1121
PERANG di Afghanistan sangat tidak sederhana. Konflik ini tidak dimulai ketika Amerika menjatuhkan ribuan bom dari pesawat B-52 dan melepaskan ribuan rudal dari USS Theodore Roosevelt di Laut Arab yang menghancurkan kota-kota penting Afghanistan, Kabul, Kandahar, Jalalabad, Mazar I Sharif dan Herat. Perang di Afghanistan punya kaitan konflik sejenis di seluruh kawasan Asia Tengah.

Orang Uzbekistan bisa saja cuek, tidak bereaksi sama sekali ketika negara tetangga mereka di selatan itu diserang oleh Amerika. Mereka pun boleh saja bersikap sebaliknya, memberikan simpati terhadap perjuangan orang-orang Aliansi Utara yang sebagian punya hubungan darah dengan mereka, suku Uzbek.

Tetapi satu hal juga jelas, orang Uzbekistan tidak bisa menutupi bahwa saat ini mereka berada dalam masa yang sangat genting setelah sepuluh tahun memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet. Jauh di dalam lubuk hati, mereka menyadari setiap saat bisa tergelincir masuk ke kancah peperangan. Namun, selama itu belum terjadi, hal terbaik yang dapat dilakukan menurut mereka mendukung kebijakan Presiden Islam Karimov, memberikan keleluasaan kepada pasukan Amerika untuk tidak hanya menggunakan koridor udara Uzbekistan, tetapi juga pangkalan militer mereka di Kanabad dan Termez.

Seorang kawan saya di Tashkent bercerita soal sebuah lembah bernama Ferghana. “Di Ferghana, orang-orang Islamnya taat bukan main. Tidak ada kemaksiatan seperti di Tashkent sini. Mereka tidak segan-segan sholat di pinggir jalan,” katanya.

Tadinya tidak banyak hal yang saya ketahui soal Lembah Ferghana. Ketika membuka-buka peta Uzbekistan sebelum memutuskan untuk berangkat ke sini, yang saya tahu Lembah Ferghana berada di bagian Selatan.

Setelah beberapa hari di Tashkent, saya baru mengetahui bahwa Lembah Ferghana ternyata tidak hanya dimiliki oleh Uzbekistan. Sebagian dari lembah ini dimiliki oleh Tajikistan, dan bagian lainnya dimiliki oleh

Kyrgystan. Di masa lampau Lembah Ferghana berada di bawah kekuasaan Imperium Kokand. Imperium ini meliputi wilayah Timur Uzbekistan, termasuk Tashkent, wilayah utara Tajikistan dan wilayah barat Kyrgystan saat ini. Imperium Kokand adalah imperium Islam kuno disamping Imperium Khiva dan Imperium Bukhara.

Saya kira tak usah heran bila Lembah Ferghana menjadi basis perlawanan orang-orang Islam fundamentalis yang punya cita-cita mengembalikan kejayaan imperium Islam. Itu tujuan jangka panjang. Sementara tujuan jangka pendek, melawan rejim-rejim sekuler di negara Asia Tengah yang baru merdeka sepuluh tahun terakhir ini, seperti di Tajikistan, Kyrgystan dan Uzbekistan.

Di Uzbekistan, sebuah kelompok Islam fundamentalis klandestein atau bawah tanah bernama Islam Movement of Uzbekistan (IMU) dikenal luas oleh masyarakat. Bulu kuduk para pendukung kebijakan sekuler Presiden Islam Karimov tentu berdiri mendengar nama kelompok ini. Tetapi warga Uzbekistan yang merindukan kembalinya tradisi Islam yang sempat jaya di masa lalu akan tersenyum getir sambil mengucap asma Allah berkali-kali di dalam hatinya.

IMU bukan kelompok Islam fundamentalis kemarin sore, yang muncul sebagai euphoria politik pasca Uni Zoviet. Bibit IMU sudah lahir puluhan tahun lalu, ketika penentangan terhadap rejim komunis Uni Zoviet mulai dikibarkan di Lembah Ferghana.

Salah seorang pemimpin IMU adalah Jumaboy Ahmadjonovich Khojiyev alias Juma Namangoniy. Tahun 1989 Jumaboy berada di Afghanistan melawan Uni Soviet. Secara pribadi Jumaboy memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Taliban dan Osama bin Laden. Ia dikejar-kejar pemerintah Uzbekistan dengan berbagai tuduhan aksi terorisme.

Jumaboy juga punya hubungan erat dengan United Tajik Opposition (UTO) yang dipimpin Sayed Abdullo Nuri. Presiden Emomali Rahmonov di Tajikistan gemas bukan kepalang menghadapi UTO. Setelah perang saudara antara tahun 1992 sampai 1997, kedua kelompok ini berdamai di Moskow. Salah satu butir perdamaian itu mengatakan UTO memperoleh 30 persen kursi di kabinet Presiden Rahmonov.

Februari 2001 lalu sebuah pemilu digelar di Tajikistan. Komposisi pemerintahan Tajikistan selanjutnya tergantung hasil pemilu. UTO memperoleh suara kurang dari 30. Namun pemerintahan Dhusanbe masih khawatir untuk tidak mengikutkan UTO dalam kabinet. Salah seorang pemimpin teras UTO, Mirzo Ziyo diangkat sebagai Menteri Darurat dan Pertahan Sipil. Nah, konon katanya, Jumaboy kawin dengan anak perempuan Mirzo.

Selain membantu UTO di Tajikistan, tahun lalu IMU juga menantang Presiden Kyrgystan, Askar Akayev. Sama seperti terhadap pemerintahan sekuler Uzbekistan, IMU juga menyatakan siap perang jihad menghadapi pemerintahan Askar.

Nah, informasi terakhir yang saya peroleh menyebutkan, saat ini Jumaboy ditempatkan sebagai salah seorang field commander atau komandan lapangan pasukan Taliban.

Disampaing itu aktivis IMU terus bergerilya di Uzbekistan. Mereka mengembangkan pengaruhnya ke tengah masyarakat. Mereka mengingatkan masyarakat bahwa Uzbekistan dipenuhi cerita kegemilangan dan keagungan Imperium Islam.[t]

About these ads