum lagi milik rakyat Korea. Jepang pergi, musuh baru tiba: Amerika Serikat. Menyusul kepergian pasukan Jepang, giliran Ribuan tentara Amerika merapat di pantai timur di selatan Korea. Katanya sih, mau melucuti pasukan Jepang. Tapi sebenarnya mereka ingin menjadi penguasa baru di Semenanjung Korea, sebelum Uni Soviet mendahului masuk Korea.

Perang Korea pun meledak tahun 1950. Sekali lagi, KPA memperlihatkan kekuatan mereka. Amerika menderita kerugian besar dalam perang yang berlangsung tiga tahun itu. Namun dengan lobi-lobi ala Yahudi dan pengaruhnya di PBB, Amerika tak sampai meninggalkan Semenanjung Korea. Mereka diperbolehkan memperpanjang kekuasaan mereka atas pemerintahan boneka yang telah mereka bentuk sebelumnya di bagian selatan Korea.

KPA adalah tentara rakyat, bukan tentara bayaran atau punggawa raja-raja. Loyalitas dan dedikasi KPA ditujukan pada keamanan dan keselamatan Korut. Tentara rakyat hanya mengabdi pada rakyat. Bukan melindungi para penjahat.

Tahun 1995, Kim Jong Il, pengganti Kim Il Sung, menerapkan kebijakan Kepemimpinan Revolusioner Songun. Inti dari kebijakan itu adalah menempatkan kekuatan militer sebagai prioritas utama negara. Fasilitas negara ditujukan pada pembangunan dan pengembangan kekuatan militer demi mempertahankan kedaulatan negara dari kaum penjajah, yang sampai kini tak henti menekan Korut. Kebijakan ini berhasil.

Tentara Korut memiliki keberanian luar biasa mereka. Setiap kali berpapasan dengan tentara Korea, saya selalu memaksakan diri menatap mata mereka. Saya menangkap semangat yang luar biasa di balik bola mata itu. Nyalang, tak kenal takut pada apapun.

Di Pyongyang, banyak gedung tinggi berpuluh-puluh lantai. Kalau Anda tanya, “Siapa yang membangun gedung itu?”, maka jawaban yang Anda terima, “Kami rakyat Korea dan tentara Korea.”[t]

Posted in: CATATAN, NORTH KOREA